Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD252. Ingin ke nenek


__ADS_3

Aku tertawa lepas dalam hati.


Raka memberiku banyak makanan, dengan keringat yang membasahi kepalanya. Ia pasti lelah, mengantri ini dan itu.


Biar saja, biar ia lelah meladeniku.


"Ajak Raka makan siang dulu, Ndhuk." ujar ibuku, saat Raka hendak berpamitan.


"Boleh....."


Aku cepat-cepat memangkas ucapannya, "Raka buru-buru, Bu. Biar dia makan di rumahnya nanti."


Terlihat ia memandangku beberapa detik. Ia pasti merasa heran, dengan ucapanku barusan.


"Aku pamit dulu."


"Ya, ati-ati."


Raka mencium tangan ibu, lalu ia kembali ke mobilnya. Beberapa saat kemudian, mobil itu berjalan, dengan membunyikan klakson satu kali.


"Sok dimakan, Bu. Aku mau nitipin Chandra dulu. Ceysa sama Ibu, atau aku bawa?" aku memindahkan beberapa plastik berisikan makanan ini.


"Bawa aja sana! Nitipin, alesan! Bilang aja mau ngadu, karena gak cocok sama yang ini." ibu berbicara seperti nada menyindir.


Aku cengengesan, "Bukan tak cocok, Bu. Masa iya, aku diminta ngasih minimal sepuluh keturunan buat dia." aku mengadu pada ibu lebih dulu.


"Hah?" pandangan ibu tidak biasa, "Dia punya pesugihan kah? Pengen stok anak banyak, biar tumbalnya aman."


Beginilah pemikiran ibuku.


Jika tidak pesugihan, pasti berpikir tentang ketempelan, sawan, jimat, wiridan.


"Bisa jadi, Bu. Makanya mau aku tanyakan dulu ke mamah Dinda." aku berucap sembari berjalan pergi.


Chandra berjalan, dengan menggandeng tangan kananku. Sedangkan Ceysa, ia nemplok dalam dekapan tangan kiriku.


"Hai, Jagoan. Mau ke mana?" sapa bang Dendi, dari teras studio.


"Biyung, mau mana?" Chandra mendongak menatapku.


"Ke nenek. Kita mau ke rumah nenek, Pak cek." aku berkata perlahan, agar Chandra bisa mengikuti.


"Mau nenek, Cek." Chandra mengulangi ucapanku.


"Ihh... Cek, Cek, Cek. Pak cek gitu." seru bang Dendi dengan tawanya.


Aku hanya tertawa, kemudian melanjutkan langkah kakiku.


Kak Anisa kini memiliki rumah sendiri, di perumahan subsidi yang terletak di dekat terminal. Tidak dekat dari sini, tapi tidak jauh juga.

__ADS_1


Anak mereka bernama Clareta Yasmine, biasa dipanggil Rere. Ia seumuran Ceysa, tetapi tubuhnya begitu gempal.


Jika menyebutkan nama panjang Rere, aku teringat akan anaknya Putri. Nama Rere, mirip dengan nama Jasmine. Rere, Clareta Yasmine. Jasmine, Sahia Putri Jasmine.


Jaman tambah modern, nama anak sudah seperti nama orang luar.


"Mah....." aku langsung melepaskan suaraku.


"Mamah lagi nyuapin aku Kak Ducky." jawab Gibran, yang tengah membawa potongan pipa dan bantal sofa.


"Ayo, Bang?" Gibran melangkah masuk ke ruangan tengah.


"Hei... Dibilang jangan main pukul-pukulan! Kalian Mamah pukul nanti!!!" bentak mamah Dinda dari dapur.


Ternyata, Gavin sudah bersiap dengan bantal sofa dan sapu ruangan. Anak-anak ini, betul-betul.


"Makan dulu coba, Dek. Diamuk Mamah, baru tau rasa loh!" aku merangkul bocah dua belas tahun ini.


Gavin tumbuh berurat masam, seperti Ghava. Mulutnya pun alot, seperti mas Givan. Ia masih latah memanggilku kakak ipar. Mungkin yang ia tahu, aku masih kakak iparnya. Entah lingkungannya memang tak memberitahu, bahwa aku bukan lagi kakak iparnya.


"Itu Gibran duluan, Kakak ipar." Gavin menunjuk adiknya dengan sapunya.


"Sini-sini! Kakak simpan tongkatnya. Sana main sama Chandra aja nih." aku merampas sapu dan potongan pipa yang cukup panjang tersebut. Lalu aku meletakkannya di dekat pintu samping.


"Ayo, Adek." Gibran langsung melambaikan tangannya, agar Chandra mengikutinya.


Di kamar Gavin dan Gibran, banyak sekali mainan yang sudah diupgrade sesuai usianya. Kamar mereka, memang menyatu dengan ruang bermain.


"Mam belum, Dek? Nenek masak sayur asem tuh, gih mam." mamah Dinda mengambil alih Ceysa dariku.


Ceysa geleng-geleng, ia memilih turun lalu menyusuri ruangan.


Brugh, brugh, brughhhh.


"Tek....." Ceysa baru memiliki sedikit kosa kata.


"Di ladang, Dek. Kakek belum pulang." sahut mamah Dinda.


Ceysa dekat dengan papah Adi. Namun, tidak dengan Zio.


Pernah sekali mamah Dinda meminta Zio tinggal di rumah mereka saja, karena omongan tetangga. Banyak dari mereka mengatakan, bahwa aku ini tidak pantas tinggal bersama Zio, apa lagi mengasuh anak dari selingkuhan suamiku dulu.


