Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD394. Papah pergi sendiri


__ADS_3

"Kenapa? Kau tak mampu belikan kah? Atau ada orang suruhan mamah yang tinggal di sana?"


Aku sedikit senang, mendengar papah Adi mau mengobrol. Hanya saja, kenapa pembahasan itu membuatku tidak yakin bisa membuat papah semangat untuk sembuh.


"Digembok kode sama orang suruhan mamah. Aku tak tau kodenya, udah aku coba beberapa kali, tetap salah." Ghava membuka makanan untuk pasien yang disediakan dari rumah sakit."


"Memang tak ada yang tau? Pas suruhan mamah gembok rumah."


Pintar sekali. Ghava menyuapi ayahnya makan, dengan mengobrol seperti ini.


"Ada yang tau lah, Pah. Ya gimana lagi, gerak mereka cepat." jawab Ghava kemudian.


"Mamah sekarang di mana?" papah Adi mau menelan makanannya, sebelum beliau melontarkan pertanyaan lagi.


"Medan." jawab Ghava singkat. Tapi mampu membuat gerakan di rahang papah Adi terhenti sejenak


Kota Medan, menurut kami yang di ujung pulau nSumatera ini. Medan adalah kota besar yang paling modern.


Pasti papah memiliki pemikiran yang sama denganku. Ya seperti club malam, juga macam-macam wahana kesenangan lainnya.


"Kau jemput mamah, Va." perintah itu turun dari panutanku.


"Dih.... Siapa yang punya masalah? Papah lah sana jemput sendiri! Komunikasi aku lancar aja sama mamah, bahkan semalam abis VC sama Winda." Ghava sampai terlihat sungkan seperti itu.


"Ya udah. Setelah baut dilepas, Papah pergi jemput mamah."


Alhamdulillah.


"Minggu depan baut dilepas, udah enam mingguan. Tulang Papah juga udah aman, tinggal obat aja lanjut sama cek up rutin. Paling nanti aku antar, kalau punggung papah belum aman." ujar Ghava, dengan kembali menyuapi ayahnya itu.


"Pakai rompi anti peluru, helm baja juga." tambah Ghava dengan terkekeh.


"Memang harus nunggu enam minggu pas? Pagi tadi dokter udah bilang observasi, untuk lepas baut."


Nyata terjadi. Esok paginya, papah Adi langsung menjalani operasi kembali. Bahkan, setelah ia sadar. Beliau terus menanyakan keberadaan istrinya.


Beliau pun mau makan tepat waktu, membuat keadaannya lekas pulih. Meski, tubuh beliau tetap terlihat kurus. Setidaknya, beliau memiliki semangat sembuh.


Awalnya, kami semua sepakat untuk menyembunyikan kabar tentang mamah Dinda dari papah Adi. Karena kami berpikir, lebih baik papah Adi tidak tahu. Karena akan membuat keadaan beliau bertambah buruk.

__ADS_1


Namun, pemikiran kami salah.


Andai saja Ghava saat itu masih menyimpan kabar tentang mamah Dinda, pasti papah Adi sudah tidak bernafas lagi sekarang.


Kami semua tidak menyangka. Kabar kesenangan istrinya itu, membuat booster tersendiri untuk papah Adi.


Sepuluh minggu di rumah sakit, kini panutanku sudah terlihat sehat kembali. Meski jujur saja, penampilan beliau kini begitu membuat kami pangling.


Ditambah lagi, korset penyangga tulang itu terlihat cukup menonjol meski dipakai di dalam kaosnya.


Papah Adi pun, kini tinggal sementara bersama Ghifar. Rumah megah benar-benar tidak bisa kami masuki.


Papah Adi pun menahan kami untuk tidak merusak gemboknya. Agar, biar mamah Dinda sendiri yang membukanya sebagai peresmian rumah itu hidup kembali.


Semoga rencana beliau lancar. Aku tidak tega melihat beliau kesepian seorang diri seperti itu.


~


"Papah tak mau aku temani?" aku tengah menahan beliau yang pergi seorang diri.


"Tak lah, kau lagi hamil." papah Adi masih berada di parkiran Riyana Studio.


"Aku bisa antar, Papah tak mau." timpal Ghava kemudian.


"Jangan sampai sampai tiga bulan mamah tak pulang. Papah cuma punya waktu dua minggu." papah bersiap masuk ke mobil milik Ghifar.


Mobil Sigra milik papah dipreteli oleh anak-anaknya. Besinya dirongsok, dengan mesinnya dijual terpisah. Bagian body mobil yang masih bagus pun, dijual perbatang. Intinya seperti itulah. Aku tidak tahu disebutnya apa penjualan seperti itu.


