
"Aku dari keluarga broken home juga, Bang." aku masih ragu-ragu untuk bercerita segalanya.
"Ammak sama mangge kau ke mana?" tanyanya dengan fokusnya pada mataku.
Jujur, aku gugup jika berbicara dengan bang Lendra. Karena ia selalu mengunci pandangan lawan bicaranya. Mungkin ini salah satu cara, untuk menunjang pekerjaannya. Tapi tidak dengan aku, aku gugup padanya.
"Masih hidup semua. Udahlah, Bang. Keknya aku belum sanggup ceritanya." aku hanya bingung, untuk mulai bercerita dari mana dulu.
Kemudian aku menarik sudut bibirku ke atas, melirik tato yang merekat sempurna di lehernya.
"Jadi kapan tato di leher itu dibuat?" aku mengalihkan pembicaraan kali ini.
Bang Lendra menyentuh leher sebelah kirinya, di mana tato tersebut berada.
"Masa lepas SMA, baru masuk kuliah. Lagi nakal-nakalnya umur segitu, kerjaannya cari gara-gara sama orang melulu. Sempat ikutan komplotan curanmor. Makannya gak berani beli motor, takut kena karmanya. Jadi sekali punya kendaraan tuh, belinya mobil." ia berkata sembari tertawa geli.
Aku tidak menyangka, ternyata dulu ia seorang pencuri motor.
"Gak ada mikir buat masa depan. Baru pas satu tahun belakangan ini, baru pengen ngerasain rumah tangga. Tapi, terhalang karena belum mapan. Abang pribadi aja, gak sanggup kalau dapat ujian hidup tentang ekonomi. Apa lagi kalau harus ngemban tanggung jawab sebagai kepala keluarga, ditambah kesulitan ekonomi. Takut Abang tuh, Dek. Bisnis pintu apartemen pun, baru satu tahun belakangan ini. Soalnya dananya baru terkumpul. Pas baru kerja, kirim-kirimin terus ke kampung, muasin hati, pikiran, batin. Karena seneng bisa beli barang yang dimau, bisa bantu temen, bisa bikin dia seneng." di akhir kalimatnya, bang Lendra mencolek hidung Chandra.
"Tiga puluh tahun, baru ngerasain kek gini rasanya punya adik kecil." ia menciumi wajah Chandra.
"Mana ganteng lagi anaknya, lucu, ada aja tingkahnya. Segala minta nyusu di dada Abang. Segala nangis kalau ditinggal. Setengah mati ngejer Abang jalan, dia nampak seneng bisa gapai Abang. Coba deh kau manggilnya daeng, jangan Abang. Memang sama aja, tapi pengen ngerasain beda sendiri." ia beralih menatapku dengan senyum bahagianya.
Aku malah terkekeh geli. Daeng bagaimana? Sepertinya aku sulit menyebutkannya.
"Putri manggilnya apa, Bang?"
Pertanyaanku membuat senyumnya hilang.
"Sayang manggilnya. Kenapa sih bisa sampai nanyain panggilan sayang dari Putri?" wajahnya seperti meledekku.
__ADS_1
"Ya tak apa sih. Kirain lain dari pada yang lain. Di tempat mas Givan, panggilan sayang buat perempuan itu biasanya Adinda. Namanya Reni juga, kalau ada pacar malah dipanggilnya Adindaku sayang." aku mengetahui hal ini, karena Ikram seperti ini pada Aira. Syukri, suami Icut. Ia memanggil Icut sering kali Adinda, papah Adi pun demikian meski nama mamah Dinda adalah Adinda.
"Mas Givan mantan suami kau?"
Aku mengerutkan keningku. Harusnya ia tahu, saat aku mengajukan surat cerai.
"Ananda Givan nama lengkapnya." jawabku kemudian.
"Kok....." ia seperti tengah menerawang jauh.
"Kok familiar namanya. Kek nama anaknya mamah Dinda itu, Ananda Givan kalau gak salah."
Aku tertegun, sungguh syok aku melihat ekspresi wajahnya. Bang Lendra masih mengingat sesuatu, jangan-jangan dia hafal nama-nama anak dan menantu mamah Dinda.
"Kalau gak salah cari tahu sih. Anaknya mamah Dinda itu Ananda Givan, nama sosial media mamah Dinda pun Ananda Dinda. Meski di bio-nya ada nama asli mamah Dindanya, tapi nama akunnya pakai Ananda Givan." sepertinya bang Lendra benar-benar mengidolakan mamah Dinda. Ia sampai tahu dan jeli mengenai nama.
