
"Ya Allah, Bang Daeng." aku manyun saja, memperhatikannya yang asik menyantap bakso.
Bang Daeng terkekeh kecil, "Makasih ya, sering kirim aku banyak makanan."
Ehh, ada yang aneh.
Astaghfirullah, aku ingat dia sudah tiada. Tapi ia sekarang ada di hadapanku.
Ya Allah, apa aku sudah tiada juga?
Tapi dalam agamaku, roh-roh kami tidak bisa bertemu ketika berada di alam kubur. Pasti ini adalah mimpi, atau setan yang tengah memanipulasi pikiranku.
Ngomong-ngomong soal makanan, apa makanan itu adalah surat-surat pendek yang sering aku panjatkan ketika selesai sholat? Tapi itu bakso, yang terlihat begitu besar dan enak. Ditambah lagi, teh P**uk harum, yang melengkapi hidangan itu.
Aku jadi ingin menyicipinya.
"Aku mau, Bang." air liurku sudah berkumpul di mulut.
"Mau? Serius? Jangan lah, nanti Ceysa sama siapa? Belum lagi si Gembrot itu? Kalau Chandra sih, ada neneknya. Yang lain ini, pasti dijual sama suami kau." bang Givan menunjuk pada laki-laki yang aku kenali dengan jelas.
Ia menatapku sinis, dengan menggendong bayi dalam kain bedong. Bayi itu besar sekali, dilihat dari sini saja ia seperti anak satu tahun yang dibedong.
"Pegang nih anak kau! Malah enak-enak ngebakso kau!" mas Givan berjalan ke arahku dengan bayinya itu.
Aku ingat, tadi aku tengah memandang lampu operasi yang begitu terang itu. Apa operasinya sudah selesai? Apa hari ini sudah lewat beberapa hari dari kejadian itu?
"Itu anak kita, Mas?" aku menunjuk bayi itu.
Mas Givan berdiri di dekat meja yang menyekatku dengan bang Daeng itu. Hembusan nafas mas Givan sudah seperti kerbau. Mengerikan sekali, jika ia benar-benar marah.
"Menurut kau?! Masa iya aku beranjak?" mas Givan menaruh bayi itu ke tanganku.
Ish, dia mirip sekali dengan potretku saat di pesantren dulu. Iya, unyu-unyu dengan pipi mulus.
"Diurus yang betul, Dek. Luaskan sabar kau, kurang-kurangi nangisnya. Kau bakal merasakan jadi ibu-ibu yang sesungguhnya dengan anak kau itu." ucap bang Daeng, yang masih asyik bersantap itu.
"Cepat lah balik! Segala kau nongkrong di warung bakso. Bukannya susuin anak kau." mas Givan berjalan lebih dulu, aku hanya bisa menyaksikan punggung lebarnya yang semakin menjauh.
"Mas, pesankan bakso sama beli teh P**** dingin juga. Baksonya yang besar semua, dua ya Mas." aku bangkit dari kursiku, dengan berseru padanya.
"Ya." sahut mas Givan, dengan ia berbelok ke arah gerobak bakso yang berada di depan ruko bakso ini.
"Ati-ati ya jalannya, makan yang banyak biar ASI kau berlimpah." ujar bang Daeng, yang menarik perhatianku.
"Memang tak ikut pulang? Mamah Dinda punya mobil baru loh, enak dipakainya." aku ingat saat datang ke rumah sakit menggunakan mobil baru milik mamah Dinda.
Bang Daeng terkekeh geli, dengan menutupi mulutnya.
"Aku belum selesai makan. Lagian, arah rumah kita beda. Kapan-kapan bawa Ceysa main ya? Ajari Ceysa dan Jasmine juga, biar bisa ngirim makanan enak buat Abang." ucapannya seperti memiliki arti lain.
__ADS_1
"Cendolll! Ini nih! Cepatlah balik!" mas Givan berteriak lepas, dengan menunjukkan kantong plastik yang kemungkinan adalah bakso.
Yey, tangannya menenteng teh P**** Harum yang berembun juga.
Aku beralih memandang bang Daeng, "Dadah, duluan ya Bang? Nanti telpon aku ya?" aku mengisyaratkan ibu jari dan kelingkingku seperti gagang telepon.
Bang Daeng menyatukan ujung ibu jarinya dan telunjuknya, "Oke, ati-ati ya Dek. Jaga sholatnya." ia memberi ciuman jarak jauh.
Aku jadi terkekeh geli, karena bang Daeng jarang sekali lebay seperti itu.
"Mas Givan, tungguin." aku tergesa-gesa keluar dari ruko bakso ini.
"Cepat, Canda!" mas Givan sudah membukakan pintu mobil.
Aku segera masuk ke mobil abu-abu tua itu. Dengan duduk di sampingnya yang mengemudi.
