Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD225. Cerita dari Putri


__ADS_3

"Dia minta pekerjaan. Dia minta masuk ke perusahaan aku. Dengan tabiatnya, jujur aku gak yakin Lendra jujur kirim barang hasil perusahaan aku aja, pasti dia nyelundupin sesuatu di barang produksi aku. Tapi di situ, dia mohon-mohon biar aku percaya. Dia bilang butuh uang, buat beli rumah impiannya. Aku bilang di situ, jadilah Lendra yang aku mau, jangankan rumah impian, tempat ternyaman pun pasti kamu dapatkan. Bukan aku lagi rayu dia, tapi aku pengen dia sadar, bahwa tanpa bersusah payah, dia bisa dapatkan yang dia mau, asalkan dia ada di sisi aku."


Kalian tahu? Aku merasa bodoh di sini. Seolah ada kebenaran, di dalam kebodohan yang bang Daeng beri.


Ia tidak jujur padaku.


Aku sudah mengusap ujung mataku. Rasanya aku sudah menyerah, menyabari suami yang licik dan penuh rahasia ini. Bukannya aku plin-plan, hanya saja terlalu sakit menerima bang Daeng dan semua kebohongan yang ia berikan.


"Indo Walet Internasional?" satu nama perusahaan yang terlintas di pikiranku.


Putri mengangguk, "Itu perusahaanku."


Hah?


Aku tidak percaya. Wanita yang terlihat seperti anak-anak itu, ternyata pemilik perusahaan. Pantas saja ia pandai, ia pun selalu bisa menjawab perdebatannya dengan bang Daeng.


Mamah Dinda menepuk punggung tangan Putri, "Terus gimana lagi? Kau tak lagi bohong kan?"


Netra Putri bergulir ke arah mamah Dinda, "Aku gak akan bilang, aku lagi jujur atau lagi bohong. Silahkan bagaimana pendapat Anda yang menilai Saya saja." Di kalimat yang kedua, nada bicaranya begitu formal.


Aku bisa melihat senyum samar mamah Dinda, "Sok lanjutin. Biar kita bisa cari solusinya bersama."


Putri lekas mengangguk, "Aku kasih posisi yang dia minta, eksportir. Lancar dia kerja, sesuai keinginan aku. Sampai aku lempar eksportir profesional, karena Lendra minta posisi itu. Awalnya lancar jaya, sampai temen mesnya Lendra bilang, bahwa Lendra ini udah pulang, karena istrinya sendirian di kos. Aku masih gak percaya, bahwa Lendra punya istri. Sampai hari ini, aku tau kenyataan ini sendiri." ia menangis kembali.


"Pantes aja pemilik kos bilang, Lendra jemput istrinya. Pantes aja, Anisa bilang Lendra tinggal sama mertuanya." ia menutupi wajahnya kembali.


"Kau udah tunangan kan? Gimana cerita pertunangan itu?" aku memiliki wanita super, yaitu mamah Dinda.


"Aku paksa dia. Ini udah terlalu lama, aku udah dua puluh sembilan tahun. Tapi Lendra nampak masih mau main-main aja." mirip cerita bang Daeng, yang ia katakan padaku.


"Kau paksa dengan cara apa?" intel pun kalah, jika dibandingkan dengan mamah Dinda.


"Aku bawa tukang pukul. Aku bawa Lendra ke rumah orang tua aku. Tapi aku manusiawi, aku kasih makan dia. Toh, aku sama dia pun saling mencinta. Aku yakin, paksaan aku gak berarti untuk dia. Lendra cuma kurang yakin buat nikahin aku, karena kondisi keuangan dan impiannya yang belum terpenuhi."


Kata-kata Putri begitu menikam.

__ADS_1


"Terus?"


"Ye, ye, ye..." gelak tawa begitu renyah.


"Naik Yayah. Ye, ye, ye." aku kenal suara siapa itu.


"Jangan ganggu sih, Van!" mamah Dinda mendelik tajam, pada seorang laki-laki dewasa yang menggendong anak laki-laki di bahunya itu.


"Ne, Bang ik yok." Chandra berpegangan pada rambut ayahnya.


"Mau makan, Mah." mas Givan tak menghiraukan peringatan mamah Dinda.


Ia lanjut melangkah, dengan memegangi Chandra yang seperti karung semen itu.


"Ik yok, ik yok. Ngomong banyak tingkah betul." gerutu mamah Dinda, dengan memperhatikan cucunya.


"Eh, Pak Givan ya?"


