
"Heran gimana? Orang Adek yang ambil semua. Asuransi aja tak bisa diklaim. Cuma minta tanda tangan buat asuransi aja, kek minta apa susahnya. Sendirinya yang bertindak, malah sendirinya yang keheranan." aku merasa papah Adi berani menjawab di sini.
"Itu milik aku, itu hak aku. Itu pun konsekuensinya, kalau berani main-main sama aku. Kalau mau, silahkan proses. Terus usut juga persoalan gono-gini. Ingat ya, usaha Abang itu tak bisa berkembang tanpa campur tangan aku!" mamah Dinda tersenyum miring.
Sombongnya mirip mas Givan. Eh, mas Givan yang mirip mamah Dinda.
Aku mengusap-usap perutku. Aku takut anakku sawan mamah Dinda.
"Abang tak mau proses." sahut papah Adi dengan bersedekap tangan.
Papah Adi tidak makan makanan yang Kinasya hidangkan sedikit pun.
Mamah Dinda mencolek ibu Bilqis, "Heh, proses tuh! Terus sana kawin, biar tak jadi perawan tua seumur hidup! Terus hafalin nama anak cucunya, urus juga nanti dua bungsu yang pesantren di Aceh Besar. Perenam bulan, minimal tiga puluh juta, kau harus keluarkan buat biaya dua bungsu."
Mamah bercerai, dengan paman bungsu yang ikut ibu sambung?
Aduh, jangan dong.
"Motivasi Adek itu apa sih, sampai nyuruh Abang buat ceraikan Adek?" bibir beliau sempat bergetar.
"Abang kan udah milih orang lain. Aku udah tak berfungsi. Daripada mubazir, lebih baik buang aja barang lamanya."
Aku tidak kuasa, mendengar mamah Dinda merendahkan dirinya sendiri.
"Jangan ngomong kek gitu, Dek. Adek yang terbaik. Kita hanya perlu bicara." papah Adi mencoba meraih tangan mamah Dinda yang berada di depan meja.
Meja makan ini tidak begitu lebar. Meja makan ini cenderung panjang, persis seperti meja bar. Apalagi, meja makan ini menyatu dengan rak dapur.
"Dari awal, aku udah ajak Abang ngomong. Aku udah kasih saran, biar kita bisa tetap baik-baik aja. Tapi, Abang yang seolah acuh sama pendapat aku. Abang bahkan nyangka aku ini ngaco, mengada-ada. Yang mungkin juga, Abang nyangkanya bahwa aku ini gila." ujar mamah Dinda, membuat suasana hatiku semakin getir.
"Tapi Abang tak selingkuh, Dek. Tuduhan Adek terlalu jauh waktu itu. Pikiran Adek, terlampau tinggi masa itu. Abang tak yang kek Adek kira." papah Adi masih menggenggam erat tangan itu.
"Tak usah ngelak, Bang. Aku paham, aku ngerti. Udah, sana ikut pulang sama perempuannya." mamah Dinda melepaskan cekalan tangan suaminya.
Papah Adi menggeleng berulang, "Tak, Dek. Ayo kita sama-sama lagi?"
Aku yang sudah mengorbankan beberapa tisu, papah Adi yang terisak. Sedangkan sang ratu, masih datar saja.
"Ayo pulang sama aku, Bang? Abang udah tak diharapkan lagi. Kan aku udah bilang dari awal, biar aku bantu prosesnya. Nungguin Bu Dinda, udah pasti diulur-ulur. Ibu Dinda pasti susah lepaskan Abang." ungkap ibu Bilqis ini.
Semua mata tertuju pada tersangka yang paling berani ini.
__ADS_1
"Silahkan bawa! Aku tak akan nahan." sahut mamah Dinda.
"Kau begitu bangganya dan beraninya dengan tindakan kau sendiri. Suami orang kalau mungkin memilih kau ini bukan karena cinta, hanya sebagai pelampiasan sy*hwat aja. Kalau akhirnya terus bersama, itu hanya keterpaksaan laki-laki untuk mengendalikan syah*atnya aja." lanjut mamah Dinda bertutur dengan nada lirih.
Mungkin karena ada anak-anak di sini.
"Ibu ngomong seolah-olah saya ini pelakor." tukas ibu Bilqis, dengan sorot mata marah.
"Menurut Saya, istilah pelakor itu kurang tepat untuk kau. Hati seseorang tidak bisa direbut, kalau orang tersebut tidak menginginkan untuk direbut." mamah Dinda menoleh ke arah suaminya, "Kalau selingkuh, itu mungkin lebih pantas. Karena butuh kesepakatan minimal dua orang." mamah Dinda mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Memberikan perhatian pada pasangan sah orang lain, menerima curhat, sering kontak-kontakan, saling menasehati. Padahal, itu udah bagian dari selingkuh." mamah Dinda fokus pada ibu Bilqis.
