
"Sebenarnya, aku istrinya bang Lendra. Tapi, Kak. Siapa sih perempuan yang rela cintanya dibagi? Bang Daeng tunangan gitu aja, padahal masih jadi suami aku." perdana, aku mengakui hal ini pada kak Anisa.
Aku khawatir, melihat kak Anisa tak berkedip dengan makanan yang menyumpal mulutnya. Apa ia tersedak?
"Kak? Kenapa?" aku menepuk-nepuk lengannya.
Namun, kak Anisa cepat-cepat mengunyah dengan menganggukkan kepalanya.
"Paham, paham. Pantesan, dia bilang di email-nya bang Dendi, bahwa kau minta rumah."
"Itulah, Kak. Kabar bang Daeng nikah pun, aku tau dari bang Dendi. Masa itu, aku masih nunggu dia pulang di kos-kosan Padang. Chatting aku sama bang Dendi, biasa tukar kabar aja. Terus bang Dendi ngasih tau itu. Aku pun tak tau, bahwa aku masa itu udah hamil. Aku pergi pun, aku tak tau kalau aku lagi hamil. Udah begini, apa-apa aku harus cerita ke papah Adi. Masanya aku dan kandungan aku kuat di perjalanan, aku sama papah Adi bakal datang untuk nemuin dia." terangku kemudian.
"Baguslah, kalau papah Adi urus juga." timbal kak Anisa, dengan melanjutkan acara mengemilnya.
Ternyata, ia adalah mamak-mamak hamil yang suka mengemil. Tidak seperti aku, aku adalah tukang tidur yang handal.
"Terus cerita apa lagi tentang bang Daeng, Kak?" aku meraih layar ponselku.
Profil bernama Noy, ternyata mengirimku permintaan pertemanan. Aduh, bagaimana ini?
"Putri." kak Anisa menarik nama itu.
Moodku langsung buruk. Aku pun, langsung menaruh ponselku begitu saja.
"Mereka bakal nikah setelah lebaran nanti. Putri bikin story, tentang undangan mana yang bagus. Foto kebersamaan mereka pun, sampai-sampai menuhin wall IG Putri." kak Anisa mengutak-atik ponselnya kembali.
"Nih." ia menaruh ponselnya di atas bantal yang aku peluk.
"Udahlah, Kak. Aku tak boleh stress, udah aja." aku mengembalikan ponsel itu.
Kak Anisa menghela nafasnya, "Ya udah deh. Menurut aku sih, cepat-cepat aja bilang ke papah. Nanti aku inbox, mintain nomornya. Kalau kau berani, tinggal kau inbox aja ke Noy tadi. Udah setengah enam, aku mesti pulang." kak Anisa turun dari ranjang.
"Tolong buangin ya sampahnya, malu." ia cekikikan melihat snacknya yang habis tak tersisa.
"Iya, taruh aja di tempat sampah dekat kamar mandi itu. Biar aku yang buangin nanti." aku menunjuk satu pintu, yang berada di dalam kamarku.
"Pamit dulu ya? Bye-bye." ia nyelonong pergi.
Aku langsung meraih ponselku. Terdapat banyak notifikasi di sana. Rasanya percuma aku memblokir akun bang Daeng, karena ternyata ia membuat akun baru.
Aku merasa, aku belum kuat dalam perjalanan. Tidak masalah jika naik motor, hanya saja pasti naik mobil. Bisa-bisa pas turun mobil, aku sudah lemas tak berdaya.
Adek... Ini Abang, Sayang. Adek kemana aja? Abang nungguin di kos, Adek lama gak pulang-pulang. Mau Abang jemput kah?
Air mataku luruh dengan sendirinya.
__ADS_1
Ucapannya, hanya bisa menyakitiku. Aku tersakiti, dengan kalimatnya yang seolah-olah tak ada apapun yang terjadi.
Aku mengambil kain jarik milik Chandra, karena kini Chandra tidur di kamarku bersama ibu. Kemudian, aku menggendong Zio dengan menggunakan kain ini. Aku turun ke lantai bawah, untuk mencari tempatku berkeluh kesah dan meminta pertolongan.
"Papah.... Mamah...." aku berjalan pelan, karena lantai ini sehabis di pel.
"Duduk situ! Licin!" teriak papah Adi, dari teras rumah.
Aduh, masa iya aku tiba-tiba duduk. Aku seperti kue ulang tahun nantinya.