Mas Givan yang hampir meninggalkan ruang tamu ini, langsung berhenti dan menoleh pada sumber suara. Chandra dewasa, alisnya langsung mengeriting ketika melihat Putri.


"Iya. Aku udah ganti tiket kau! Tak perlu kau sampai cari tempat tinggal aku." mas Givan sulit ramah ke orang.


"Ya udah, pulanglah kau!!" semoga mulut Chandra kelak tidak seperti mulut ayahnya.


Mas Givan melenggang pergi, dengan masih menggendong Chandra di bahunya. Pandanganku bergulir pada Putri kembali, ia terlihat masih menatap mas Givan yang sudah berlalu begitu kesal.


"Ini kediaman pak Givan, Bu?" Putri menghadap mamah Dinda kembali.


"Ya, dia sulung di sini."


Putri hanya manggut-manggut, ia seperti memikirkan sesuatu.


"Terus gimana, Put?" mamah Dinda menunjukku dengan dagunya.


Apa maksudnya?

__ADS_1


"Terus aku bertunangan. Lendra banyak diam, memang dari dulu pun orangnya pendiam. Planning aku sama dia, memang mau nikah setelah lebaran tahun ini. Dia minta lanjutkan pekerjaannya, karena udah lama dipegang Raya. Dia pun ada bilang, Raya pasti minta bayaran besar, dia bener-bener gak ada pemasukan. Karena sejak pertunangan itu, Lendra stay sama aku aja. Beberapa saat, dia masih stay sama aku, karena memang ada sesuatu yang harus diurus. Pas kita ngurus surat-surat buat nikah, aku ngerasa curiga karena Lendra bisik-bisik sama pihak KUA. Nah, terus pihak KUA itu bilang, bahwa pendaftaran penuh. Lah, aku ngerasa janggal di sini. Memang ini pendaftaran sekolah? Pendaftaran nikah kok malah dibilang penuh. Kata Lendra, diundur aja. Ya, okelah aku setuju. Aku pun longgarin waktunya, aku biarkan dia kerja. Aku balikin HP dia, aku kasih paspor dia, karena aku paham cara dia kerja tuh berpergian jauh. Namanya juga orang licik, dia pergi tuh, nomer, nomor IMEI gak bisa dilacak. Kadangkala ketemu, HP udah ada di tempat penjualan ponsel bekas gitu. Denger kabar burung, Lendra katanya ada di Padang. Udah tuh tenang, karena dia lagi kerja juga. Pikir aku, dia jual HP tuh memang gak ada uang, tapi dia lupa minta sama aku. Positif aja pikiran aku, sampai dia ngilang lama kek gini."


Versi ini berbeda, dengan versinya bang Daeng. Jika bukan Putri yang berbohong, pasti bang Daeng.


Mamah Dinda mengangguk beberapa kali, "Minumlah dulu!"


Putri menuruti perintah mamah Dinda. Ia menyeruput isi gelas yang semakin mengembun itu, rasanya pasti begitu sejuk.


Chandra muncul, di tangannya terdapat sesuatu. Mulut kecilnya pun mengunyah, ia terlihat menggemaskan.


"Iyung, Ne." sapa Chandra dengan tersenyum malu.


Aku melambaikan tangan pada Chandra. Saat semakin mendekat, aku bisa melihat sesuatu yang berada di tangannya. Ia tengah memakan ayam goreng, tepatnya paha ayam. Pasti Chandra diberi itu, agar ia anteng dan tak mengganggu ayahnya makan.


"Ayah mana, Bang?" tanyaku pada Chandra.


Chandra berjalan ke arahku, lalu ia bersandar pada pangkuanku. Ia masih berdiri, dengan menggerogoti ayam gorengnya.


"Mam." jawab anak baperan ini.


"Ini anaknya pak Givan, Bu?" tanya Putri, dengan masih menggenggam gelasnya.


"Iya, ada tiga anaknya. Ini anak nomer dua. Anak ketiganya masih bayi, umur tiga bulanan keknya."


Aku bisa melihat reaksi kaget dari Putri.


"Padahal masih muda ya?" ia seperti menggerutu.


"Mamahnya mana, Nak?" tanya Putri pada Chandra.


Eh, memang Putri tidak pernah melihat Chandra saat di Padang kah?


"Canda ibunya anak itu." pernyataan itu keluar dari mamah Dinda.


"Hah? Kau istrinya pak Givan? Terus, Lendra mana? Kebenarannya ini gimana? Kok aku diminta penjelasan, tapi gak dapat kejelasan."

__ADS_1


...****************...


Numpeng dulu, Put. Biar bisa nyatu sama khodamnya Lendra 😆


__ADS_2