Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD242. Disambangi


__ADS_3

"Kau ini, macam tau aja!" ujar papah Adi.


Fira terlalu melebih-lebihkan. Dulu, mas Givan tidak pernah begadang. Dia adalah manusia yang paling disiplin. Ia selalu tidur pukul sembilan malam, kemudian bangun pukul setengah lima pagi. Jam enam pagi, masakan harus sudah matang, karena waktunya ia sarapan. Jika memang aku lapar, aku bisa makan terlebih dahulu. Hanya saja, aku memang selalu mengutamakan anak-anak.


Bukan aku berpihak pada mas Givan. Ucapan papah Adi juga, bukan bermaksud membela mas Givan atau menutupi mas Givan. Aku yakin itu.


Mulai senyap. Kami hanya diam, menikmati makanan saja.


Beberapa saat kemudian. Saat aku tengah membereskan makanan, Putri menyajikan dua piring makanan.


"Buat siapa semua, Put?" tanyaku kemudian.


"Buat daeng Givan, sama Jasmine."


"Mas Givan nanti aja. Kalau dia bangun aja, baru kau sajikan. Kalau dia masih tidur, terus kau gangguin dia cuma buat makan. Kau bakal kena amukannya. Ini sih saran aja, Put." ujarku, bermaksud agar ia dan mas Givan tetap baik-baik saja.


Namun, ia mendelik ke arahku dengan menggebrak meja dapur ini.


"Kamu memang tau segalanya tentang Givan, Canda. Fira pun, mungkin tau juga tentang Givan. Tapi, bukan berarti aku dilarang untuk ini dan itu. Givan nanti bakal jadi calon pendamping hidup aku. Biar aku urus dia, sesuai kebiasaan hidup aku. Bukan dari saran mantan pacarnya atau mantan istrinya. Biar aku layani dia, sesuai aturan aku."


Hah?


Ia malah nyolot.


Aku membuang nafasku, mencoba tidak terpancing emosi. Aku harus ingat pasokan ASIku yang belum normal.


"Put... Aku kasian sama kau. Kau dulu, sebegitunya sama Lendra. Bukan apa-apa, aku pengen kau sama mas Givan baik-baik aja. Aku pernah datangin mas Givan, dengan bawa nampan makanan, masa dia masih tidur. Apa coba yang terjadi? Dia ngamuk, dia lempar bantal ke aku, dia bentak-bentak aku. Dia tak pernah mau tidurnya terganggu. Dia tak pernah mau, kalau ada yang mengusik kenyamanannya. Masanya dia laper, perintah pun bakal turun darinya. Masanya dia laper, dia pun bakal cari makanan sendiri. Orang tuh, ambil sisi positifnya coba. Jangan melulu berpikir negatif, nyangka jelek ke aku sebagai mantan istrinya." aku membenahi hijabku yang turun, "Kalau boleh jujur ya. Aku lebih suka begini aja sama mas Givan. Aku lebih suka jadi mantan istrinya, aku lebih suka jadi teman atau sebatas saudara yang saling membantu kek gini. Jadi istri mas Givan dulu tuh, kek sesak betul. Entah aku yang terlalu membatin, entah juga mas Givan yang belum sadar. Tapi rasanya benar-benar sesak, aku lebih plong dengan status sekarang." tambahku kemudian.


"Lendra begitu pun karena kamu."

__ADS_1


Kami berbicara dalam nada santai. Aku tak ingin, menciptakan keributan di dapur ini. Cukup piring dan sendok saja, yang ribut karena tengah dibasuh.


"Kalau kau pengen nyalahin keadaan. Aku pun pengen nyalahin kau, Put. Aku begini pun, karena kau." aku menatapnya lurus.


