
"Nah, itu yang aku terapin tiap hari. Pernah pelit ke istri, tapi langsung dibalas kekurangan sama Yang Kuasa." tambah Ghava kemudian.
Aku tahu tentang tabiat boros Ghava. Ternyata, ia memiliki pengalaman juga perihal pelit dan royalnya.
"Kok bisa sih kalian berpikir pengen pelit ke istri?" tanya Ghavi dengan memperhatikan Ghava dan Zuhdi bergantian.
Ghavi adalah orang yang paling mengindahkan istrinya, selain Ghifar. Ghavi selalu memberikan emas dan pakaian mewah. Sedangkan Ghifar, ia lebih memberikan seluruh uangnya. Terserah mau Kin apakan. Itu yang aku tahu, dari pengamatanku sendiri.
Aku terdiam, memperhatikan reaksi mas Givan. Harusnya, ia tersinggung. Ya, menurutku harusnya ia tersinggung.
"Bukan berpikir buat pelit. Pikiran ego laki-laki, yang aku rasakan sendiri. Ahh, pengen punya rumah sendiri. Biar bebas, biar mandiri, biar pikiran tak sempit. Kumpulin ah, buat bikin rumah. Irit-irit pengeluaran ah, tekan-tekan kepengenan ah, biar cepat kesampaian. Gitu loh, Vi." terang Zuhdi kemudian.
"Iya, tapi nyatanya kalau kek gitu tabungan tak ada, istri minta cerai." ujar papah Adi, yang membuat kami semua tertawa renyah.
"Iya ya, Bang. Kenapa kok rumusnya tak masuk akal gitu ya?" tukas mamah Dinda.
"Rumus akhirat, Dek. Nyenengin istri, rejeki berlimpah. Kalau pelit, celengan tak punya, hidup serba kekurangan." jelas papah Adi.
Papah Adi tadi malah menjabarkan yang terjadi pada rumah tanggaku. Tapi mas Givan seolah tidak peduli, ia anteng menyuapi Key, Chandra dan Ziyan makan saja. Ia seolah tidak mendengar obrolan kali ini.
Tangis Hadi langsung memekakan telinga kami. Hadi begitu kuatnya menangis. Aku jadi teringat ibunya.
"Bawa ASIP tak, Di?" mamah Dinda menggendong Hadi.
"Tak, Mah. Susuin aja sama maknya yang lain."
"Heh! Mana boleh! Nanti anak kau, jadi anak maknya yang ngASIhi anak kau." tegas papah Adi.
"Ya gimana? Pulang aja kah aku?" Zuhdi terlihat bingung sendiri.
"Giskanya jemput gih. Suruh main di sini aja." pinta mamah Dinda dengan mengayun-ayunkan tubuh Hadi.
"Ya, Mah."
__ADS_1
"Pinjam motornya, Van." Zuhdi langsung bangkit.
"Nih." mas Givan melempar kunci motornya pada Zuhdi.
Dengan bergegas, Zuhdi langsung pergi keluar.
"Bang... Nanti obrolin ke Adi, minta borongin buat bangun di lantai atas. Bikin beberapa kamar lagi gitu." mamah Dinda memerintah dengan masih menenangkan Hadi.
"Aku mau bangun di depan, Mah." kami semua menoleh pada Ghifar.
"Aku juga mau bangun, Mah. Sekalian bikin basecamp, buat tempat rapat, ngumpul. Kesannya biar aku kek punya kantor gitu kan, Mah?" Ghavi menaik turunkan alisnya.
"Aku pun mau bangun, Mah. Tapi kasbon dulu sama Papah, biasa." Ghava tersenyum lebar.
"Wah, bagus tuh. Jadi nanti kita buat melingkar gitu kan? Kek huruf U. Di belakang Riyana Studio, rumah kau Va. Terus kantor kau di depan, sejajar sama Riyana Studio, Vi. Di belakang kantor kau, rumah kau berhadapan sama rumah Ghava. Terus aku di ujung deh. Kasih halaman yang luas, pokoknya kek ngebentuk huruf U gitu." terang Ghifar begitu semangat.
"Kenapa sih mesti hutang gitu loh, Bang?" tanya Winda, dengan menyentuh lengan suaminya.
"Tak mampu soalnya, Dek. Riyana Studio aja, udah pelunasan kemarin Abang. Abang tak punya modal di awalnya ini. Tapi kalau udah bergerak, cepat aja kan balik modal?" jelas Ghava dengan memperhatikan wajah istrinya.
"Kok bisa sih tiba-tiba langsung punya studio sih, Va?" pola pikirku benar-benar tidak sampai.
"Ya dari ruang rokok itu lah, Kak. Ngerambat, nama aku dikenal sebagai fotografer yang bayarannya murah. Sampai pada akhirnya ramai job, karena yang murahan ini lebih banyak dicari ketimbang yang hafidz Qur'an." beberapa orang tertawa lepas, saat mendengar penuturan Ghava.
