
"Canda... Hei... Denger gak?!" kak Anisa menggoyang lenganku.
"Ehh, gimana Kak? Maaf, aku fokus ke Chandra aja."
Padahal, Chandra anteng menyusun beberapa majalah yang ada di jangkauannya saja. Anak itu suka beraktivitas menumpukan mainan. Di rumah pun, ia suka sekali bermain balok susun. Menurut mamah Dinda, ayahnya Chandra pun sedari kecil selalu mengantongi balok susun. Mainan yang selalu dibelinya, yang selalu ditambahkan jumlahnya setiap minggu di toko mainan. Ya hanya balok susun, tak pernah ketinggalan. Mas Givan kecil selalu membelinya lagi dan lagi.
"Mau gak makan? Aku udah masak, bang Dendi request masakan kesukaannya." ujarnya kemudian.
"Aku udah makan, Kak. Oh, iya. Malam nanti disuruh nginep di rumah. Mamah punya acara, biasa bakar-bakaran gitu. Udah kegiatan rutin, apa lagi sekarang malam minggu."
Meski papah Adi memiliki riwayat hipertensi keturunan. Tapi beliau penggemar berat sate kambing muda. Pasti kambing muda diolahnya, untuk meramaikan acara begadang nanti malam.
Mereka yang baru datang dari Brasil, masih acak-acakan jam tidurnya. Ibu pun jam dua malam baru masuk ke kamar. Aku tidur bersama ibu semalam. Sedangkan Ria tidur bersama anak-anak. Ria lebih sering tidur asal, itu yang ibu khawatirkan. Apa lagi, di rumah megah itu banyak laki-laki. Ibu khawatir, Ria mengundang syahwat mereka.
"Iya, tuh bang Dendi juga udah chat. Mungkin bang Dendi dikasih tau sama Ghava." ia menunjukkan layar ponselnya.
"Datang ya, Kak. Ikut ramai-ramai di sana." mataku tiba-tiba sudah berat saja.
Dari selesai sarapan aku sudah menahan, agak tidak tertidur. Karena pasti mamah Dinda memarahiku. Ia tidak suka dengan penghuni rumah yang tidur di waktu pagi, apa lagi setelah sarapan.
"Insya Allah deh. Kamu kan tau, kalau di Jawa pamali bumil malam-malam masih di luar?"
Aku paham, anak pertama pasti penuh kehati-hatian. Bukan aku yang mengatakan, melainkan mamah Dinda.
Mamah Dinda tidak pernah melarang menantu maupun anaknya yang tengah hamil untuk pergi-pergian, atau memaksa menggunakan jimat seperti gunting kuku. Mamah Dinda tidak pernah sama sekali melarang, hingga mulut tetangga sampai ke telinga.
Tetangga mengatakan, bahwa mamah Dinda tidak sayang anak maupun menantunya yang tengah hamil. Sampai-sampai, ia tak pernah memberi larangan apapun untuk kebaikan wanita hamil.
Bukan hanya mulut tetangga yang akhirnya bungkam, aku pun akhirnya tak pernah bertanya macam-macam lagi perihal apa aku boleh memakan ini dan itu atau berpergian.
Mamah Dinda menjawab, pantangan hanya berlaku untuk anak pertama. Kekhawatiran berlebihan, hanya berlaku untuk anak pertama. Nyatanya, yang dijaga baik-baik akan gampang sakit dan memiliki banyak masalah kehamilan ketimbang yang dibebaskan. Logikanya, mereka stress di rumah. Ingin keluar, tapi takut pantangan dan khawatir pada janin mereka. Jadi stress itu membuat tubuh menjadi sakit.
Ibu baru akan kalap, jika anak mereka susah makan. Tapi, setelah ibu baru tersebut memiliki anak lain dan semakin bertambah jumlah anaknya. Mereka paham, ada siklus di mana anak sulit makan dan na*su makan. Itu bukan masalah, tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Mertua yang moderen sekali. Sayangnya, mulut tetangga selalu mengusik ketenangan.
Menurutku, orang seperti mamah Dinda ini seribu satu. Pola pikirnya tidak dimiliki oleh semua orang. Unik dan anti mainstream. Tapi jika dipahami lebih lanjut, memang maksudnya baik. Aku selalu merasa bodoh, jika sudah dihadapkan dengan beliau.
__ADS_1
"Aman aja, Kak. Yang penting Kakak hati-hati aja." ini adalah jawaban mamah Dinda, ketika aku ingin jalan-jalan naik motor.
"Percuma juga ikut bakaran. Nanti pasti disuruh sama mamah Dinda buat di dalam aja, karena lagi hamil." raut wajah kak Anisa terlihat psimis.
"Tak juga. Aku dulu hamil, masih bisa ikut bakaran. Aku bisa ngipas-ngipasin, ngecapin, makan langsung setelah matang. Uhmmm, enak betul rasanya. Mamah Dinda tak pernah ngelarang ini itu. Yang penting hati-hati. Jangan lari-larian, contohnya. Jangan main di tempat yang licin, jangan loncat-loncatan juga." ungkapku dengan menekuk jariku saat menyebutkan satu persatu contohnya.
