Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD422. Canda tawa menemani malam


__ADS_3

Namun, mamah Dinda langsung menahan tanganku.


"Tak usah dihubungi. Biar apa coba?" tanyanya dengan raut tidak suka.


Aku memperhatikan beliau, "Mah, besok aku udah di rumah sakit. Mamah harus ada yang nemenin." aku tidak mengatakan secara langsung, bahwa aku tidak bisa mengurus beliau.


Beliau terdiam sejenak. Mungkin beliau sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Ya udah, terserah kau. Perempuan yang di depan itu, nanti dia yang urus Ceysa. Biar kau bisa fokus ke anak kau yang bayi dan pemulihan aja. Masalah bayaran, katanya tak apa kalau kau udah ada uang. Itung-itung dikumpulkan gitu." ungkap mamah Dinda kemudian.


Aku mengangguk, "Iya, Mah. Nanti aku sampaikan ke mas Givan." aku fokus kembali ke ponselku.


Dua nomor kontak tersebut, tidak mengangkat panggilan teleponku. Membuatku memilih untuk mengirimi mereka pesan saja.


"Mamah pengen istirahat dulu, Canda. Kau ke depan aja."


Aku memperhatikan mamah Dinda sejenak, "Ya, Mah. Panggil aja kalau butuh bantuan." aku beranjak dari kamar ini.


Laki-laki dari Lima Satu Studio itu sudah tidak ada di sini. Tinggal ada perempuan tersebut yang duduk seorang diri di ruang tamu. Ke mana perginya mas Givan?


"Mamah, mamah.... Mamah mana, Kakak Ipar?" Kinasya tergesa-gesa masuk ke rumahku.


"Di kamar." aku menunjuk kamar yang mamah Dinda tempati.


Kinasya mengangguk, kemudian langsung berlari ke arah sana. Dua bocil Ghifar pun, mengikuti.


Setelah mereka masuk, disusul dengan Winda dan Tika. Heboh sekali anak-anak mereka, apalagi di kembar yang jarang dilepas. Belum lagi gerombolan laki-laki itu, Ghava dan Ghavi. Juga Ghifar, yang masih mengenakan pakaian kantor dengan rapi.


Tak lama kemudian, muncul juga rombongan yang tinggal di rumah Giska. Giska, Zuhdi dan papah Adi. Ya, papah Adi dipaksa tinggal di rumah Giska sejak hari itu. Mereka tergesa-gesa, dengan dua anak laki-laki itu yang terlihat bingung.


"Main sama sama bang Chandra." aku menggiring Hadi, untuk menuju ke rumah Chandra.


"Eunceysa mana, Biyung?" Hadi mangkrak di tengah jalan.


"Di rumah ibu, mau ke sana kah?" aku duduk di teras rumah Chandra, dengan menggandeng tangan Hadi.


"Aduh, Hadi tuh pusing kalau tak ada Eunceysa. Tapi takut dimarahin abu, kalau keluar pagar. Katanya jangan ke mana-mana." Hadi malah duduk di sebelahku dengan bertopang dagu.


Sangat heboh di sana, sudah seperti hajatan. Aku pun mengajak Hadi untuk ke rumah saja. Karena, para penghuni anak-anak ini sedang tidur siang sepertinya. Ya, sekarang jam tidur siang mereka.


Mas Givan pun, sudah masuk kembali dari pintu samping yang terhubung ke halaman rumah Ghifar. Mereka sibuk menanyakan kondisi mamah, lalu meminta mamah bercerita.


Sampai, akhirnya....


"Pulang yuk, Dek? Biar Abang yang urus, Canda mau lahiran."

__ADS_1


Kami terdiam dengan saling memandang di kamar mamah Dinda ini.


"Ish, Cendol!"


Aku tersentak kaget, karena mas Givan menepuk punggung tanganku.


"Orang tuh, tangannya jelalatan aja!" lanjutnya dengan memelototiku.


Aku terkekeh, kemudian menyembunyikan wajahku di lengannya. Mas Givan enak dipegang-pegang, tapi ia selalu heboh jika dipegang-pegang. Lebih-lebih, ia pernah menggigit tanganku, karena aku meraba-raba area rahangnya.


Mas Givan sudah seperti hamster.


"Diapain, Van?" tanya Zuhdi, yang duduk di sandaran kursi yang mas Givan duduki.


Mas Givan mendongak menatap Zuhdi, "Usap-usak ke paha, makin naik aja dibiarkan tuh."