Tubuh mas Givan condong ke arahku, ia menarik sabuk pengaman yang berada di sisi kursiku.
"Angkat bayi kau dulu." wajahnya dekat sekali dengan wajahku.
Namun, hidungku tiba-tiba gatal.
"Awas, Mas. Aku mau bers....." aku langsung menyemburkan udara dari hidungku.
Saat aku membuka mata kembali, tiba-tiba wajah mas Givan ada di depan wajahku. Matanya basah, dengan ia mengusap wajahnya.
Aku cengengesan, karena telah bersin di depan wajahnya. Namun, latar belakang yang berada di belakang tubuh mas Givan berbeda. Ini seperti ruangan, yang didominasi warna putih. Bukan berada di mobil baru mamah Dinda.
"Kata siapa bersin, Cendol?!" mas Givan mengusap dadanya sendiri.
"Panggilin dokter, Va!" mas Givan langsung memerintahkan adiknya.
Guava berlalu pergi, dengan aku yang langsung mencekal tangan mas Givan. Rasanya seperti jari berdarah terkena pisau, tetapi di area perutku.
"Mas, sakit." aku mer*mas-re*as lengannya.
"Aku pun sakit, Canda." mas Givan mencoba melepaskan tanganku.
Setelah terlepas, lengannya begitu merah dengan bekas jemariku.
"Ya ampun, Canda. Kau merem terus, bikin kaku. Kau melek pun, bikin aku nambah kaku hati aja." ia berakting seperti menangis.
Aku terkekeh, kemudian menarik ujung bajunya kembali.
"Mas peluk, terus udahnya dikipasin. Kek orang sunat gitu loh, Mas. Sakit kali ini."
"Iya, iya, iya." mas Givan langsung mengambil kipas karakter kartun milik Ceysa. Aku membeli kipas tangan tersebut di orang jualan jepit, di pasar malam.
"Mas, aku dioperasi belum?" aku meraba perutku.
__ADS_1
Perutku masih begitu tinggi dan besar.
"Udah, kau malah ketiduran. Heran juga aku sama kau, bisa-bisanya tidur." mas Givan geleng-geleng kepala.
"Mas tapi sakit." aku terisak manja.
"Iya tau, tadi aku udah minta obat juga. Kau atur pikiran kau, biar nyerinya tak terasa." mas Givan mengipasi wajahku.
"Mas, bakso sama teh P*cuknya mana?" aku teringat beberapa waktu yang tadi.
Alisnya menyatu, "Mana ada bakso." lirikan matanya begitu sinis.
"Iya, nih. Dari tadi kita tak ada yang makan bakso." Ria berjalan mendekatiku.
"Mana bayi Mbak, Ria?" aku menyentuh tangannya.
Aku merasa tubuhku bergetar sendiri. Ya seperti gemetaran.
"Ada, nanti juga dibawa ke sini. Tadi aku antar sufor ke sana, tak bisa langsung menyusui sih soalnya." Ria duduk di kursi yang berada di dekat tiang infus.
"Permisi." perempuan berjas putih masuk. Ada stetoskop di saku jasnya.
"Ya, silahkan." mas Givan melepaskan tanganku, kemudian memberi dokter tersebut ruang.
"Gimana, Ibu?" ia memeriksakan keadaanku.
"Tadi bersin, sadar, terus kesakitan Dok." ujar mas Givan, ia mengusap keringat di wajahku dengan tisu kering.
"Waduh, mana baru operasi betul ya?" dokter tersebut membuka kancing bagian bawah baju pasien yang aku kenakan ini.
"Maaf ya, Bu?"
Aku mengangguk, merasakan ada perekat yang dilepaskan di daerah sana.
"Apa ada nyeri, tegang, kram, kesemutan atau panas?" tanya dokter tersebut dengan menoleh ke arah wajahku.
"Sakit kek jari kesayat pisau gitu, Dok." aku tidak merasakan reaksi yang dokter sebutkan tadi.
"Aman ya, Bu. Misal mau bersin, lebih baik dihindari dulu. Batuk pun, sebaiknya ditahan. Misal udah kentut atau pipis, tolong sampaikan ke perawat yang berjaga ya Bu?" dokter tersebut sembari mengganti kain kasa yang diambilnya dari meja stainless yang berada di samping kanan brankar ini.
Lukaku ditutup dengan perban baru.
"Nanti ada perawat datang juga, untuk ajarkan miring kanan kiri dan membilas Ibu." dokter tersebut berjalan memutar, membuang sesuatu di dekat pintu kamar mandi.
Sepertinya, di sana ada tempat sampah.
"Makasih ya, Dok?" ucap mas Givan ramah.
"Ya, sama-sama." dokter tersebut tersenyum ramah pada kami semua.
__ADS_1
"Mas.... Baksonya mana?" aku masih minat dengan bakso tadi.
...****************...