Aku ingat penjelasan tentang sebuah dalil, yang dijabarkan oleh mamah Dinda barusan.
"Barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya, mereka bukan bagian dari kami. Hadis riwayat Ahmad." aku berbicara sendiri dengan lirih.
Aku tertunduk, karena begitu lelah menangis tanpa suara sejak tadi. Siapa yang bermasalah, tapi aku yang begitu payah menangisinya.
Aku seperti korban kisah drama.
Aku merasa tersindir. Aku pun pernah begitu berdosanya meladeni Ghifar saat di kamar itu. Aku begitu pasrah saat ia menjamahku. Meski kami tidak pernah bertukar pesan, bahkan curhat tentang kehidupan kami.
"Kau kenapa, Dek?" papah Adi menyodorkanku segelas air putih.
Aku menggeleng, dengan tetap menangis lepas. Aku sesenggukan seorang diri, dengan menatap orang-orang tua yang tidak jelas ini.
Kinasya berjalan ke arahku, kemudian ia memelukku.
"Maaf kenapa? Kau jangan bikin aku panik, Kak? Kau kerasukan reog kah?" Kinasya menepuk-nepuk lenganku.
Aku menggeleng, "Aku ingat masalah kita dulu." aku berbicara sembari menangis.
"Kan udah lama kejadiannya, udah selesai juga. Aku sama Ghifar dan kau pun udah baik-baik aja, Kak. Orang hamil jangan nangis begini, jangan stress. Kakak Ipar rawan pendarahan loh. Diingat-ingat, jangan kek gini."
Kinasya yang tidak waras, bisa memaafkanku seperti ini. Aku merasa, bahwa aku yang tidak waras di sini.
"Kal.... Panggilkan ayah. Teriak aja dari halaman belakang yang dekat tembok samping, ayah lagi di halaman belakang soalnya." pinta Kin pada anaknya.
Tak begitu lama, suamiku datang dengan masih bertel*nja*g dada. Ia terlihat panik, dengan gerak langkah yang gesit.
"Ada apa, Canda? Kelolodan kah?" mas Givan langsung membingkai wajahku, "Apa duri nyangkut? Coba buka mulutnya."
__ADS_1
Herannya lagi. Aku malah membuka mulutku.
"Tak kenapa-kenapa. Gigi kau berkarang yang di paling ujung. Nanti lepas lahiran kita ke dokter gigi, buat basmi karangnya." mas Givan mengusapi air mataku dengan ibu jarinya.
"Rasanya pengen ngajak gelut authornya!"
Kami semua mencari sumber suara. Ternyata, Kinasya yang sedang menunjuk-nunjuk tembok. Beginikah orang tidak waras? Apa ia kesal karena aku?
Papah Adi tertawa, sampai beliau memegangi dadanya.
Mamah Dinda pun menyembunyikan wajahnya, dengan menutupi telapak tangannya.
Yang kebingungan di sini adalah ibu Bilqis. Karena anak-anak malah berebut ikan yang tersisa.
"Gimana sih, Kin?" tanya mas Givan yang tangannya masih berada di pundakku.
Kinasya berbalik badan, kemudian ia melangkah ke kursinya kembali.
"Istri kau ngacauin aja! Segala nangis, karena ingat dia pernah ngamer sama Ghifar." Kinasya menyantap kembali makanannya dengan melirik tajam ke arahku.
Mas Givan mengusap-usap kepalaku. Aku mendongak menatapnya.
"Gitu tuh hidup seorang perempuan yang pernah ngelakuin kesalahan. Kau bisa-bisa tak bisa nyium bau surga, kalau niat selingkuh sama pasangan sah."
Aku menangis kembali mendengar penuturannya, "Mas Givan....." aku menyembunyikan wajahku di perutnya.
Aku mendengar beberapa suara yang serentak tertawa.
Bodoh amat. Yang penting bagaimana caranya, agar aku tetap mencium bau surga. Aku merasa begitu berkhianat pada bang Daeng. Aku harus bagaimana, padahal aku sudah meminta maaf pada bang Daeng juga masa itu.
"Masalah Mamah belum selesai, Canda. Bisa-bisanya, kau malah drama queen gitu?" tutur mamah Dinda dengan nada santai.
"Kumenangis..... Membayangkan. Betapa kejamnya dirimu atas diriku. Kau duakan cinta ini, kau pergi bersamanya....."
Suara laki-laki lain itu menyanyi lepas. Sepertinya ia baru datang, karena suaranya berasal dari ruang depan.
"Ayo, ayo kita obrolkan. Mamah maunya gimana? Ibu Bilqis maunya gimana? Papah maunya gimana? Biar kita cari solusinya." ujarnya dengan senyum manisnya yang tiada tandingannya.
...****************...
Siapa yang ngeledek Canda kumenangis itu ya 😂
__ADS_1