
"Kan jangan sampai orang tau, Dek." ia tersenyum begitu manis.
Aku menepuk pahanya, "Udah, sana kerja!" aku terlalu nyaman lama-lama bersamanya.
"Cium satu lagi. Abang kangen betul, lama tak cium pipi Adek." ia menarik pipiku, agar pipiku yang lain mudah ia k*cup.
Cup.....
"Udah sana!" aku menepuk pahanya kembali.
"Liatin di luar dulu. Nanti Abang keluar, kalau aman."
Aku mengangguk, kemudian segera berusaha membuka pintu kayu.
"Astaghfirullah...." aku langsung mengusap dadaku.
Manusia berhelm putih tengah geleng-geleng kepala, dengan menatapku tajam. Ia berdiri tegak di depan pintu tralis yang masih tertutup rapat.
"Kau umpetin bujang di rumah ya?" ia langsung menghakimiku.
"Mana ada!" aku mengelak langsung.
Aku melirik bang Ardi, ia malah terlihat santai dengan memainkan ponselnya. Apa ia tidak mendengar suara kakaknya itu?
"Halah!" Zuhdi seperti menyepelekan ucapanku.
"Awas!" ia malah mendorong tralis besi ini.
Aku mundur dua langkah, karena Zuhdi langsung masuk ke ruangan.
Plak...
__ADS_1
Zuhdi memukul kepala adiknya, dengan kertas yang cukup tebal itu. Entah kertas apa, Zuhdi datang sudah dengan gulungan kertas itu di tangannya.
"Aduh, Bang." bang Ardi meringis, dengan tertawa geli.
"Abang laporin ke geuchik juga kau!!!" Zuhdi memberi pelototan tajam pada adiknya.
Bang Ardi tertawa lepas, "Jangan lah, Bang." ia merebahkan tubuhnya di sofa, karena saking serongnya posisi punggungnya.
"Segala pintu kau tutup." Zuhdi melempar pandangan seramnya padaku.
"Bang Ardi yang nutup, Bang." aku beringsut dari posisiku.
"Halah!" ia menghadap adiknya lagi.
"Hai, Dek. Ceysa..." lanjut Zuhdi kemudian.
"Eum?" mata Ceysa begitu polos.
"Eum?" Ceysa malah melebarkan matanya begitu lucu.
Aku ragu, ia mengerti pertanyaan Zuhdi.
"Ahh, udahlah!" Zuhdi mengibaskan kertas itu di depan wajahnya.
"Ayo cepet! Berangkat!" Zuhdi menunjuk adiknya dengan kertas yang tergulung tersebut.
"Ayo, Bang." bang Ardi langsung meraih helm berwarna merah itu. Ia mengenakannya langsung, lalu mencolek pipi Ceysa.
"Abu berangkat kerja dulu ya?" ucapnya pada si kecil imut itu.
Ceysa mengangguk, ia mengulurkan tangan kanannya.
__ADS_1
"Oh, salim? Pintarnya ya kau, Nak?" ucap Zuhdi kemudian.
Ceysa mencium tangan bang Ardi. Lalu, ia mengulurkan tangannya lebih jauh ke arah Zuhdi.
"Sama Panda juga salim?" tanya Zuhdi dengan mendekati Ceysa.
Ia menganggukkan kepalanya, "Ti ya?" matanya begitu lucu.
"Okeh. Dadah, assalamualaikum..." Zuhdi melangkah keluar lebih dulu.
Bang Ardi berdadah ria pada Ceysa. Lalu ia melangkah cepat padaku. Ia bahkan menyempatkan diri untuk mencium pipiku, sebelum mengekori kakaknya itu.
Pusing sudah aku, jika dihadapkan oleh bujang yang satu ini.
Aku memilih untuk segera menutup tralis besi. Kemudian menyapu-nyapu sebentar, sebelum membuka rolling door.
Setelah cek Iyak datang, untuk menjaga toko. Aku mengajak Ceysa untuk main ke rumah Giska. Aku bosan, di sini begitu sepi.
Perjalanan lima belas menit, sampailah aku di rumah yang begitu mirip dengan museum rumah antik. Dengan warna kayu yang diplamir mengkilap, rumah sederhana itu terlihat begitu mewah.
"Wah...." Hadi menunjuk kami dengan tawa lepasnya.
Ia bertepuk tangan, "Eunces, main." ia terlihat begitu girang.
Masih untung disebutnya Eunces, bukan Eces seperti yang sering Ria sebutkan.
Giska muncul dari dalam rumah. Ia begitu santainya keluar dari rumah dengan rambut berwarna light green, dengan kombinasi warna hitam itu. Giska memiliki dua layer warna, pada rambutnya.
"Nah, gitu dong. Main." sapanya ramah.
...****************...
__ADS_1
Aman gak nih episode hari ini 😌