Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD155. Mencoba cara papah Adi


__ADS_3

"Mamah Dinda sama suaminya aja pakai. Gak apa kali, Dek. Kalau dipakainya sama pasangan resmi sih." terang bang Daeng kemudian.


Tawa lepas dari ponsel, membuat kami mengalihkan perhatian kami kembali. Entah sampai mana pembahasan mamah Dinda tadi, karena aku dan bang Daeng sempat mengobrol sejenak tadi.


"Memang nyiksa begitu, Kak?" tanya host bertopi kupluk.


"Entah itu kepuasannya, atau memang caranya begitu." wajah mamah Dinda terlihat cemberut.


"Kepuasannya memang begitu, Dek." tambah papah Adi dengan mencolek dagu mamah Dinda.


"Gimana tadi, Bang? Aku perlu belajar nih." host bertopi kupluk terlihat begitu semangat.


"Ngobrol, biar mood bagus. Kalau Dek Dinda, biasanya di checkout dulu keranjang belanjaanya. Udah itu, langsung good mood."


Mamah Dinda menutup wajahnya malu. Bang Daeng sampai memamerkan giginya, ia terlihat begitu senang melihat pembahasan tentang mamah Dinda.


"Terus... Barulah dibujuk. Kalau aku sih pesan dari awal. Jadi misalkan fix jadi gitu, aku langsung bilang nanti lepas subuh diulang. Kalau nolak, aku sogok lagi pakai pasar malem."


Mamah Dinda memukuli lengan papah Adi secara acak. Host pun menahan tawanya, mungkin mereka takut jika tertawa lepas.


"Terus, terus Bang?" tambah host berkacamata.


"Terus anak-anak yang kecil suruh tidur lebih cepat. Kalau susah ya, paling dititipin ke abang-abangnya. Barulah bawa masuk maknya, kunci pintu, matikan lampu, nyalain lampu tidur, beraksi deh."


"Step by step ya, Bang? Aku pengen tau cara mainnya, bukan proses masuk kamarnya." host bertopi kupluk menyuarakan protesnya.


Papah Adi tertawa lepas, ia menutup mulutnya sendiri dengan tangannya.


"Kocak sih papah." komentar bang Daeng yang masih mempelototi video tersebut.


"Pelan, jangan masukin semua. Sepertiga batang kita lah, terus kek gitu terus. Lutut istri kita tekan, sudut seratus delapan puluh derajat lah. Kalau tak nyaman posisinya, kaki istri kita kek bentuk huruf M gitu. Perempuan yang hamil, ataupun montok juga aku saranin kek huruf M aja. Terus gesekin pelan aja sampai pintu tapi jangan tercabut. Minimal dia nangis tuh, kalau udah lima menit kek gitu aja."


"Dodol!" mamah Dinda mencubit perut suaminya.


Papah Adi tertawa lepas, lalu menatap kedua host tersebut.


"Aturan yang diundang aku aja." ungkap papah Adi, yang membuat tawa tak tertahankan.


"Tapi aku yang tak yakin tahan, Bang. Pas kita tarik kan, kek jangan-jangan gitu. Kuat betul batang kita dih*sap sarangnya, sampai sarang itu kek terbawa tertarik sama kita saking kuatnya nyengkram." tambah host bertopi kupluk.


"Ya Allah, Ma, Abu. Aku minta nikah, Ma." host berkacamata melepas kacamata, lalu ia menggosok matanya seolah tengah menangis.


"Memang begitu ya, Bang? Serem betul, masa kek tercabut punya perempuannya?" mamah Dinda memegangi tangan papah Adi, ia fokus pada suaminya.

__ADS_1


Papah Adi mengangguk samar, "Memang kek gitu. Kan nyengkram kuat, jadi kek tak rela pas kita tarik tuh. Nanti deh divideoin." jawaban papah Adi terdengar jelas.


Host bertopi kupluk sampai melepaskan topinya, lalu memukul-mukulkannya ke kursi yang menjadi tempat duduknya.


"Maaaa, tolong mintain videonya." teriak host berkacamata.


Aku dan bang Daeng sampai terbatuk-batuk, saking lepasnya tawa. Ya Allah, ada-ada saja gurauan mereka ini.


"Tapi serius loh ini. Sok, boleh dicoba dengan pasangan halal." papah Adi menunjuk dan fokus ke arah kamera yang mengambil gambarnya. Karena terlihat jelas, bahwa papah Adi memandang lurus ke layar yang menampilkan gambar pada kami ini.


"Nah, kalau kita yang tak tahan. Itu jalan keluarnya gimana, selain di keluarkan?" host bertopi kupluk sudah memakai kembali topinya. Ia begitu berambisi, untuk mendapatkan ilmu dewasa ini dari papah Adi.