Aku terkekeh geli, dengan bersembunyi malu. Aku nyaman mengusap-usap tubuhnya, meski dengan keadaan tidak ingin. Apa ya namanya? Memang enak saja mengusap-usap tubuh mas Givan.


Sejak hamil, aku memiliki kebiasaan aneh.


"Aku udah bayangkan anak kau lahir kek mana repotnya kau." celetuk Zuhdi, dengan terkekeh kecil.


"Entahlah, anak yang dari kandungan saja udah bikin menangis air mata." mas Givan menyandarkan punggungnya.


"Ini aku lah, Mas." aku menepuk pahanya.


Mas Givan menoleh ke arahku, "Iya tau. Tapi kek kena sawan. Masalahnya, Canda itu tak nemplok aja dulunya."


Benarkah aku begitu?


"Mas, jangan bilang roh aku ketukar?" aku memainkan jemarinya.


"Bukan ketukar, tapi kau kena sawan." mas Givan meraup wajahku.


"Ya, Dek?"


Obrolan kami terganggu, karena papah Adi sejak tadi menyebut mamah Dinda dek melulu. Tapi, tidak di sahuti oleh mamah Dinda


"Aku di rumah Givan aja." jawab mamah Dinda datar.


Hingga malam harinya, anak laki-laki papah Adi berikut papah Adi pun berkumpul di sini. Satu dua orang dari mereka, seringkali bolak-balik menuju ke kamar mamah Dinda.


Mereka benar-benar seperti milik ibunya. Benar adanya, jika memang anak laki-laki sampai kapanpun akan menjadi milik ibunya.


"Eh, enak mana Bilqis sama ibu kita Pah?" dasar mulut mas Givan ini.

__ADS_1


Kami berkumpul di ruang keluarga, dengan mas Givan duduk di karpet dengan memijat kakiku yang duduk di sofa. Aku sudah diminta untuk tidur, tapi ia tidak mau menemaniku.


Sedangkan papah Adi, beliau duduk di sebelahku.


"Kalau enak ya kemarin udah sah kali." sahut papah lirih.


Mungkin, agar tidak terdengar oleh mamah Dinda yang sudah pulas.


"Katanya nih, speaknya gahar. Terus, bisa kayang juga." tambah Ghava, yang membuatku tertawa geli.


"Menang karena perawan aja." jawab beliau lirih.


Oh, jadi pak tua ini masih mendapatkan jatah selaput perawan?


"Jangan salah loh, Pah. Jaman sekarang, perawan bisa dibuat." ujar Ghifar.


"Ya, kata Lendra pun dia pernah Pah." tambah mas Givan dengan menunjukku dengan dagunya.


"Mamah kau pun pernah. Tapi kan beda, perawan asli sama buatan. Waktu mamah itu, setelah lahiran yang kecil kalau tak salah. Nifas satu bulan, ambil tindakan. Jadi puasa sampai tiga bulan kemudian. Total empat bulan libur. Kalau kau nanti, minimal enam bulan ya Van?"


Obrolan ini penuh dengan canda tawa. Tidak ada ketegangan dan keseriusan di sini. Dengan pernyataan beliau seperti ini, aku menyimpulkan bahwa Bilqis mengikuti papah Adi karya beliau yang mengambil keperawanannya.


"Tak tau, Nadya dulu sesar aku tak pernah noel-noel betul. Sampai dia dipenjara, sampai dia balik ke orang tua."


Eh, iya. Nadya pun lahiran lewat jalur operasi.


"Mas tuh dulu kek ke aku tak, pas tau Nadya harus lahiran lewat operasi?" tanyaku kemudian.


Pijatannya cukup nyaman, sayangnya sering terhenti.


"Tak tau-tau malah, dia sama temen aja. Zio pun, diadzanin setelah sehari lahir. Bayinya kecil, langsung masuk tabung."


Heh?


Kok ada suami setega dirinya?


"Kok ke aku lebay?" aku mengusap keringatnya yang menitik di pelipisnya.


"Ya karena aku cinta kamu, kamulah rumahku. Tapi aku tak mau kau tau, nanti kek Ai. Aku paham memposisikan diri dan menyamarkan rasa, kau tak perlu tau tentang bagaimana aku." ia berbicara lebay dengan mulut monyong-monyong.


Kami semua terkekeh geli. Mas Givan bisa saja membuat kami tertawa bersama.


...****************...


Ketawa-ketawa ya hari ini 🙄 Belum saja 😆

__ADS_1


__ADS_2