"Anaknya ada sembilan, yang terakhir anak perempuan masih kecil. Kalau gak salah namanya Hamerra atau Humairah gitu. Yang terakhir pun anak angkat kalau gak salah, karena papah Adi pengen punya anak perempuan. Abang sampai kepo betul, baca komenannya satu persatu. Tapi yang sering dipublikasikan dari dulu sih, si Ananda Givan ini. Foto-foto kecilnya Ananda Givan itu yang ramai diunggahnya. Sama Gibran kah? Kalau gak salah sih. Anak yang lainnya pada ditutup rapat, soalnya ada masalah sama perkawinannya."
Apa seperti ini seorang fans?
Hah?
Sebegitu gilanya dia pada ibu mertuaku?
Belum tahu saja, jika orang yang ia idolakan ternyata begitu kejam jika memberi keputusan. Memang sangat tepat, tapi terlihat tidak berperasaan.
Aku jadi ingin mengetes sesuatu padanya.
"Nama suaminya mamah Dinda siapa sih, Bang?" aku hanya pura-pura bertanya, padahal aku hafal nama-nama keluarga besarnya.
"Adi Riyana, umurnya lima tahun lebih tua dari mamah Dinda. Visualnya, di novel Agam yang Chandra sobek itu nah. Tapi terbit novel itu tuh gak tau nikah belum, novel lama itu, jadi kurang tau pastinya."
__ADS_1
Aku memiliki prasangka, bahwa ia mempunyai orang suruhan untuk menggali informasi lama ini.
"Terus nama anak sama rupa anak-anaknya hafal tak?" aku merasa was-was dalam menanyakan hal ini.
"Gak dipublikasikan anak-anaknya yang lain tuh. Soalnya ada permasalahan dalam pernikahannya dulu. Jadi sih, entah mamah Dinda hamil di luar nikah atau kek mana. Soalnya foto resepsi pernikahannya ada tuh di google, ada juga yang diupload orang-orang. Di foto itu, dia udah ada anak lima. Ananda Givan, bayi usia satu tahun laki-laki sama perempuan, terus dua bayi masih dibedong gitu. Mungkin dia bakal malu, kalau upload foto anak-anaknya yang itu, karena dia belum nikah kali masa itu."
Tidak begini ceritanya. Namun, jika aku meluruskan. Tentu saja bang Lendra akan curiga.
"Abang kok ngefans sama perempuan yang latar belakangnya jelek sih?" aku berbicara seperti ini, agar bang Lendra tidak curiga.
Jika seperti ini kan, bang Lendra menyangka aku tidak tahu apa-apa tentang mamah Dinda atau Ananda Givan itu.
"Abang kalau udah suka, gimana pun latar belakang perempuannya, ya Abang tetap suka. Apa lagi kalau udah cinta, keknya bakal bodoh betul." di akhir kalimat, ia tertawa geli seorang diri.
"Mamah Dinda juga pernah ada skandal, sama artis dari provinsi itu. Tapi Abang bodo amat, yang penting udah tau aja. Jadi hati tuh gak penuh pertanyaan, kalau Abang udah tau informasinya. Tapi kalau belum tau, pasti penasaran sampai ujung pulau."
Oh, jadi ia tipe orang seperti ini. Memiliki rasa penasaran yang amat kuat. Tidak seperti aku, aku memilih tidak tahu sama sekali. Dari pada harus sakit hati lagi, karena tahu kebenaran yang lebih menyakitiku.
"Pernah tatap muka sama mamah Dinda berapa kali, Bang?" tanyaku kemudian.
Aku merasa mengetahui sifat aslinya, kala mendengar ceritanya tentang mamah Dinda ini. Satu dari semua yang aku tangkap, bang Lendra adalah orang yang gampang bercerita dan terbuka terhadap orang lain.
"Pernah tiga kali. Yang pertama, pas pernikahan orang penting di Sulawesi sana. Yang kedua, seminar di Jakarta. Yang terakhir tuh, seminar di Samalanga. Dalam ketiga acara itu, mamah Dinda bawa-bawa suaminya terus." bang Lendra tertawa lepas, "Padahal kalau gak bawa papah Adi, mau Abang godain." lanjutnya kemudian.
"Mamah Dinda tuh, tak pernah diizinkan pergi kalau tak sama papah Adi. Mamah Dinda pergi sama tante Sukma atau tante Shasha aja, papah Adi baru izinkan kalau papahnya ikut. Sebatas nganter, nyupirin aja, tapi ya mesti ngintilin aja tuh. Beli baju aja, pencat-pencetnya HP terus. Karena tak dikasih izin buat ke toko baju, apa lagi kalau papah Adi memang lagi sibuk di ladang."
"Kok bisa tau?"
Hufttt!
Aku keceplosan.
__ADS_1
...****************...
Udah tahan-tahan padahal ya ðŸ¤