
"Nanti ya di kamar aja. Sampai rumah nanti, aku mau beresin oleh-oleh dulu. Terus mau jemput Chandra. Jam anak-anak tidur siang aja deh."
Aku sudah pengalaman.
Jam Ceysa tidur siang saat di Sabang saja, ia membolak-balikkan aku. Sampai-sampai, aku dipaksanya untuk bisa kl*maks.
Karena memang empat harian kemarin aku rutin berhubungan. Aku sama sekali belum pernah mendapatkan kl*maksku. Aku sulit sekali untuk bisa org*sme. Entah di mana titik masalahnya.
"Buba, Yah." Ceysa tahu saja ada pedagang boba di sana.
"Es krim aja, nanti ambil di rumah." sahut mas Givan.
Es krim di rumah?
"Di rumah siapa, Mas?" tanyaku kemudian.
"Ruko Chandra, ada box es krim di sana."
Tepuk jidat.
"Buat jualan, Mas." rasanya kerongkonganku begitu lega karena berbicara sedikit ngegas.
Ia terkekeh, "Ya Gue mampu beli gitu loh. Ada masalah apa sih Loe?"
Coba aku yang menggunakan logat itu, pasti kentara sekali dari kampung.
"Tak ada!" ringkasku cepat.
Selang waktu sekian jam, kini mas Givan tengah mengeluarkan jurusnya. Apalagi kalau bukan bujuk rayu.
"Mie ayam bakso ceker, mantap loh. Nanti sore kita makan itu di luar. Ok tak?" ia masih mengusap-usap lenganku dari arah belakang.
Aku baru saja sukses menidurkan Ceysa di siang hari ini. Aku memeluk Ceysa dari belakang, tetapi di belakang tubuhku ada mas Givan yang sedari tadi mengusap-usap lenganku sampai ke pinggulku.
"Terus terang aja mau apa?" tukasku lirih.
"Suami kau ini berniat ngeluarin yang udah memuncak itu loh. Kasian, udah empat harian ditumpuk terus. Mikirin bang Daeng terus sih ya? Jadi susah kl*maks." ia berbicara di belakang leherku. Hembusan nafasnya begitu mengusik minatku.
__ADS_1
"Tak mikirin juga, Mas. Untuk sekarang kan, aku cuma bisa kirim doa buat dia. Berharap dia dapat tempat terbaik, tenang di sisi-Nya, karena anak-anaknya diurus dan dijaga orang-orang baik." aku membalikan arah tubuhku.
Kini, mata kami saling memandang.
Tangannya terulur, membelai wajahku. Wajah tampannya, menyunggingkan senyum samar. Yang mampu menawarkan ketenangan pada siapapun yang memandang.
"Kau perlu tau, Canda. Jangankan sama anak orang, sama anak sendiri aja aku galak. Apalagi, kalau aku dalam mode tak mau diganggu. Maaf, kalau suatu saat tak sebaik sekarang bersikap ke anak-anak ataupun ke Ceysa. Bukan aku membedakan. Tapi jujur, rasanya anak sendiri dan anak orang itu beda. Aku, cuma terbiasa dengan kehadiran Ceysa. Masalah menganggap anak, kau bisa simpulkan sendiri. Keponakan sendiri pun, aku anggap keturunan aku juga. Tapi kau yang paham tentang sikap dan watak aku. Aku tak mau kelak kau berpikir, atau tersinggung dengan sikap aku ke Ceysa."
Bisakah aku mengatakan ini tentang Key dan Zio? Bisakah aku mengatakan ini tentang Jasmine juga?
Itu tidak mungkin aku katakan. Karena aku ibu mereka, karena aku panutan anak-anak itu. Beginilah ibu sambung, tidak dengan ayah sambung.
"Jangan nangis." ia mengusap pojok mataku dengan ibu jarinya.
"Bisa aku ngomong, kalau aku berat nerima Key? Bisa aku terus terang, kalau Zio kadang bikin nyesek hati aku." suaraku bergetar.
Aku memang cengeng.
"Aku tau, meski kau cuma pura-pura. Kau takut aku marahi, makanya berat hati mau tunaikan tugas dan kewajiban kau sebagai seorang ibu. Aku paham, beratnya bangun tengah malah buat bikinin sufor untuk anak kandung. Itu anak kandung, kita berat betul ngelakuinnya. Apalagi, kalau anak sambung. Jelas-jelas anak orang lain. Kan gitu kasarnya."