"Dikiranya aku anak kecil." suara kak Anisa seperti menggerutu.
Aku tertawa lepas, "Mamah Dinda tak punya pantangan. Makan nanas aja boleh, yang penting nanasnya manis." terangku kemudian, agar kak Anisa mau untuk menginap.
"Masa iya ada orang tua yang gak kolot gitu?" kak Anisa seperti tidak percaya.
"Ada, tuh buktinya. Papah Adi mungkin agak kolot. Kalau aku jalan-jalan naik motor, harus pakai korset hamil buat penyangga perut biar tak keguncang. Wajib makan banyak, olahraga ringan. Terus, jangan tidur aja. Itu papah Adi tuh yang suka bawel." aku teringat akan gerutuan beliau ketika aku hamil Chandra.
"Ada jimat-jimatan gak? Bambu kuning gitu? Atau apa?" tanya kak Anisa kemudian.
"Tak ada. Paling suruh sholat, ngaji bareng-bareng kadang-kadang."
Kak Anisa manggut-manggut, "Nanti aku obrolin lagi deh sama bang Dendi. Aku takut sendiri masalahnya."
Aku menyentuh lengannya, "Tak usah terlalu khawatir. Nanti malah janinnya kenapa-kenapa, karena kita terlampau khawatir sampai mikirin. Pokoknya jangan mikirin ini tak boleh, itu tak boleh. Hamil itu biasa aja, Kak. Tak punya larangan apapun, yang penting hidup hati-hati aja, soalnya kita bawa nyawa di perut."
Ya ampun, penginapan di belakang rumah megah dibilangnya takut di jalan.
"Aku dulu hamil, sering pasar maleman setelah maghrib sama mamah Dinda. Tak apa, aman aja. Tuh janinnya sekarang udah bisa baca majalah." aku menunjuk keturunanku dengan daguku.
Ada pak guru kecil, yang tengah melihat-lihat gambar di halaman majalah. Ia anteng sekali. Tidak berlarian seperti di rumah.
Kami tertawa bersama, melihat Chandra yang begitu menggemaskan.
Setelah berkunjung ke tempat kak Anisa, aku langsung memutuskan untuk kembali ke rumah. Biar saja Ahya dikabari mamah Dinda lewat telepon saja. Aku sudah tidak tahan menahan kantuk. Chandra pun sudah mengucek matanya beberapa kali. Rengekan es susu formula sudah dilafalkannya beberapa kali.
"Yung... Yes cucu." ia mengalunkan kalimat itu lagi.
"Iya, Nak. Nih, kan udah sampai di rumah." aku sudah menginjak teras rumah ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang.
__ADS_1
Saat memasuki rumah, aku bisa melihat mas Givan yang duduk di sofa ruang tamu dengan mengacak-acak rambutnya. Ia terlihat banyak beban pikiran.
"Yah..." sapa Chandra ketika kami melewatinya.
"Hei, Bang. Dari mana, Nak?" sahut mas Givan, ia seperti kaget saat mendengar sapaan Chandra.
"Dari main." jawabku kemudian.
"Buk.... Yes cucu." tangis Chandra pecah, saat melihat ibu keluar dari dapur.
Aku baru tahu, ternyata Chandra memanggil neneknya sendiri dengan sebutan ibuk. Pasti Chandra hanya ikut-ikutan. Aku jadi ingin mengajari Chandra untuk memanggil ibu seperti nenek, atau mbah.
"Aduh, haus ya Bang?" ibu mengambil alih Chandra.
"Biar aku buatkan, Bu. Kek mana caranya bikin es susu Chandra?" aku mendahului ibu, untuk berjalan ke dapur.
"Biar Ibu. Kamu makan aja dulu." suara ibu berada di belakangku.
"Kenyang, tadi udah jajan. Aku merem sebentar aja, Bu. Udah berat betul ini mata." dengan tidak sopannya, aku berbicara sembari menguap.
"Biyung... Sini!" teriakkan gadis kebanggaan mas Givan berasal dari ruang keluarga.
"Biar Ibu yang bikin. Temenin dulu Key, Ria lagi makan di atas sambil jaga yang lain. Key udah ngantuk kayanya. Udah lagi ngedot."
Aku hanya mengangguk, lalu aku meninggalkan area dapur.
"Kenapa, Key?" aku langsung merebahkan tubuhku di sampingnya.
Key tengah aktif mengedot, dengan televisi yang menayangkan film kartun.
"Bobo, Biyung. Di atas berisik." ia menarik kaosnya, hingga perutnya terlihat jelas.
"Usap-usap, Biyung." ia memunggungiku.
Aku sudah hafal, ia ingin diusap punggungnya. Itu kebiasaan Key, ketika ingin tidur.
Aku mulai mengusap punggung Key. Sampai tak terasa, aku yang malah mendapat rasa nyaman hingga pulas.
__ADS_1
...****************...
Slow 😉