Sejujurnya, aku sudah biasa saja. Aku tidak keberatan. Toh, Zio hanyalah anak-anak. Ia tidak mengerti kesalahan apa, yang menyelimuti ceritanya.


Hanya saja, mamah Dinda termakan omongan tetangga. Hingga ia bersikukuh, untuk memboyong Zio ke rumah bersama ibu sekalian.


Namun, papah Adi menentang keras. Ia sampai mengatakan, bahwa ia memang tidak suka dengan Fira, tapi Key tidak tahu apa-apa. Ditambah lagi, kejadian Fira hamil adalah sebelum mas Givan menikah denganku. Tapi, lain halnya dengan Zio. Papah Adi menganggap, bahwa Zio adalah kerusakan pribadi anaknya. Dengan terbukti hadirnya Zio, ia malah terus teringat bahwa ia gagal mengarahkan mas Givan menjadi suami yang baik.


Pemikiran orang beda-beda. Papah Adi memang terlalu kolot.

__ADS_1


"Yah..." Ceysa kini menggedor-gedor pintu kamar mas Givan.


"Nanti sore datang, Nak. Yayah pagi udah telpon, katanya ambil penerbangan buat nengokin bang Chandra sama Adek Ceysa." ungkap mamah Dinda.


"Betul kah, Mah?"


Mamah Dinda langsung mengangguk cepat.


"Bilang tuh, Mah. Aku minta oleh-oleh." tukasku penuh harap.


Mamah Dinda menepuk pahaku, "Oleh-oleh terus. Uang aja mintanya, terus sana nanti shopping sendiri."


Aku terkekeh geli, kemudian menyalakan televisi.


"Mah, tadi aku abis ke rumah Raka. Aku baru tau, ternyata dia punya asrama anak yatim-piatu gitu." aku sudah curhat saja.


"Terus?" mamah Dinda sepertinya sudah mengetahui perihal asrama.


"Mamahnya sama Raka, minta keturunan minimal sepuluh dari aku."


Mamah Dinda melotot tak berkedip. Ia memutar lehernya, bagikan besi yang tidak dilumasi oli.


"Kok begitu?" alisnya naik sebelah.


"Beliau ngerasa kesepian, Mah."


"Tapi tak kek gitu juga. Pantes aja mau, pas Mamah bilang udah ada anak dua. Ternyata, memang dia nyari keramaian." mamah Dinda seperti berbicara sendiri.


"Mah, Mamah ngerasanya gimana punya banyak anak gini?"


Aku mengedarkan pandanganku, untuk mencari keberadaan Ceysa.


Ia tengah mengutak-atik tralis tangga, yang terkunci. Ceysa sepertinya penasaran, dengan tralis tersebut.


"Ya repot, Canda. Tante Zuhra udah nikah aja, Mamah paksa dia tinggal di sini, buat bantu urus. Tapi suaminya ngelarang, karena udah punya rumah sendiri. Kecilnya Ghifar itu, kenyang dia nginep di rumah tante Zuhra. Givan, sering betul diungsikan ke Hafiz. Main tuh, kadang sampai setidurnya, semakannya. Untungnya, mak wa Ayu ngertiin bahwa Mamah kerepotan. Bukan papah tak mau kasih pengasuh. Pernah ada pengasuh, tapi anak-anak tuh sakit-sakitan terus. Kadang mikirnya jelek, sampai-sampai su'udzon bahwa pengasuhnya penyakitan. Tapi kata almarhum omah Handa, beliau bilang anak-anak itu tak nyaman. Ya memang sih, sama pengasuh tuh nangis aja, mereka tetap pengen apa-apanya sama Mamah. Misalnya makan, contohnya Ghavi deh. Ghavi nangis, minta makannya disuapin mamah, tapi mamah bilang sama si pengasuh aja gitu, mamah mau urus adek dulu. Akhirnya si Ghavi ini mau sama pengasuh, tapi ia terpaksa gitu, batinnya ngoceh aja, pikirannya tetep pengen sama Mamah. Jadi otomatis, tubuhnya jadi sakit."


Oh, aku baru tahu bisa seperti itu.


"Punya keturunan banyak tuh, Mamah betul-betul tak ada rencana sama sekali. Buktinya, dari Giska keluar tuh Mamah udah KB terus. Tapi namanya dikasih kepercayaan, KB aja sampai jebol."


Mamah Dinda adalah real memiliki banyak keturunan dari Yang Kuasa. Bukan memang dirinya ingin banyak memiliki keturunan.


"Tubuh perempuan tuh, tak didesain untuk melulu hamil loh Dek. Makanya, setelah melahirkan ini ada yang namanya bed rest. Ada juga mereka yang malah kena sindrom baby blues. Ada istilah masa nifas juga, karena tubuh ini bener-bener butuh istirahat dari aktivitas berat. Kasarnya gini, ngelahirin dua jam, istirahatnya empat puluh hari. Ada yang rahimnya turun setelah melahirkan. Ada juga mereka yang kena komplikasi setelah melahirkan. Belum lagi kalau sesar, lebih lama lagi pemulihannya. Masa iya, istri dituntut kasih sepuluh keturunan. Kalau tak target gimana? Apa dicerai gitu. Lebih-lebih, mana tau bukan rejeki. Jangankan sepuluh anak, satu anak pun tak dikasih. Ya bisa aja kan?" mamah Dinda mengulurkan telunjuknya, dengan mengisyaratkan dagunya agar aku mengiyakan.


Benar juga sih. Apa aku akan diceraikan, jika tidak bisa memberinya sepuluh keturunan nanti?


...****************...


No coment 🤦 wis mumet Author 😩 target dua anak pun, Author gak nyampe-nyampe. Sepuluh lagi 🤦

__ADS_1


__ADS_2