Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD137. Foto kenangan


__ADS_3

Aku dimandikan oleh bang Daeng, dengan niat mandi besar olehku sendiri. Sebenarnya, aku sudah mampu berdiri. Hanya saja bang Daeng tidak tega.


Kini, aku telah bersantai di atas tempat tidur dengannya.


"Sengaja betul! Pergilah ambil kamar baru! Kesel aku sama kalian." kak Raya mendelik tajam pada kami berdua.


"Apa sih, Ya?" bang Daeng masih fokus pada ponselnya.


"Aku risih lah!" ketusnya kemudian.


"Ya merem, Ya!" bang Daeng begitu santainya menjawab.


"Tau ah! Aku mau refreshing dulu." kak Raya pergi dengan urat wajah yang masam.


Ia kesal pada kami yang selalu bermesraan di depannya. Apa lagi, kami baru saja bertarung di dalam kamar mandi.


"Sini, Dek." bang Daeng menepuk dadanya.


Aku mengangguk, aku berpindah berbantal lengan kokohnya. Lalu aku mengusap dadanya, yang tidak mengenakkan kaos.


"Ini foto Alam." bang Daeng menunjukkan satu foto bayi padaku.

__ADS_1


Wajahnya mirip Dikta. Dengan kulit seperti bang Daeng dan matanya pun mirip bang Daeng.


"Ini Abang simpan di Google Drive. Nah, ini foto Dikta dulu." ia mencari foto lain di dalam berkas tersebut.


Dikta begitu cantik, wajahnya mirip Ranty Maria kecil saat membintangi film My Heart. Postur tubuhnya begitu imut, dengan perut yang cembung. Ia seperti anak kecil yang terkena busung lapar.


Aku bukan mengatai Dikta, atau mereka yang tidak seberuntung Dikta. Namun, ini begitu mengiris hati jika terlihat di mata umum. Seorang anak kecil, yang mengandung di usia dini.


"Ini Dikta hamil delapan bulan kalau gak salah. Soalnya dia melahirkan gak sembilan bulan, sembilan bulannya masih kurang." bang Daeng menunjukkan foto lain padaku.


Di foto ini, tubuh Dikta ikut mengembang. Tidak hanya perutnya saja, meski bahu Dikta masih terlihat seperti anak-anak.


"Udah hamil dia tiga belas tahun. Jahat betul Abang, bikin masa depan Dikta hancur." tambahnya kemudian.


Karena, aku pun pertama kali haid di umur dua belas tahun. Kelenjar p*yuda*a saat itu pun baru tumbuh, terasa nyeri dan bengkak.


Ia terkekeh geli, "Memang belum, bulu k*malu*n pun belum tumbuh." tambahnya kemudian.


"Coba liat foto Alam lagi." aku belum puas melihat foto anaknya.


"Nih." bang Daeng menunjukkan foto bayi yang mengenakan kostum gajah.

__ADS_1


Aku tiba-tiba teringat dengan Chandra. Pikiran burukku berkerumun, aku khawatir dengan keadaan Chandra di sana. Apa lagi, banyak anak yang harus Kinasya perhatian. Aku tahu, Ghifar juga tidak akan lepas tangan. Tapi pasti ia pun punya kesibukan sendiri, tentang pekerjaannya meski jauh. Apa lagi, ia di sana pun membantu menstabilkan keadaan bisnis mamah Dinda.


"Aku jadi kangen Chandra." ucapku kemudian.


"Coba telepon, Abang mau ngomong juga sama dia. Mau Abang godain, Chandra minta Adek laki-laki apa perempuan kan gitu." timpalnya yang membuatku menegang.


Alasan apa yang harus aku berikan pada mamah Dinda? Pada Ghifar? Pada papah Adi?


"Ayolah, Dek." bang Daeng malah mengambilkan ponselku yang tergeletak.


Aku menerima ponselku, lalu aku mulai membuka kuncinya.


Bagaimana ini?


Aku belum berani mengenalkan suami baruku pada keluarga baik itu.


Apa lagi, mamah Dinda dan papah Adi mengetahui bahwa aku dan mas Givan baik-baik saja. Pasti ini sangat mengejutkan mereka, pasti mereka tak akan siap mendengarnya.


Aku khawatir mereka drop, dengan kabar yang mengagetkan ini. Apa lagi, Ghifar dan delapan saudara itu begitu rapih menutupi permasalahan rumah tanggaku dan mas Givan. Pasti mereka begitu kecewa, saat aku malah menyia-nyiakan usaha mereka.


...****************...

__ADS_1


Naik turun terus ya 😩


__ADS_2