
"Tapi ya udahlah. Semua udah terjadi. Mungkin, cuma sampai di sini jodoh kita." senyumnya begitu membuatku tentram.
"Terus, perasaan kau sekarang?" tanyaku kemudian.
Ia mengedikan bahunya, "Aku tak tau pasti. Tapi untuk sekarang, cuma Putri perempuan yang dekat sama aku. Itu pun, mungkin karena jaringan bisnis aja. Kadang aku mikir begini. Mantan istri, sama mantan pacarnya pacar aku. Aku, sama mantannya suami mantan istri aku."
Aku tergelak mendengar penuturannya, "Belibet betul." aku masih renyah tertawa.
"Kau sih tak tau terus, Mas. Pikir aku sih, kau sama Fira aja dari pada Putri. Fira ibaratnya pemain lama, kau udah tau seluk beluknya." lanjutku, karena tidak ada percakapan lagi di antara kami.
Ia melirik sekilas, "Udah tau rasanya."
Kami tertawa bersama. Humor kami, hanya sebatas itu ternyata.
"Fira tak mau bersangkutan lagi sama keluarga Riyana sebetulnya. Lagi pun, aku maupun Fira sama-sama belum ada keinginan buat menikah. Beda sama Putri, keinginan untuk berumah tangganya itu besar. Mungkin, karena Putri udah ada anak dan dokumen anaknya belum aman. Dia pun sering nanyain perasaan aku ke dia bagaimana." ia membenahi posisi anaknya.
"Terus kau jawab apa, Mas?" aku mengambilkan bantal sofa, untuk Chandra dekap. Chandra biasa tertidur dengan memeluk bantal.
"Ya aku jawab, mungkin aku udah mulai bergantung sama kau, tapi untuk cinta keknya masih samar. Sampai hari kemarin, aku ini keberatan nerima Jasmine. Apa lagi, kelak aku nanti akan jadi ayah di dokumennya. Besarin anak orang itu, menurut aku tak mudah Canda. Sama anak sendiri aja, kalau lagi capek, suka jadi sasaran amarah aku, apa lagi sama anak orang. Belum lagi masalah pendidikannya kelak. Masa Lendra sadar pun, aku ngobrol masalah Jasmine ke Lendra. Kata dia, kau butuh sumbangan aku buat besarin Jasmine. Songong tak tuh mulutnya ayahnya Ces?!" ia menjeda kalimatnya dengan menarik cairan di hidungnya.
Daerah sini cukup dingin ketika malam. Pilek bisa saja tiba-tiba menyerang.
"Kata aku, aku bukan butuh sumbangan, aku butuh ibunya Jasmine, tidak dengan Jasmine. Toh, nyatanya Jasmine butuh aku untuk di dokumennya. Kalau kau mau lepas tangan, tak mau biayai Jasmine, cari aja laki-laki yang mau untuk jadi ayah di dokumennya Jasmine. Aku butuh ibunya, bukan anaknya. Anak aku udah terlalu banyak, mereka belum ada tabungan pendidikan ke depannya. Aku harus ngutamain anak-anak aku dulu, bukan anak orang dulu. Kalau kau mau, kau bisa bawa Jasmine. Aku tak keberatan, toh Putri juga kelak bakal besarin anak-anak aku, anak aku sama dia juga. Lambat laun pun, Putri mungkin terbiasa dengan ketidakhadiran Jasmine di dekatnya."
Orang baru sembuh operasi, mas Givan malah mengajak berdebat.
__ADS_1
Dari awal pun kentara sekali, bahwa mas Givan keberatan dengan Jasmine. Saat Ghifar menyebutkan bahwa ia adalah ayah sambung Jasmine, sahutan mas Givan sudah tidak ramah lagi.
Pikiran mas Givan, adalah pikiran seorang orang tua, bukan seorang ayah. Ia hanya berpikir, untuk membiayai dan memberi pendidikan yang jelas. Ia sadar, bahwa ia sudah memiliki banyak tanggung jawab. Mungkin karena itulah, ia keberatan untuk membesarkan Jasmine tanpa bantuan bang Daeng.
"Terus Lendra bilang apa? Pas kau jawab berani gitu, Mas?" aku masih menunggu ceritanya.
"Dia diam aja. Terus aku nyambungin lagi. Kau ini terlalu nyeleneh jadi laki-laki. Jujur aku di depan kau, aku ini lagi melarat, aku miskin, usaha aku kacau. Putri datang dengan segudang uang dan kecerdasannya, plus secuil cinta yang ia kasih ke aku. Aku yang notabene orang miskin, senang dong dapat uang, mana dapat cinta lagi. Ini aku baru satu tahun sama dia, aku belum terlalu jauh juga. Kau masih bisa ambil Putri balik, terus besarin sana anak kalian. Sebaik-baiknya orang tua sambung itu, masih mending orang tua kandung." ia menjeda kalimatnya lagi, kemudian ia menarik nafas panjang dari hidungnya yang berair itu.
