
"Abang nyesel kan udah nikahin aku?" tanyaku padanya.
"Nyesel?" ia mengatakan itu. Namun, ia menjawab sendiri pertanyaannya dengan gelengan.
"Kalau pada akhirnya Abang nyesel, Abang gak bakal ambil opsi ini. Abang paham, kegagalan pernikahan, dengan perempuan yang kasih talak. Ini bakal bawa resiko yang sama, hal itu bakal terulang kembali. Tapi Abang mikirnya, perempuan itu gimana laki-lakinya. Insya Allah, Abang gak kek papahnya Chandra. Itu tekat Abang dalam hati, untuk diri Abang sendiri. Cuma di sini Adek yang paham. Nikah itu bukan untuk cerai. Masalah sedikit, tarik kata cerai." ia membuang wajahnya ke arah lain.
Benarkah aku demikian?
"Baca nih! Kalau gak percaya." bang Daeng menyodorkan ponselnya padaku.
"Terus siap-siap, Abang nenangin diri dulu di mobil." bang Daeng melenggang pergi dengan membawa koper kecil perlengkapan kami dan tas kerjanya sendiri.
Aku mengutak-atik ponsel yang masih menyala ini. Banyak chat dari perempuan, ini tidak dibalas olehnya. Nomor telepon yang ada di ponsel ini, adalah nomor telepon lamanya. Membuat kontak-kontak lamanya berpindah ke ponsel baru ini.
Bahkan, lima pesan dari kak Anisa tidak dibuka olehnya. Aku memberanikan diri, untuk membaca isi chat kak Anisa dan suamiku. Aku penasaran, kenapa kak Anisa masih sering menghubungi bang Daeng.
Bang, pinjam uang dulu. Bang Dendi akhir bulan ganti.
Bang.
Bang Lendra.
__ADS_1
Bang.
Itu adalah pesan dua hari yang lalu. Bang Daeng pun sudah mengirimkan balasan, berupa screenshot bukti transfer dari mobile banking miliknya. Dana sekitar lima juta dikirim bang Daeng ke rekening kak Anisa, tanpa ba-bi-bu, tanpa konfirmasi padaku.
Makasih, Bang.
Gimana kabarnya, Bang?
Chandra, Canda sehat kah?
Lagi di mana, Bang?
Semalam kami pun bertukar chat, hanya berisi gurauan dan rekomendasi merek kosmetik saja. Kak Anisa tidak menanyakan kabarku dan Chandra.
Pesan terbaru dari kak Anisa yang belum dibuka oleh bang Daeng cukup mengagetkanku.
Bang, bang Dendi merantau sama temen-temen fotografernya.
Jemput aku, Bang.
Aku stress di sini.
__ADS_1
Anter aku balik, kalau bang Dendi pulang dari kesibukannya.
Sepertinya pesan ini muncul di bar notifikasi, membuat bang Daeng tahu isinya dan tidak berniat membalasnya. Lagi pula, kak Anisa kan sudah bersuami. Kenapa meminta suamiku untuk menjemputnya?
Rasanya, aku ingin memberitahu kak Anisa saja. Bahwa aku dan bang Daeng sudah menikah.
Aku keluar dari chat kak Anisa, aku menscroll tumpukan chat dari berbagai nama ini.
Siapa itu?
Banyak chat yang menanyakan hal itu. Namun, belum dibaca oleh bang Daeng. Aku menarik story chat milik bang Daeng. Alangkah terkejutnya aku, kala melihat fotoku tengah melirik ke arahnya dengan ekspresi sebal. Ini adalah foto kami, saat makan malam semalam.
Aku berpesan padanya, untuk membeli bakso untukku. Yang membuatku kesal, keinginanku tidak terpenuhi. Aku ingin bakso berukuran jumbonya sebanyak dua buah, tetapi bang Daeng hanya membelikan porsi normal dengan bakso jumbo berukuran satu buah dan anak-anaknya baksonya saja. Aku tidak puas makan anak-anak bakso, meski tidak hanya satu buah.
Ia berani memasang foto kami?
Apa sebentar lagi aku akan dipublikasikan olehnya? Agar para wanita spam chat tersebut, tidak mengganggunya lagi.
...****************...
Mamam tuh isi chatting 🙄 baca satu-satu sampai baper sendiri 🤠agak gemes-gemes gimana gitu 🤗
__ADS_1