
"Mau ke mana?!" aku curiga, saat Ria akan keluar dari pintu belakang.
Pintu belakang, adalah ruang yang bisa digunakan untuk menerima tamu. Memiliki tembok penyekat tinggi, karena bersebelahan dengan dapur dan kamar mandi.
Jika di lantai atas, per kamar memiliki kamar mandi pribadi. Termasuk, kamar milik Chandra.
"Keluar bentar, Mbak. Aku mau ada yang dibeli."
Parfum Ria sungguh semerbak. Ceysa sampai bersin-bersin di atas tadi, karena Ceysa tidak terbiasa dengan wewangian yang begitu menyengat.
"Sama siapa? Ke mana?" aku takut kecolongan.
"Sama temen, ke pasar malam." gelagatnya begitu mencurigakan.
"Temennya suruh ke sini." aku harus sedikit tegas padanya.
Ini adalah kali keduanya, ia mencoba keluar dari rumah. Saat pertama kali, ia lolos bisa pergi tanpa sepengetahuanku. Tapi pulangnya, ia terpergok masuk olehku.
Ria malah diam menunduk.
"Laki-laki ya? Coba suruh ke sini." aku lebih suka laki-laki yang gantle. Kembali lagi, tak apa ia jelek juga.
"Tapi, Mbak." Ria seperti akan menangis.
"Mbak tau ini malam minggu. Wangi lagi kau, pacaran ya kau? Ke kebun pisang? Atau ke kebun kopi?" tuduhku kemudian.
Ria menggeleng cepat, bibirnya sudah bergetar.
"Gak pacaran gitu-gitu, gak ke kebun pisang atau ke kebun kopi. Aku gak mojok." Ria sudah menangis pilu saja.
"Suruh laki-laki kau ke sini. Kalau tak, Mbak sita HP kau!" aku mengacungkan jariku ke arahnya.
Tangis Ria pecah. Ia berjalan menuju lantai dua dengan menghentakkan kakinya.
Ya ampun, dasar bocah. Enam belas tahun, sudah ala-ala pacaran.
Brakkhhhhh.... Brakkhhhhh, brakkhhhhh...
Ada yang menggedor-gedor rolling door yang sudah tutup tersebut. Aku tutup pukul enam sore.
Apa itu Ardi?
Tapi barusan aku mengirim pesan padanya, untuk bertamu lewat pintu belakang saja. Toh, di sini pun ada gang yang masuk dua motor. Ada rumah-rumah warga dan jalan umum.
Mamah Dinda, papah Adi atau yang lainnya pun. Biasanya lewat pintu ini, jika rolling door sudah tertutup.
"Ada apa, Canda???" seru seseorang, sepertinya ia adalah pelaku yang menggedor-gedor rolling door.
Aku berseru, "Dari belakang aja, udah dikunci."
Tak lama kemudian, muncul Zuhdi dengan menggendong anaknya. Pantas saja ia tidak tahu untuk lewat pintu belakang, ia bukanlah papah Adi atau mamah Dinda yang sering keluar masuk.
"Ada apa ribut-ribut?" ia masuk dan langsung melihat sekeliling.
"Itu Ria mau pergi pacaran. Suruh laki-lakinya datang ke sini, dia malah nangis." aduku kemudian.
Zuhdi terkekeh kecil, "Kakaknya mau pacaran, adeknya nyolong start. Pantaslah diamuk."
__ADS_1
Ia meledekku?
Apa ia tahu, bahwa adiknya akan berkunjung?
"Bukan begitu lah, Bang. Khawatir aku kalau Ria nurut aja dibawa ke kebun pisang, atau ke kebun kopi."
Zuhdi duduk di sofa minimalis milikku, Hadi pun langsung naik-naik dan loncat-loncat. Aku memaklumi hal itu, apa lagi Hadi adalah anak dari kerabat dekatku.
"Ajarin lah. Lebih nyaman di ranjang gitu, dari pada di kebun."
Aku harus ingat bahwa Zuhdi adalah manusia yang absurd dan random.
Aku tertawa samar, ia pun tertawa geli.
"Pacarnya orang sini kan? Gang ini loh, rumah paling ujung. Anaknya pak Iwan kalau tak salah." ia menunjuk ke arah barat, di mana gang yang memiliki akses dari bangunan bagian belakangku berada.
Aku menutup tralis besi, agar Hadi tidak bisa keluar sendiri. Lalu aku duduk, di sofa yang dekat dengan pintu.
"Abang tau?" aku penasaran mengenai ini.
"Pernah tengok mereka dua kali di pasar malam. Pas di pasar malamnya, terus pas pulangnya. Anak tanggung juga, kalau tak salah dia kelas tiga SMK."
"Khawatir aku, Bang. Ria gampang diiming-imingi. Apa lagi pakai bahasa, aku cinta kamu."
