Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD229. Tamu


__ADS_3

Mamah Dinda kembali setelah mengobrol dengan Ghifar, dengan membawa map berwarna biru itu.


"Mah, Ghifar sama Kin kenapa?" aku adalah orang yang tinggi rasa penasaran.


"Biasa, masalah intern. Ini Ghifar bikin surat perjanjian, biar Kin percaya bahwa Ghifar keluar rumah memang untuk kerja."


Ya Allah, sampai segitunya rasa cemburu Kin pada suaminya.


"Kepercayaan kalau udah rusak tuh, susah buat orang itu percaya lagi. Dari cerita Kin, cerita papah, Mamah tuh baru tau ternyata Ghifar ini buas kalau tak ada orang. Pepatah sungai tenang, jangan disangka tiada buaya itu benar untuk Ghifar."


Aku pun pernah merasakan sendiri bagaimana buasnya Ghifar. Meski tidak sampai kejadian, tapi cukup terlihat bagaimana Ghifar jika tidak ada orang.


"Gara-gara aku ya, Mah?" aku sudah murung saja.


"Bukan cuma gara-gara kau. Ghifar orangnya iseng, mulutnya suka godain cewek. Memang, dari kecil pun dia rese. Bukan cuma rese ke cewek, ke saudaranya pun rese. Bukan dalam artian rese cerongo, g*e*e-g*e*e. Tapi rese mulutnya, kek hai cantik. Ke saudara, dia iseng ciptain kegaduhan. Ada aja yang dia perbuat, jadi berantem deh dia sama saudaranya." mamah Dinda menjeda ceritanya. Ia menghirup oksigen lebih banyak.


Lalu ia melanjutkan ceritanya, "Kinnya cemburuan, Ghifarnya isengan. Ya udah, klop. Perang terus tiap hari, akur cuma buat hubungan, lepas itu berantem lagi."


Benarkah Ghifar seperti itu?


"Aku pun suka berantem, Mah. Perasaan, aku kesel terus liat wajah bang Daeng. Tapi, kalau dia pulang telat, aku khawatir. Kadang mikirnya, jangan-jangan dia diseruduk b*bi di tengah ladang."


Mamah Dinda tertawa lepas.


"Mood swing."


Benar yang mamah Dinda katakan. Bang Daeng pun pernah mengatakan hal itu.


"Ok, Fix ya? Uang mahar Givan ini dibelikan furniture aja. Kau mau ranjang atau yang lain?" mamah Dinda mengambil tumpukan uang tersebut, lalu menghitungnya.


"Ranjang dan lemari Chandra aja, Mah. Aku pernah liat di online shop, ada ranjang bentuk mainan gitu. Kek mobil, kereta api, atau bunga." aku memilih opsi ini, agar bang Daeng tidak berpikir yang tidak-tidak. Lebih-lebih, aku takut dituduh merindukan mas Givan, dengan selalu memperhatikan furniture yang dibelikan untuk kebutuhanku.


"Givan kecil juga pakai itu, ranjang karakter mobil Lamborghini. Nanti Mamah belikan, kalau kurang biar Mamah tambahin."


Aku langsung mengangguk mantap. Aku tersenyum bahagia, karena begitu senangnya memiliki mantan ibu mertua yang sehebat ini.


"Ndhuk... Ada tamu, perempuan, nyariin Lendra."


Mamah Dinda bertepuk tangan sekali, "Mangsa masuk jebakan." beliau begitu bersemangat.


"Mangsa apa, Mah?" aku terheran-heran.

__ADS_1


"Kau jangan nangis ya? Mamah lagi usahain selesaikan masalah Lendra. Mamah turun duluan. Kau cepatlah turun, biar dia tau." mamah Dinda menepuk bahuku beberapa kali, lalu beliau berlalu pergi.


Aku memilih untuk ke kamar mandi dulu. Setelah itu, bercermin dan memakai hijab.


Ruang atas begitu sepi, sepertinya anak-anak bermain di halaman belakang.


Oh, iya. Lantai atas belum dibangun. Zuhdi ingin fokus pada membangun bangunan milik saudara iparnya dulu, karena sudah akan siap huni. Ruko untukku pun, tinggal finishing saja. Sudah mulai mengecat, memasang tralis dan pagar.


"Canda... Kamu lagi hamil? Anak Lendra?"


Aku tidak percaya dengan tamu yang duduk manis di ruang tamu tersebut. Ia nampak begitu terkejut, saat melihat kehadiranku di rumah ini.


Matanya berkaca-kaca. Ia bangkit, kemudian melangkah menghampiriku.


Aku melirik mamah Dinda, sengaja mencari kode dari dirinya. Mamah Dinda tersenyum memenangkan. Aku harus yakin, ini semua akan baik-baik saja. Aku yakin, mamah Dinda menginginkan yang terbaik untukku dan Chandra.


"Putri? Apa kabar?" aku tersenyum ramah padanya.


Namun, ia malah memelukku dengan menangis tergugu.


