
"J*lat aja, kek gini nih." ia menj*lat pipiku dengan benda licin tak bertulang itu.
"Bohong! Aku tak percaya omongan Abang bisa dipegang." aku masih menolak untuk berpandangan mata. Karena aku paham, di matanya seperti ada sihir. Agar mangsanya tidak bisa berkutik.
"Korban gesek-gesek, tapi malah dimasukinya?" ia tertawa mengejek.
Aku tidak pernah menjadi korban gesek-gesek.
"Coba buka mulutnya!" aku paham tentang penyakit inti tubuh manusia, bisa di lihat dari isi mulut.
"Aaa....." bang Daeng membuka mulutnya.
Aku meraih ponselku, lalu mengarahkan senter ke dalam mulutnya. Bersih, tidak ada noda merah di langit-langit mulut, ataupun tanda-tanda lainnya. Hanya saja, giginya memang berwarna kuning. Itu pasti, karena dia adalah perokok aktif dan juga pecinta kopi mahal.
Ia berani membayar kopi seharga empat puluh lima ribu, untuk yang satu gelasnya.
Aku menaruh lagi ponselku di dekat bantalku.
"Abang mulai ya?" ia bangkit dan mulai menegakkan punggungnya.
Ia hendak bergeser, ia sudah meraih kedua kakiku.
"Aku tetep tak mau!" tolakku sebelum terlambat.
"Enak aja! Udah minta Abang buat buka mulut tadi." ia memaksa untuk menarik kakiku berlainan arah.
"Jangan Abang!!" aku menempatkan kedua tanganku di tengah-tengah tubuhku.
"Tenang, Canda! Cuma dibuat keluar aja."
Sudah kubilang, di matanya terdapat sihir.
Aku malah asik menganggukkan kepala, karena pandangan mataku dikunci olehnya.
"Uhmmmm...." aku tak menyangka, ia sudah aktif di bawah sana.
__ADS_1
Aku bisa melihat kepalanya bergerak-gerak di bawah sana.
"Abang...."
Sapuan itu semakin gila. Bahkan, tanpa peduli kotor. Bang Daeng menyapukan lidahnya di bagian part belakangku.
Kemudian berpindah ke kulit selang*angku. Beberapa saat kemudian, daging tak bertulang itu menari-nari dengan gila di titik yang membuatku melayang.
"Ampun, Bang..." nafasku hampir habis dibuatnya.
"Bentar, Sayang."
Aku percaya padanya. Salah satu jarinya menggosok sudut paling atas, aku yakin ia tak akan berani menanamkan jarinya.
"Bang.... Bang Daeng.... Aduhhhhh.... Uhmmmm...."
Aku harus memanggilnya apa? Agar ia mau menyahutiku.
Memang jarinya tidak ada yang tertanam, tapi daging tak bertulang itu menerobos masuk begitu geli. Salah satu jarinya pun, sepertinya masih menggosok sudut paling atas dari intiku.
Bang Daeng yang selalu berbelas kasih padaku. Kali ini, ia tidak menampakkan dirinya kasihan padaku.
"Abang!!!!" rasanya kepalaku hampir meledak.
"Aku........"
Sumsum tulangku rasanya luruh semua. Aku tiba-tiba merasa rileks dan begitu lemas.
"Enak kan? Plong kan?" ia tengah mengusap mulutnya dengan lengan tangannya.
"Tau ah!" aku membuang wajahku ke arah lain.
Namun, aku merasakan usapan lembut di intiku.
Aku menoleh ke tengah-tengah tubuhku. Ya ampun, aku tidak sadar. Intiku masih terpampang jelas di depan matanya.
__ADS_1
Bang Daeng pun, tengah tersenyum lebar sembari mengusap-usap milikku.
"Abang!!!" aku menepis tangannya, lalu aku menutupnya dengan bantal.
Ke mana cel*na d*l*mku?
Ia terkekeh geli, ia masih duduk di antara kedua kakiku yang terbentang.
"Makasih kek apa?" ucapnya kemudian.
"Tak mau aku! Udah sana geser! Mau cuci." aku beringsut mundur, mencoba duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Hmmm." ia menarik hidungku.
"Sombong!" ia pindah ke tepian ranjang ini.
"Gih sana cuci dulu, terus gantian." bang Daeng tengah menggosok matanya.
"Ya, Bang." aku berjalan ke arah kamar mandi, tanpa mengenakan ce*ana d*l*m di dalam dasterku.
Tapi ngomong-ngomong, bang Daeng mendapat skill itu dari mana? Mas Givan tidak pernah membuatku seperti ini, meski jelas jam terbangnya tentang perempuan sudah tidak diragukan lagi.
Ia berani menurunkan kepalanya tepat di intiku, hanya saat pengantin baru saja. Itu pun, bisa dihitung dengan jari ia melakukannya berapa kali.
Terkadang aku ingin bertanya pengalaman mamah Dinda dengan kedua suaminya. Pasti, cara papah Adi dan papah Mahendra melakukannya sangat berbeda.
Papah Mahendra pasti tak jauh beda, dengan cara mas Givan beraksi.
Kadang aku menyambungkan segala sesuatu yang ada pada diri mas Givan, dengan darah keturunan. Karena, meski mas Givan dididik papah Adi dari kecil pun. Sifat dan sikapnya tidak condong ke papah Adi. Mas Givan lebih condong mewarisi sifat dan sikap papah Mahendra.
Itu menurutku. Dari pengalamanku dan segala sesuatu yang aku amati, saat hidup bersama mas Givan selama lima tahun.
...****************...
Ngomong-ngomong, kapan ke Makassarnya? 🤔
__ADS_1