"Papah sini lah, Pah. Mamah mana?" aku berseru, agar papah Adi mendengarku.
"Mamah anter kue ke besannya, orang tuanya Zuhdi. Duduklah kau di tangga itu! Papah masuk dari pintu samping."
Aku mengerti, aku langsung berjalan pelan untuk duduk di anak tangga.
Alhamdulillah, akhirnya part belakangku nempel juga.
Tak lama, papah Adi muncul dari pintu samping.
"Chandra mana? Dari tadi tak nampak." beliau mengusap pelipisnya dengan lengan baju.
"Tidur, sama ibu di kamar anak-anak. Chandra pilek, Pah." laporku pada beliau.
"Ada apa?" ia sudah sampai di dekatku. Ia meraih kursi, lalu duduk di dekat tangga.
"Pah... Papahnya anak aku ngabarin. Gimana ini, Pah? Diapun sampai inbox." aku menunjukkan ponselku.
Papah Adi menerima ponselku, "Bisa nelpon lewat inbox tak sih?" sepertinya beliau membuka pesan tersebut.
"Bisa, Pah. Tapi kualitas suaranya kurang bagus." itu yang aku ketahui.
Namun, tiba-tiba beliau langsung menempelkan ponselku pada telinganya.
Otot kakiku langsung kendor rasanya. Rasa lemas dan dingin mengerubungiku.
"Hallo..." papah Adi menjauhkan ponselnya.
Kresek-kresek yang cukup jelas terdengar. Rupanya, papah Adi mengaktifkan speaker.
"Ya, Dek." suara yang aku rindukan, kini aku dengar.
"Ini Papahnya Canda. Ada di mana kau? Saya mau nemuin kau." suara tegas papah Adi, membuatku campur aduk.
Benar-benar audio atau sinyalnya yang buruk. Suara dengungan cukup memekakan telinga.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Pah. Aku suaminya Canda. Biar aku yang berkunjung, sekalian jemput Canda." suara itu terdengar begitu jauh.
"Kirim nomor kau! Biar nanti Saya hubungi."
"Ya, Pah. Bisa, langsung Saya kirim nomor Saya."
Tut....
Papah Adi sepertinya menekan ikon merah, kemudian ia menyerahkan ponselku kembali.
"Sakit telinga, ngak-ngik aja."
Aku terkekeh geli, mendengar penuturan beliau.
"Eh, Dek. Dia masih ngakuin, bahwa kau istrinya." ujar papah Adi kemudian.
"Ya, Pah. Sama bang Dendi pun, dia ngabarin juga, nyariin aku, sampai dia datang ke Kuala, ke rumah orang tua bang Dendi."
Papah Adi manggut-manggut, "Nanti biar papah cari tau ke Dendi. Mau ngobrol sama mamah juga. Save aja nomor dia. Tapi jangan tukar kabar dulu, dia jangan sampai tau keadaan kau. Biar kalau dia ke sini, Papah bisa paham gesturnya. Kalau dia tau dari HP, nanti dia kek latihan dulu."
Aku mengangguk, "Ya, Pah." aku tidak akan membalas pesan dari bang Daeng.
"Ya udah, papah mau cari Gavin Gibran dulu. Ngaji tak sama Ria, langsung mereka main rupanya." ujar papah Adi, dengan melangkah menuju ke pintu samping.
Aku jadi tak tenang. Bagaimana nanti? Terus, nasib pertunangannya dengan Putri bagaimana?
Aku benar-benar tak mengerti, isi kepala bang Daeng. Apa ya kira-kira, yang ada di pikirannya?
Tring.....
Ada pesan masuk di inbox kembali.
08××××××××××
Adek pergi ke orang tua, kenapa gak kabarin Abang dulu? Apa yang dipikirkan orang tua Adek tentang Abang nanti. Pasti prasangka mereka jelek.
Abang kangen, Abang mikirnya udah jelek. Adek pergi gak ada kabar, pikiran Abang udah buruk aja.
Gimana kabar Adek di sana? Salam ya untuk orang tua Adek.
Abang lagi ada trip ke Bukittinggi. Trip kali ini cuma delapan hari. Abang kontek nomor Abang, biar kita bisa Videocall.
Alamat Adek di mana, lepas trip Abang langsung meluncur.
Adek, balas.
__ADS_1
...****************...
Dibalas gak hayooo 🤗