"Kau udah terbiasa dengan mereka. Aku pun udah terbiasa dengan Ceysa. Kita cuma perlu membiasakan, karena menerima itu sulit. Aku tak pernah ingin Zio sama ibu, aku tau Zio luka buat kau. Tapi tak ada pilihan lain. Di satu sisi, aku tak tega liat perekonomian keluarga kau. Di sisi lain, ibu yang minta sendiri untuk ngurus Zio. Tapi kan, sekarang kau udah terbiasa sama Zio kan?
Aku mengangguk membenarkan, "Zio kek bagian dari keluarga aku." seperti itulah yang aku rasakan.
"Ya, Key pun pasti sama. Makanya kenapa, sekarang aku tak minta kau urus mereka semua. Alasan pertama, karena aku tak yakin sama kau. Kau letoy!"
Hah?
Namun, mas Givan malah tertawa geli.
"Yang kedua, karena mereka anak sambung kau. Anak kandung kau aja, kau terlantarkan demi jualan seblak. Apalagi anak orang kan?"
Aku mengerutkan keningku, "Jadi Mas tak percaya sama aku?!"
Ia menyatukan dahi kami, hembusan nafasnya menerpa wajahku.
"Percaya. Masalahnya, mampu tak handle empat anak sendirian? Kau tau kan, kalau aku sibuk kerja. Begini-begini, cuma karena lagi pengantin baru aja. Entah kan kalau pengantin lama, kek mana ceritanya."
__ADS_1
Ucapannya suka betul.
Aku menaruh telapak tanganku di pipinya, dengan jemariku menarik sedikit rambutnya di bagian pelipis. Sayangnya, hal itu membuatnya tertawa geli. Bukannya kesakitan atau bagaimana.
"Aku ngomongin fakta dan pengalaman, Canda. Yaaa... Semoga aja kedepannya kita tak kek kemarin. Kita harus terus perbaiki komunikasi kita, biar tali rumah tangga kita tak lepas lagi. Aku udah coba ngertiin kau, ngertiin sifat kau. Sekarang, timbal balik kau bagaimana? Apa akan terus terngiang-ngiang dengan Ghifar lagi kah? Atau bayang-bayang Lendra kah? Kan itu pilihan khayalan kau. Kau milih ngehayalin siapa? Atau mau ngehayalin suami sendiri? Yang jelas tiket surga buat kau." jemarinya malah membersihkan kotoran mataku.
"Untuk sekarang, bukan aku ngehayalin orang. Terus bikin aku susah kl*maks pas main sama Mas. Aku ngerasa...." aku menimbang-nimbang untuk mengatakannya.
"Ngerasa apa?"
Aku menggulirkan netraku ke arah netra hitam itu. Bola matanya hitam, tidak coklat tua seperti Ghifar atau bang Daeng. Mungkin, karena kulitnya yang berwarna kuning cerah. Jika bola matanya berwarna coklat, mas Givan akan terlalu mencolok dengan keindahan dalam rupanya.
"Aku ngerasa skill Mas kurang jago."
Alisnya naik sebelah, "Kau nantangin? Mentang-mentang bisa pargoy, bisa nge*pot, segala bawa-bawa skill."
Aku tertawa kecil, "Aku cuma punya ilmu dasar. Bukan nantangin, aku udah tau Mas bakal kek gini kek gitu. Jadi kek, udah ketebak gitu rasanya."
Kelopak matanya langsung mekar sempurna.
"Kau tebak nih ya rasa apa? Segala bawa-bawa rasa. Lancang!" ia bangkit dengan wajah tegasnya.
Apa ia marah!
Wow, wow....
Mas Givan menarik ikat pinggangnya yang tergantung di kastok. Kemudian menarik kedua tanganku, lalu membawanya ke atas kepalaku.
Ia mengikat pergelangan tanganku yang ia satukan pada kepala ranjang. Tidak sampai di situ saja, dasi resmi berwarna coklat tua yang ia ambil dari kastok baju, digunakannya untuk menutup mataku bagai tengah mengikuti lomba perayaan tujuh belas Agustusan.
"Awas aja kau ya! Aku tandain sampai ke jidat kau ya! Nangis-nangis pun, aku bakal berhenti."
...****************...
Ayah Givan, apa author boleh ikut serta dalam lomba? Author nomor dua ya, Yah? Author setelah Canda ya, Yah?
Ayo, yang lain list antrian dulu dari sekarang. Keburu slot penuh. Kapan lagi coba? 🤗
__ADS_1