Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD199. Aduan Chandra


__ADS_3

"Banyak sih? Apa kata tante Shasha?" mamah Dinda membuka kantong plastik yang aku bawa.


"Kangen Adi Riyana katanya, Mah. Bahas masa lalu terus."


Aku menoleh cepat pada laki-laki yang ikut dalam lingkaran obrolan Zuhdi dan papah Adi. Mas Givan tertawa samar, pasti ia tertawa karena ia sudah membohongi ibunya.


"Jadi, aku masih punya saingan Bang?" mamah Dinda menoleh ke arah papah Adi.


"Masih, Dek. Makanya senengin suaminya coba, biar tetap jadi juara di hati Abang."


Giska menutupi wajahnya dengan tertawa geli. Aku pun merasa malu sendiri mendengar ucapan papah Adi.


"Ck... Ngelunjak aja udah tua juga!" mamah Dinda seperti menggerutu.


"Adek pun sama!" papah Adi melirik geram pada mamah Dinda.


Mereka sama-sama bisa berakting. Mereka sekarang sama-sama memasang wajah sombong.


"Mana buat Abang, Dek?" Zuhdi mencolek pinggang istrinya, yang tengah menyusui ini. Giska begitu bebas menyusui, di hadapan keluarganya. Ia seperti tidak merasa malu.


Apa seminim itu rasa malunya pada saudara dan ayahnya sendiri?

__ADS_1


"Mana buat para jantan, Mah?" Giska menyentuh lengan mamah Dinda.


"Bentar. Telpon abang kau, udah tidur belum gitu. Suruh makan juga, abang kau males makan terus beberapa hari ini." mamah Dinda memilah-milah bungkusan makanan ini.


Aku menoleh cepat, saat mendapat colekan dari seseorang. Ya, itu mas Givan. Aku dekat dengan mas Givan yang tengah bersandar di tembok.


"Betul tak anak suami kau? Salah kali. Ghifar kek gitu, malas makan, kalau Kin lagi ngidam."


Senyap, tidak ada suara.


"Ghifar tak bisa berdiri, Van. Ternyata dia masih kek gitu, Mamah kira dia sembuh." semua mata tertuju pada mamah Dinda.


"Tapi, Mah. Kok kak Kin bisa hamil? Aku heran denger cerita dari Giska."


"Mamah ngobrol sama Kin tadi. Katanya biasa aja, kadang tak diapa-apain pun Ghifar bereaksi sendiri. Di mata Kin, Ghifar normal. Sekarang lagi perang dingin, gara-gara Kin minta KB. Tapi Ghifar tak kasih izin." kami manggut-manggut mengerti, menyimak penjelasan mamah Dinda yang menekan suaranya. Karena, kami tengah berghibah.


"Pa... Ma lak."


Kami terhenyak kaget, lalu mencari sumber suara. Pandangan kami mengarah ke arah tangga, Ghifar turun dari sana dengan menggendong bayi dalam lain jarik dan juga menggendong Chandra.


Chandra di sini dikenal sebagai anak yang susah tidur. Padahal, saat selalu bersamaku dulu. Chandra adalah cerminan diriku yang mudah tertidur.

__ADS_1


"Dari ekspresinya sih, keknya lagi ngomongin orang, terus orangnya lewat." sindir Ghifar yang telah berpijak di lantai bawah rumah ini.


"Betul itu." jawab papah Adi begitu lantang.


"Dodol!" mamah Dinda mendelik tajam pada suaminya.


"Ne.... Ma lak." Chandra menangis manja dengan berlari ke arah mamah Dinda.


"Apa artinya, Far?" mamah Dinda mendekap tubuh anakku.


Chandra begitu manja pada nenek dan kakeknya.


"Nenek, ma galak." Ghifar duduk di dekat mamah Dinda, ia menyempil di antara aku dan mamah Dinda.


Ia melepaskan kain jarik dari bahunya. Kemudian, terlihatlah bayi yang masih membuka matanya.


"Bang... Tolong ambilin kasur bayi itu!" Ghifar menunjuk barang-barang yang tersusun rapih di bawah tangga.


Barang dan mainan anak-anak yang berada di lantai bawah, memang di tempatkan di gudang kecil di bawah tangga. Menurut mamah Dinda, agar barang yang di atas tidak perlu diturunkan.


...****************...

__ADS_1


Belum mulai 😏


__ADS_2