"Udah cukup kek anak-anaknya. Udah cukup ribut, salah paham, begini begitu. Sekarang kita udah paham masalah kita masing-masing. Tak ada yang perlu disalahkan lagi. Karena, meski berpisah dengan Lendra itu pilihan mantan mertua aku. Tapi aku nerima, aku ikhlas dan aku setuju. Kek kau sekarang. Lendra udah ada digenggaman kau, dia bisa kau bawa pulang masa itu. Tapi kau milih buat sudahi perjuangan kau, buat dapatkan Lendra, biar akte lahir sesuai sumber benihnya. Terus kau malah milih buat dapatkan mas Givan, buat merjuangin mas Givan, buat dapatkan hatinya mamah Dinda dan papah Adi. Sebanyaknya mantu di rumah ini, tetap Kin yang berhasil mengambil hati papah Adi. Sebanyaknya menantu di rumah ini, tetap rasa kasihan mamah Dinda turun ke aku. Jangan terlalu over menempatkan diri. Ada kalanya, kita cukup dampingi dari jauh aja. Waktunya sah, kelak pun kau bakal dianggap mantu, tak usah susah-susah bawa pulang pergi anak kau jauh Makassar ke Bener Meriah Aceh. Kau bakal capek berjuang sendiri. Bukannya aku sombong, bukannya aku bangga karena selalu digenggaman mamah Dinda. Tapi aku kasian sama kau. Ambilah sisi nasehat dari aku, jangan pikirkan semua ocehan aku. Cukup berjuang secukupnya, karena mas Givan pun belum ada pergerakan untuk dapatkan kau. Nyerahin badan aja tak cukup, Put. Mungkin, nyerahin ginjal pun belum tentu bikin mas Givan balik ngejer-ngejer kau. Jangan bikin diri kau capek sendiri." ungkapku terjeda beberapa kali.


Aku menepuk bahunya, hingga ia menatapku kembali.


"Siapin makannya, kalau dia minta. Tak usah capek-capek kau sajikan, terus bangunin dia. Percaya, Put. Itu bukan hal aman untuk kau. Jangan bangunkan macan tidur."


Setelah mengatakan itu, aku langsung berpindah tempat untuk menyusun gelas yang sudah kering. Untuk ditaruh pada rak gelas kembali.


Setelahnya, aku memilih keluar dari rumah ini. Untuk menemui bayiku, yang selalu menginginkan ASI itu. Ceysa tengah kecanduan ASI sekarang.


"Mau ke mana kau, Dek?" sapa mamah Dinda, saat melihatku hendak keluar dari pintu samping.


"Ke Ceysa, Mah. Lagi di ibu." jawabku dengan mencari sandalku.


"Ya, Mah. Aku mau duduk-duduk di toko sebentar."


Hanya dekheman, jawaban dari beliau. Lalu aku pun, segera bergegas menuju ke toko.


Ceysa tengah digendong oleh seorang laki-laki. Laki-laki tersebut pun, tengah menggandeng tangan gadis kecil berambut hitam lebat dan lurus.


Aku langsung menoleh ke arah parkiran Riyana Studio. Bang Dendi masih di sana, ia masih mengobrol dengan Ghava dan juga Ghavi. Chandra pun, masih pulas di dekapan bang Dendi.


Jadi, siapa yang menggendong bayiku?


Ghava, Ghavi bersama bang Dendi. Mas Givan tertidur di kamarnya.

__ADS_1


Aku langsung memutar kepalaku, untuk melihat halaman rumah yang baru saja aku lalui. Papah Adi ada di sana, ia tengah duduk di teras dengan menyeruput minumannya.


Itu jelas, bukan papah Adi.


Aku menggeser posisi berdiriku. Agar aku bisa melihat tiga bangunan rumah mewah, yang membentuk seperti huruf U itu.


Ghifar ada di teras rumahnya, dengan keluarga kecilnya. Berarti yang menggendong Ceysa, bukanlah Ghifar.


Aku kembali melihat teras tokoku, di mana laki-laki itu masih berdiri di sana dengan mengobrol bersama ibu. Namun, satu yang membuat mataku membulat.


Brio Satya berwarna merah, terparkir di jalan arah gang. Di mana, mobil itu persis berada di samping bangunan ruko milikku.


Itu adalah....


Aku langsung gemetaran. Aku takut ia membawa Ceysa.


Aku berbalik badan, "Papah..." aku berseru dengan melambaikan tanganku.


Aku sudah dirundung kepanikan.


"Apa?" sahut papah begitu mengambang, karena jaraknya cukup jauh.


"Sini!" aku melambaikan tanganku kembali.


"Ada apa, Kakak ipar?" aku langsung berbalik badan.


Hanya Ghavi, yang masih latah memanggilku kakak ipar.


"Itu....." aku kalap, dengan menunjuk-nunjuk rukoku yang tengah disambangi oleh.....

__ADS_1


...****************...


Oleh???? 😳😳😳


__ADS_2