Karena jika mobil itu masuk ke bengkel, akan lebih banyak biayanya. Karena bagian belakangnya, benar-benar rusak parah.


Papah Adi pun perlahan menjauh, dengan Toyota Avanza milik Ghifar. Ghifar memiliki dua mobil, Pajero Sport berplat Bali, dengan Avanza berplat Aceh.


"Aku tak yakin loh, Far." aku memandang wajah Ghifar, setelah mobil yang papah Adi bawa semakin menjauh.


"Doain aja. Masalah intern, papah tuh sampai tak mau cerita sama sekali. Cuma bilang, bahwa papah salah."


Persis seperti yang papah Adi katakan padaku sepertinya. Beliau enggan bercerita lebih jauh.


"Berpikir tak sih, kalau bu Bilqis itu speaknya lebih gahar?" tukas Ghava tiba-tiba.

__ADS_1


"Mungkin memang lebih panas dia, buktinya papah sampai berani main-main sama mamah kan? Tapi, udah begini ceritanya. Di lihat dari sisi manapun, mamah tetep pemenangnya. Papah sekarat, mamah udah happy enjoy aja. Katakanlah mamah galau di awal nih, beberapa hari setelahnya tuh, mamah udah nebar foto seru-seruan tuh. Nah papah, sampai hari ini pun dia kek jadi banyak ngelamun. Laki-laki yang hidup sama mamah begitu lamanya, mamah tak tangisi dan lamuni begitu lama. Papah kitanya malah berbanding terbalik. Padahal jelas, kita sama-sama paham bahwa papah yang bikin masalah sendiri." Ghifar berpendapat, dengan bergantian memandang kami.


"Kira-kira, apa ya yang dirasain papah sekarang? Patah hati tak gitu." aku mendongak sekilas, melihat matahari yang baru menghangatkan pagi ini.


Aku mendengar nafas panjang yang silih berganti ditarik ulur.


"Kenapa?" aku memandang mereka berdua bergantian.


"Bukan patah lagi. Papah kecewa, sedih, takut, hancur jadi satu." sahut Ghava, dengan bangkit dari duduknya.


Lalu ia bertolak pinggang, dengan memandang kakaknya.


"Kakak Ipar kita enaknya diapain, Bang? Mumpung tak ada suaminya." ujar Ghava dengan tersenyum menyeramkan.


Aku langsung melempar tisu bekas keringatku pada Ghava, kemudian aku menghentakan langkahku berlalu pergi.


Hanya tawa lepas, yang aku rekam saat berjalan ke ruko ibu. Keluarga itu memang menyebalkan, suka sekali meledek dan menakutiku.


"Ria!!! Kau kenapa sih?" aku tidak suka mendengar suara Ria yang meninggi pada ibu.


Namun, ia malah menatap tajam padaku. Kemudian berlari menaiki tangga.


Aku menggulirkan pandanganku pada ibu, yang berdiri di ambang pintu dapur. Aku maju beberapa langkah, kemudian memandang wajah ibuku begitu lekat. Ekspresi marah, tengah ibu pasang kali ini.


"Ria kenapa sih, Bu?" tanyaku kemudian.


Ibu membuang nafasnya, "Susah disuruhnya, main HP aja kerjaannya. Suruh cek anak-anak pada sarapan belum aja, dia ogah-ogahan. Padahal gak disuruh ngerjain tugas apa-apa." terlihat ibu begitu kesal, dengan melirik ke arah tangga.


"Anak-anak udah pada bangun, lagi sarapan Bu. Ceysa juga lagi ikut sarapan sama yang lain." ketika sarapan atau makan, anak-anak berkumpul di rumahku.


Maksudku, rumah baru mas Givan itu.


"Biar aku ngomong sama Ria, Bu." aku berbalik badan, hendak menaiki tangga.


"Ati-ati naiknya, Ndhuk. Ibu ke anak-anak dulu, bantuin pengasuhnya sebentar." ibu melangkah keluar dari ruko ini.


Aku menaiki tangga perlahan, hingga sampailah di kamar Ria dengan ngos-ngosan. Aku benar-benar mudah lelah, saat hamil yang sekarang.


"Kau ini sebenarnya kenapa, Ria? Dari sebelum pindah Mbak perhatian, kau ini banyak menyendiri. Belum lagi wajah lesu, mata bengkak, sampai mata panda gitu." aku berjalan, kemudian duduk di tepian ranjangnya.

__ADS_1


Ria bangkit dari posisinya, ia duduk bersila. Kemudian menaruh bantal di atas kakinya.


...****************...


__ADS_2