Zuhdi malah tertawa geli.
"Assalamualaikum..."
"Wah, ada Pak cek ngapel." mata Zuhdi terbuka lebar, ia melambaikan tangannya cepat pada Hadi.
Membuat Hadi kalap. Karena melihat ekspresi ayahnya itu.
Zuhdi seolah begitu puas, melihat anaknya ketakutan tersebut.
Aku bangkit, kemudian membukakan pintu tralis ini. Jika pintu kayu, memang masih terbuka.
"Dih..." Ardi terlihat begitu kaget melihat kakaknya berada di sini.
"Mau, mau..." Hadi langsung excited melihat barang bawaan pamannya.
"Bukan buat kau lah! Hadi udah eskrim sore tadi." ujar Ardi kemudian.
"Yuk, yuk. Jangan ganggu Pak cek, dia lagi training. Kita ke atas yuk, main sama bang Chandra." Zuhdi menggendong anaknya, ia menaiki tangga menuju lantai dua.
"Sok duduk." aku bingung caranya menerima tamu.
Ardi langsung mengangguk, lalu ia mengulurkan barang bawaannya padaku.
"Nih." ia terlihat cuek.
Aku jadi malu untuk bertanya mengenai barang apa yang ia bawa.
"Makasih."
Aku sepertinya salah tingkah sekarang. Kenapa pula aku malah mengatakan terima kasih?
Harusnya, aku mengatakan tidak perlu repot-repot. Atau basa-basi apa gitu, agar suasana tidak terlalu berkeringat seperti ini.
__ADS_1
"Ceysa mana?" Ardi terlihat cuek, tetapi santai.
"Ceysa masih mainan sama abangnya. Aku tinggal dulu sebentar ya?"
Aku langsung melarikan diri ke ruangan sebelah, di mana dapur berada, saat Ardi memberikan anggukan kepalanya. Ya ampun, aku sampai berkeringat seperti olahraga.
Aku langsung menyeduhkan kopi, produk dari pabrik Ghifar. Kemudian, aku menilik barang yang Ardi bawa.
Normal. Martabak manis, martabak telur dan tahu crispy.
Setidaknya, ia mengerti buah tangan. Adab penting untuk bertamu.
Aku memindahkannya ke piring. Lalu membawanya dengan nampan, bersama dengan kopi juga.
Aku tersenyum ramah, saat sudah berada di ruang tamu kembali.
"Aku cuma sedia cemilan kering. Nih, kopinya." aku memindahkan kopi tersebut ke hadapannya.
"Bawalah buat ibu, Canda. Masa disajikan buat aku lagi. Kan dari aku." ia terkekeh kecil, saat melihat makanan yang ia bawa.
"Barangkali kau mau." aku pun ikut tertawa geli.
"Tak lah. Kasih aja buat ibu. Atau siapa kau manggil ibu kau?"
"Iya ibu." jawabku kemudian.
"Terus ajak Ceysa atau Chandra. Aku takut kena fitnah." ia mengusap keringat di pelipisnya.
"Fitnah apa?" aku merasa, aku tak melakukan sesuatu.
"Ya takut orang salah paham, liat kita berduaan. Kan banyak orang lewat, teralisnya gelap, tapi nampak dari luar kalau ada orang. Mana ada motor aku dekat pintu ini, orang-orang sini tau aku bertamu di sini."
Aku manggut-manggut, aku mengerti.
"Ya udah, aku taruh ini dulu ya? Tak apa kah kau ngemil cemilan kering gini?" aku membukakan tutup toples.
"Tak apa sih. Aku ke sini mau ngobrol sama kau, bukan mau ngemil." ia terkekeh kecil, kemudian mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.
Aduh, jadi ini siapa yang tengah training?
Aku pun ikut ditrainingnya saja.
"Aku ke atas dulu ya?"
Ardi hanya melirik, lalu mengangguk dengan senyum teduhnya.
Ya ampun, terbuat dari apa dia ini? Benarkah masih bujang, di usianya yang menginjak dua puluh tujuh tahun ini? Senyumnya saja begitu menggoda, ditambah lagi lirikan matanya.
Menurutku, Ardi adalah Teuku Riyan versi hitam manis. Karena Teuku Riyan cukup terang warna kulitnya, tidak seperti Ardi.
"Waduh, waduh... Biyung udah mandi keringat aja nih. Gimana Biyung? Skill bujang okeh tak?"
Ibu langsung melotot tajam padaku. Aku pun melirik tak percaya pada gurauan Zuhdi ini.
Entah kalau untuk mamah Dinda dan papah Adi. Ini di depan ibu, yang sulit bercanda ekstrim. Pastilah ibu sudah berpikir yang tidak-tidak.
...****************...
__ADS_1
Sore lagi ya 😉