"Dia janjiin aku nikah. Ini perjanjian lama, aku nuntut ini karena dia punya tanggung jawab sama aku. Tapi dia kabur, dia permalukan aku. Aku harus gimana? Aku malu buat hadapi kenyataan ini? Apa yang orang bilang nanti?" Putri menangis lepas.


Aku merasa, ada kekeliruan di sini. Aku jadi merasa tidak yakin, dengan pengakuan bang Daeng.


Ia melepaskan pelukannya, lalu ia menoleh ke arah mamah Dinda.


"Putri. Maaf, Bu." ia kembali duduk di tempatnya.


"Tak apa. Dari mana kau tau Lendra ada di sini?" mamah Dinda memperhatikan Putri dengan lekat.


Aku memilih duduk di samping neneknya Chandra ini. Aku harus rileks dengan keadaan ini. Aku tahu, ibu mertuaku baik dan cerdas.


"Dari Anisa. Dia bilang Lendra ada di daerahnya tinggal, dia kasih tau alamat rumah ini." ia masih menangis lirih.


Pasti kenyataan aku hamil, cukup mengejutkan untuk Putri. Satu lagi yang membuatku tidak percaya. Ternyata, kak Anisa ikut andil dalam perencanaan mamah Dinda.


Mamah Dinda menyodorkan sekotak tisu, "Saya ke belakang dulu ya? Saya ambilkan kau minum dulu." mamah Dinda melangkah pergi ke belakang.


Aku memperhatikan Putri yang mengusap air matanya. Ia cantik, ia menarik. Bahkan, dada besar karena implan itu begitu kentara di mata.


"Lendra mana, Canda?" tanyanya dengan melirikku sekilas, ialu ia fokus pada tisu kembali.

__ADS_1


Ia menggunakan pakaian yang begitu rapih. Sepertinya ia pulang bekerja, entah memang ia menyukai pakaian formal.


"Kerja. Mungkin malam baru pulang, dia ada bilang pulang telat."


"Kerja di mana? Di mohon-mohon minta kerjaan sama aku, tapi tiba-tiba dia resign aja."


Mana yang benar, ya Allah?


"Nih, silahkan diminum." mamah Dinda memberikan gelas yang berembun.


Hm, pasti begitu sejuk minuman itu. Aku gampang tergiur makanan dan minuman akhir-akhir ini. Mungkin, ini yang dinamakan ngidam.


"Jadi, kau dari mana?" tanya mamah Dinda, dengan duduk di sofa yang sama denganku.


"Aku dari Batam, langsung ke cari penerbangan ke sini. Modal nekad aja, karena sebelumnya aku belum pernah berkunjung ke provinsi ini." suara Putri masih bergetar.


"Apa sih, yang buat kau sampai segitunya sama Lendra? Dia jelek loh, kau cantik, kau terlalu bagus untuk model kek dia."


Hah?


Benarkah bang Daeng sejelek itu di mata mamah Dinda? Aku merasa salah memilih suami. Karena mamah Dinda bukan sekali saja, mengatakan bahwa suamiku jelek.


"Mulutnya. Dia janjikan aku, Bu. Dia indahkan harapan aku, tapi tiba-tiba di ngilang begini." ia mengusap matanya kembali.


Tarikan air hidung pun, terdengar begitu jelas.


"Janjikan apa? Dia bilang apa? Terus, apa planning dia buat hubungan kalian kemarin?"


Namun, Putri malah menangis lepas. Ia sesenggukan, dengan menutupi wajahnya. Aku jadi tidak tega melihatnya. Putri terlihat begitu tersakiti, pasti bang Daeng menyembunyikan kebenaran.


Mamah Dinda pindah ke sebelah Putri. Ia merangkul Putri, mencoba menenangkan Putri.


"Awalnya dia minta putus, aku masih pertahankan dia. Tapi, aku denger kabar kalau Lendra selalu sama rekan kerjanya. Aku pikir, itu Raya. Karena cuma Raya, kawan kerja yang selalu ngikutin Lendra. Aku masih positif thinking, karena Raya bukan cewek gampangan. Terus, tiba-tiba dia datang malam-malam. Tamu yang berkunjung, di waktu yang kurang tepat. Ini bukan hal yang wajar, lebih-lebih ini buat seorang Lendra. Dia gak mungkin datang, kalau gak ngabarin dulu. Tapi dia lakuin itu."


Aku menelan kasar ludahku. Pasti, saat itu adalah trip ke Sulawesi untukku dan bang Daeng. Aku teringat akan kunjungan ke rumah dato, lalu Ferdi mengatakan bahwa aku bukanlah wanita yang kemarin bang Daeng bawa.


Namun, bisa jadi bang Daeng datang dengan statusku telah menjadi istrinya. Yaitu, sejak aku dan dirinya mulai LDR. Saat ia menginginkan aku resign, dengan berdiam diri di kos saja.


"Terus???" mamah Dinda begitu fokus pada penjelasan Putri.


...****************...

__ADS_1


😳


__ADS_2