"Kita cabut, ganti posisi. Kan otomatis ada jeda tuh, jadi kita bisa lebih rileks sejenak."


Papah Adi yang menjawab. Namun, bang Daeng yang manggut-manggut mengerti.


"Coba yuk, Dek." bang Daeng langsung mematikan layar ponselnya, lalu ia memandangku penuh harap.


Alhamdulillah, setidaknya bang Daeng melupakan perihal Ghifar tadi.


"Gimana yaaa????" aku menempatkan jariku di dagu. Aku berpura-pura seolah tengah berpikir keras.


"Sabi lah." bang Daeng langsung menerjangku.


"Kek mamah Dinda sama papah Adi coba, Bang. Malam main, subuh ngajakin." aku membingkai wajahnya.


Ia sudah ada di atas tubuhku.


"Adek ada mulut. Ngomong, minta. Abang sengaja gak ngajak, biar Adek dapat tiket surga. Abang sih tahan-tahan aja satu bulan gak main pun, Adeknya gimana? Itu yang Abang pikirkan. Abang juga mikir, dosa nih terlalu lama gak ngasih nafkah batin. Tapi rasa-rasanya, Adek kek tak menggebu-gebu sama Abang tuh. Bukan Abang pengen perempuan yang agresif. Tapi Abang suka, kalau Adek berani minta haknya. Adek ini istri Abang, berusaha menuntut hak Adek aja masa Adek gak mampu? Gimana kalau nanti Abang diambil orang lain? Gak mampu juga kah rebut baliknya?" tangannya membelai pelipisku.


"Sebelumnya memang aku tak pernah minta. Aku kaku, aku malu Bang." jujurku kemudian.


"Ngapain malu? Bahkan k*malu*n Adek pun Abang udah tau."


Aku bisa merasakan salah satu tangannya tengah berusaha membuka pakaianku. Bang Daeng sepertinya benar-benar ingin mencoba ilmunya papah Adi.


"Mulut aku kek kaku buat bilang, Bang aku pengen gitu tuh." terangku kemudian.


"Gak usah ngomong, Adek langsung naikin Abang aja." aku tertawa geli mendengar jawabannya.


Ternyata bang Daeng benar-benar melakukan sesuai saran papah Adi. Untungnya aku belum haid, mungkin hanya noda kelelahan saja yang terdapat di celana.


Jadi seperti ini, penyiksaan yang mamah Dinda rasakan dari suaminya. Pantas saja beliau betah bersama papah Adi. Seperti ini rasanya terbang ke awan dan meraih bintang.

__ADS_1


"Udah, Bang." aku menahan laju pinggulnya.


"Abang kuat lama kalau kek gini. Sabar, Sayang. Abang pengen puasin Adek." ia melepaskan tanganku dari pinggulnya.


Ia menekan kembali lututku, membuatku semakin melesat jauh ke dalam kenikmatan ini. Aku takut gila dengan rasa candu ini. Ini benar-benar enak sekali.


Tidak ada rasa yang sebanding, dengan yang pernah aku rasakan. Tidak ada makanan selezat ini, tidak ada rasa kenyang yang sepenuh ini.


"Abang...." suaraku sampai serak.


Ia tersenyum genit, dengan mengedipkan sebelah matanya. Bang Daeng masih terlihat rileks, ia tidak gelagapan seperti biasanya.


"Aku mau mati rasanya, Bang." aku begitu pasrah padanya.


Ia meluruskan kakiku, entah apa yang diinginkannya lagi. Namun, aku berharap ia akan segera selesai.


"D*ggy, Sayang." ia meringis kuda.


"Aku udah lemas betul, Abang." aku mencoba tengkurap dari posisiku.


"Sini Abang bantu." ia menarik pinggangku.


"Berapa tadi Adek keluar?" ia menempatkan sebuah bantal di bawah perutku, dengan posisiku yang seperti merangkak ini.


"Satu." aku mencoba rileks. Aku menurunkan sikuki, saat pinggangku mulai ia tekan.


Lalu ia memperlebar kakiku, "Mana ada! Adek tadi udah ada tiga kali klimaksnya."


"Aku udah hilang waras, Abang malah cabut. Aku kek orang gila kurang setan. Sampai ingusan aku." rengekku dengan merasakan intinya yang mulai bekerja lagi.


Ia malah terkekeh, dengan menarik bahuku ke belakang.


"Sabar, rileks. Gak usah sampai nangis gitu dong. Tenang, lagi dipuasin." dengan santainya ia mengatakan hal itu.


Tok, tok, tok....


"Bang Lendra... Bang......


Mataku melebar sempurna, kemudian aku langsung menoleh ke belakang. Terlihat......


...****************...


Langsung bad mood. Rasa pengen hilang, buyar, mesti dari awal lagi. Beuh, kesel aku kalau digangguin 😌

__ADS_1


__ADS_2