"Ngeledek kau?!" ketus mas Givan dengan wajah masamnya.
Ghava hanya menoleh pada mas Givan, lalu lanjut menjelaskan penuturannya.
"Jadi kan, penyanyi lokal YouTube yang belum punya dapur rekaman, belum punya gelaran media, pada cari aku karena kalau shooting video klip amatir sama aku harganya terjangkau. Ketimbang, mereka harus beli sendiri alat-alatnya. Lebih baik, gunain jasa aku. Terus ketemu sama bang Dendi itu. Kata dia, pendidikan aku cukup tinggi nih, skill aku lumayan lah, karena sebelum redup pun, pernah banjir job. Ayo lah maju sedikit, krisis ekonomi, kaget baru punya kewajiban sekarang. Aku coba kan, eh tak taunya cocok kerja sama sama bang Dendi. Jadi aku bilang ke Papah, butuh modal buat ngembangin usaha. Soalnya, kemarin alatnya kek dibuat portabel gitu. Pas udah ada tempat kek sekarang kan, label ada, tempat ya permanen, harga jasa ya bisa bersaing. Apa lagi, saat mereka tau ini salah satu usahanya penulis sepuh. Malah di antara mereka, ada yang minta naskah untuk film lokal." lanjut Ghava serius.
"Terus naskah itu kau ambil dari mana? Kau proses tak?" pasti pembahasan ini menarik untuk mamah Dinda.
"Dari Winda, dibantu kak Anisa sekarang. Mereka pun, ada rencana mau buka jasa rias dan decoration Mah. Kek WO gitu, tapi baru wacana aja sih. Aku nekanin Winda, buat fokus wisuda dulu aja."
__ADS_1
Perpaduan yang pas. Kak Anisa jago make up, Winda si jago payet dan membuat sovenir pernikahan.
"Win... Capek loh Mamah nanyain kapan wisuda. Kau ada masalah apa sih sebetulnya di kampus? Perasaan, mulur betul wisuda kau." mamah fokus memandang Winda yang terlihat malu.
"Mulur setahun aja, Mah." jawab Winda dengan menutupi wajahnya.
"Kebanyakan ngintilin Ghava si Winda ini, Mah. Ayo, Dek. Berangkat kuliahnya Abang anter. Dia jawab, aku tak kuliah, bang Ghava ada job. Yang dapat job ini Ghava, dianya ikut ngerecokin prasmanan Mah." tutur Ghifar, yang membuat Winda semakin menutupi wajahnya.
"Tapi kau mampu bayarin kuliah Winda, Va? Padahal dia di perguruan tinggi swasta loh. Nolak buat jamin pendidikan Winda tuh, kirain Papah, Winda kuliahnya berhenti." tanya papah Adi kemudian.
"Mampu tak mampu, Pah. Gali l*bang, tutup l*bang. Sampai job jauh Belawan Medan, aku penuhi, biar bisa bayar hutang."
"Pinter juga kau cari hutang, Va. Ngomong-ngomong, kau hutang sama siapa? Mamah mau pinjam, buat beli kuda pacu, Pajero sport." ada-ada saja mamah Dinda ini.
"Sama Bang Ghifar lah, Ghavi pelit kalau dipinjemin uang." Ghava melirik sengit pada Ghavi.
"Ehh, mana ada! Aku pinjamkan, kau bayarnya malah beras dari mertua kau. Ini, Vi. Tiga ratus ribu kemarin, beras aja ya sekarung. Aku tau itu beras Winda bawa dari rumah maknya." Ghavi menirukan suara Ghava, dengan dagu menunjuk Winda.
Tawa Ghava pecah, "Ketimbang tiga ratus ribu, Vi. Kau sama Abang kau sendiri, perhitungan betul."
"Papah aja, Bang. Pah, aku pinjam lima puluh ribu. Ditagihnya aku, padahal aku anaknya." aku mengerti penjelasan Ghavi. Ajaran papah Adi, hutang adalah hutang.
"Sedekah kau ada tak lima puluh ribu? Amalan baik kau ada tak senilai lima puluh ribu? Dari pada di akhirat nanti amalan kau dipotong lima puluh ribu, mending ditagih Papah di dunia." tegas papah Adi dengan wajah bergurau.
"Aku nyari lebihan tiga ratus ribu, sampai Bengkulu aku datangin terpincang-pincang Pah. Cari uang lebihan aku ke sana ke mari."
Aku ingat, saat aku bertemu dengan Ghavi di lift hotel.
"Memang tiga ratus ribu? Notifikasi dari bank, katanya tiga puluh juta masuk." ungkap Tika dengan wajah herannya.
"Ya kau jangan buka di sini, Bodoh!" sewot Ghavi, membuat gelak tawa kami berbaur di atas piring kotor ini.
...****************...
__ADS_1
Senangnya bisa ngobrol hangat. Mana penuh gurauan lagi 😆