Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD277. Bujukan Lendra


__ADS_3

"Ayo, Ceysa." bang Daeng mencoba menggandeng tangan putrinya.


Ceysa menggeleng, "No, no." mulutnya masih mengunyah makanan di genggamannya.


"Beli jajan. Kek yang Ceysa beli itu. Yuk, beli lagi? Buat yang lain." bang Daeng membujuk Ceysa.


"Iyung...." bibirnya begitu lancip.


Aku merasa lucu sendiri, kala anak-anak menyebutku. Mereka kesulitan, untuk mengatakan kata itu.


"Apa?" aku membenahi rambutnya yang terkena keringat.


"Au?" ia manggut-manggut.


"Iya, Biyung mau. Beliin ya? Buat Biyung, bang Chandra, bang Iyo, Nenek, ibu, tante Ria." aku menghitung mereka dengan jariku.


Ceysa mengangguk, ia memasukkan semua makanan dari tangannya ke mulutnya. Mamah Dinda sampai geleng-geleng kepala, kala si Imut ini kesulitan untuk mengunyah makanan.


Ceysa langsung berjalan mendahului. Ia berpegangan pada rok mamah Dinda, kala ia hendak turun dari pintu belakang ini.


"Mangge bantu jalan, Okeh? Sini, Mangge gandeng tangan Adek." bang Daeng langsung beraksi.

__ADS_1


Ia mencoba membujuk Ceysa lagi, agar mau menggandeng tangannya.


Namun, sepertinya belum berhasil. Karena anak yang imut itu, malah berjalan mendahului dengan baju langsungan kebesarannya itu.


"Diawasin, Canda. Kita tak tau Lendra amanah tak." mamah Dinda menunjuk keluar.


Aku mengangguk, lalu aku bergegas untuk melihat Ceysa dan bang Daeng.


"Mamah ke depan." mamah Dinda langsung berlalu pergi.


Sebenarnya, ada obrolan apa ya antara bang Daeng dan mamah Dinda?


Aku jadi penasaran.


Aku masih memperhatikan Ceysa yang terus melangkah menuju warung itu. Ia mengerti bahasa dan perintah yang diberikan orang dewasa, hanya saja mulut kecilnya belum bisa menjawab dan meladeni semua ucapan yang terlontar untuknya.


Terlihat, bang Daeng hanya mengikuti Ceysa dari belakang. Ceysa masih belum mau digandeng olehnya.


Bang Daeng langsung sigap, saat Ceysa hampir oleng karena menaiki tangga lantai untuk memilih jajanan anak-anak yang berada di atas meja. Ia terlihat seperti orang tua yang menyayangi anaknya, meski sesekali ia meringis karena luka di perutnya.


Ya, aku yakin bang Daeng masih merasakan sakit di perutnya.

__ADS_1


Mereka berdua sudah berjalan pulang. Ceysa masih enggan untuk digandeng, meski serenceng makanan ringan mengalungi lehernya. Belum lagi, jajanan lain yang masuk ke dalam kantong plastik berwarna putih bening itu. Sudah terlihat dari jauh, bahwa isi plastik itu adalah makanan semua.


"Iyung....." Ceysa berlari dengan mengangkat kedua tangannya.


"Jangan lari, Dek. Nanti jatuh." seru bang Daeng di belakang Ceysa.


"Ah, sampai." aku menangkap tubuh imut ini.


Siapapun yang lewat. Mereka pasti melirik ke arah pemilik tato itu. Bang Daeng cukup mencuri perhatian semua orang, dengan tato di bagian lehernya itu.


"Chandra ke mana, Dek?" tanya bang Daeng, setelah dirinya sampai di hadapanku.


Aku duduk di pintu belakang, bersama Ceysa. Aku sudah membukakan salah satu bungkus makanan ringan, yang melingkar di leher Ceysa. Ceysa anteng, dengan cemilan gurih itu.


Ceysa dan Chandra pemakan segala. Bahkan timun dan wortel mentah pun, digerogoti mereka jika ada. Untuk lauk juga, mereka tidak pemilih. Bahkan, saat mas Givan melalab sawi hijau mentah. Chandra mengikuti cara mas Givan makan, dengan kecap manis sebagai bahan cocolannya. Karena ia tidak berani mencocolnya ke sambal. Chandra tahu, bahwa sambal itu pedas. Ia juga mengerti, bahwa cabai dan makanan dengan gambar cabai itu pedas.


"Diajak papah ke ladang." jawabku kemudian.


Tin....


Aku terkejut, saat motor berbodi bongsor berwarna merah marun itu melewati kami begitu saja. Bahkan, ia tidak menyapa.

__ADS_1


"A......


...****************...


__ADS_2