
"Kalau memang udah tau, kenapa terus-terusan gak mau ngerti?!" bang Daeng bangkit, lalu menunjuk wajah Putri tepat di depan mata kami.
Putri mundur satu langkah, ia terlihat syok dari gambaran wajahnya.
"Ya ampun, Nalendra..." suara itu menurun.
"Harusnya kamu terima kasih, aku udah nerima kamu di kehidupan aku. Kamu ini apa sih coba? Kamu duda, nelantarin istri di rumah sakit jiwa. Hidup cuma ngeraup uang haram! Kamu kira aku gak tau, kalau kamu main licik saat dapatkan proyek dari ayah?!" suara Putri bergetar hebat.
"Aku gak bakal ikhlas, Yang!" kepala Putri menggeleng cepat.
"Kamu yang ngerusak aku! Ambil keperawanan aku! Jadi kamu juga yang harus tanggung jawab!!!" Putri menunjuk dada bidang bang Daeng.
Lalu, Putri berbalik badan dan melangkah pergi. Sepertinya ini adalah puncak kemarahannya.
Aku dan kak Raya pura-pura sibuk, saat bang Daeng menoleh ke arah kami.
__ADS_1
Hembusan nafasnya begitu kasar. Lalu ia melangkah pergi ke ruangan lain. Kalau aku jadi dia, aku sudah pasti malu menjadi tontonan seperti ini.
Terkadang aku ingin mengupas dan memberitahu bang Daeng, bahwa sifatnya ini banyak yang minus. Tapi, aku juga manusia yang banyak kekurangan. Aku tak berhak untuk memberitahunya ini itu. Aku takut ucapanku dikembalikan lagi olehnya.
Yang ada aku bisa malu, karena dikomentari kembali.
"Len... Sini coba!" kak Raya berpindah ke ranjang. Ia bersandar pada kepala ranjang, di sisi bang Daeng biasa tidur.
"Apa, Ya?" suara bang Daeng semakin mendekat.
Tak lama, bang Daeng muncul dengan bertelanjang dada. Rambutnya begitu urakan, dengan kaos yang hilang entah ke mana. Tato di bahu belakangnya terekspos jelas.
"Sini tiduran di sini!" kak Raya menepuk kembali bantal tadi.
Bang Daeng menurut, ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Capek gak, Len?" tangan kak Raya memijat bahu kiri bang Daeng.
"Capek kenapa?" aku bisa melihat mata bang Daeng terpejam.
"Ya capek gak tiga puluh tahun ngejer-ngejer materi ini itu? Udahlah, Len! Jalani yang ada. Kalau apartemen gak bisa kau kelola, kau jual aja. Jangan mempersulit diri sendiri. Ganti usaha apa kek, jualan kek, buka warnet, game online, atau jasa mobil truck sawit. Truck sawit lebih nguntungin tuh, dari pada kau maksa betul pengen usaha apartemen. Apartemen itu bisnisnya orang kaya, kelasnya pengacara Hotman Paris. Kau yang buruh pabrik kek kita gini, carilah usaha yang sebanding kemampuan. Terus nikah, biar gak gini terus keadaan kau. Aku trip ini terakhir, terus ngabdi aku sama suami. Nah, kau cepatlah ambil keputusan. Kalau memang klop sama Putri, cepatlah dipinang. Usaha walet pasti digenggaman kau. Kalau memang gak cocok sama Putri, ya udahan aja sih. Ditinggal aja proyek walet itu, kau gak dibuat rugi juga. Aku kasian sama kau, udah tua kita ini. Harusnya udah habis masa susah sama kerjaan." kak Raya adalah partner yang baik.
"Kau pun bakal jadi janda, kalau suami kau akhirnya nganggur juga. Aku begini, biar pas nikah aku gak jandakan istri aku. Faktor ekonomi itu, penyebab utama perceraian. Lepas itu, barulah faktor orang ketiga, atau memang faktor keluarga." jawaban bang Daeng benar juga.
Ketika orang dewasa saling berbicara seperti ini, terdengar begitu real dan seolah penuh pengalaman. Padahal, tidak begitu juga setahuku.
"Kalau gak mau kekurangan ekonomi, nikahlah sama Putri. Kek gitu aja, rupanya sulit betul kau ambil Len!" nada suara kak Raya sudah naik satu oktaf.
...****************...
Lendra bakal ambil opsi yang mana menurut kalian 😳
__ADS_1