"Lendra melotot aja. Enak di kau, katanya. Kau udah stabil, kau udah nyicipin ini itunya, malah kau balikin lagi barang bekas kau ke aku. Aku baru tau, ternyata Lendra ini pemikir yang handal. Dari ucapan aku, bukannya dia fokus ke Putri. Tapi, dia malah fokus ke Putri yang udah support aku habis-habisan." ia terkekeh kecil.
"Terus, terus?" aku ikut bersemangat, untuk mendengar ceritanya.
"Akhirnya, kata dia. Aku tak mungkin bawa Jasmine sama aku, ruang lingkup aku terlalu bahaya untuknya. Anggap lah dia, kek anak kandung kau sendiri. Semampu aku, aku bakal support finansial untuk kebutuhan Jasmine. Cepatlah nikahin ibunya, biar Jasmine bisa sekolah." mas Givan memandangku begitu lekat, "Yang jadi masalah sekarang, aku tak bisa nikahin ibunya. Aku masih malas rumah tangga." wajahnya langsung terlihat lesu.
"Malas kenapa sih, Mas? Kan enak, ada yang urus, ada yang menuhin kebutuhan biologis kau." aku masih tidak mengerti, kenapa mas Givan sering mengatakan malas berumah tangga.
Aku mengerutkan keningku, "Dosa lah, Mas. Kalau kau punya istri. Kau ngobrol begini sama istri aja, kau udah dapat pahala."
Ia mengangguk, "Aku paham dosa. Tapi aku hanya nanggung dosa badan aku sendiri. Beda kalau ada istri, aku harus nanggung dosa istri juga."
Yang ia katakan pun benar. Aku jadi merasa bodoh, jika mengobrol dengan orang yang pandai.
"Tapi enak deh punya istri, Mas." aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Tergantung bagaimana kita, kalau untuk itu. Kalau suaminya kek aku, makan di rumah terus, mungkin enak, badan pun sehat. Kalau kek Lendra, usus buntu juga."
__ADS_1
Aku dan mas Givan malah tertawa bersama. Jika ada bang Daeng, pasti ia akan sangat marah.
Bukan rahasia lagi, jika bang Daeng adalah manusia yang suka makan di luar. Makanan siap saji, makanan yang tidak tahu terbuat dari apa.
"Jadi, kau masih tetep pengen sendiri?" aku membawa obrolan kami kembali.
"Menurut kau gimana, Canda? Aku ini lagi tukar pikiran. Aku lagi butuh pendapat. Tapi aku tak mau Putri tau, nanti dia sakit hati, kalau tau aku begini ke dia."
Ohh, ternyata ia butuh saran.
"Aku udah kasih pendapat, kau tepis terus." aku meliriknya sinis.
Ia terkekeh kecil, "Iya ya? Jadi gimana tadi? Kasian juga sih sama Jasmine, dia udah bisa baca tulis dari les privat-nya. Tapi kan kau tau, jaman sekarang SD itu harus TK dulu. Jasmine udah telat satu tahun, dia udah enam tahun sekarang. Masuk TK satu tahun, langsung nol besar, tahun depannya langsung SD. Kalau dari tahun kemarin, Jasmine bisa TK nol kecil dulu."
Akhirnya, ia memikirkan Jasmine juga. Harusnya sih, memang ia memikirkan Jasmine. Karena bang Daeng tidak bisa melakukan apa-apa, pernikahan untuk mendapat dokumen pun, ia tidak bisa mengusahakannya.
"Kau dijodohkan tak sih, Mas? Soalnya aku ada perjodohan, ya memang baru dikenalin aja." aku ingin tahu tentang ini.
"Nah, iya." ia menjentikkan jarinya.
"Sama berarti, Canda. Aku pun belum cerita, tentang aku masih sama Putri. Pas tadi, aku lagi makan. Papah bilang gini. Tahun depan, Ria udah tujuh belas tahun lebih. Kalau kau sekarang bisa jadi lebih baik, kau bisa turun ranjang sama.....
...****************...
Sebenarnya Givan sekarang itu, dia masih Givan yang kecil. Pola pikir, kecerdasan, pertimbangan hidupnya masih sama. Cuma, dia ini kek ke bawa angin terus. Ibarat pohon, dia ini ada di paling pucuk. Angin lari ke barat, serong dia ke barat. Angin lari ke timur, serong dia ke timur. Ditambah lagi, pemikirannya ini pro terhadap se*s. Mungkin orang tuanya ngajarin, yang penting jangan hamil kali ya. Karena papah Adi pernah bilang, tentang anak-anaknya yang nyicipin perempuan, itu tergantung keimanan mereka, yang penting mereka sebagai orang tua udah tau ilmu basic, bahwa yang nyebabin pembuahan itu, karena sel telur bertemu dengan sp*rma.
__ADS_1
Gimana pendapat kalian? 🤔