
"Coba!" ia menekan kepalaku, untuk berada di tengah-tengah tubuhnya.
Bagaimana ini?
"Tak mau aku, Bang. Tak bisa aku." aku menepis tangannya, yang membuatku semakin menunduk.
Ia membuang nafasnya kasar. Apa ia kesal padaku?
"Diajarin sini." ujarnya dengan bangkit dari posisinya.
"Tak mau aku, Bang." aku tidak berani mencoba hal-hal baru.
Aku takut, hal itu membuatku tidak nyaman atau menyakitiku.
"Ya udah. Sini." bang Daeng bersandar kembali di kepala ranjang.
Aku mengangguk, aku bersandar di dadanya. Posisiku, tengah membelakanginya.
Tangannya sudah merajalela.
"Kenapa gak mau terus? Abang orangnya cepat bosanan, Dek. Pas awal, Abang sok paling berna*su kesannya. Takutnya, lama kelamaan malah Abang jadi males ngelakuinnya. Ini ngomongin takutnya, karena sifat laki-laki memang gampang bosen kalau monoton aja." jelasnya lembut.
Aku baru yakin sekarang. Bahwa mas Givan memilih selingkuh, karena ia bosan merasakan hubungan biologis yang monoton.
Aku baru sadar sekarang. Ternyata letak kesalahan perpisahan ini awalnya dari aku, yang tak pernah mau belajar untuk memuaskannya.
__ADS_1
Kemungkinan besar, aku akan kembali menjadi janda. Jika aku melakukan hal yang sama. Ya itu, tak pernah mau mencoba cara baru.
"Tapi Abang jangan maksa." aku meliriknya sekilas.
Aku kesulitan untuk menoleh ke arahnya.
"Iya. Gak mau, ya udah. Abang gak maksa. Tapi ini untuk kita ke depannya. Abang setengah mati bela-belain biar gak bosan, tapi malah Adek yang bosan. Ya sama aja bohong." ia mengusap lenganku yang sudah terekspos jelas.
Resleting di bagian dadaku sudah turun ke bawah. Membuat lengan daster ini, sedikit merosot di bagian lengan.
"Abang mau aku kek mana?" aku memutar posisiku, agar bisa berhadapan dengannya.
Namun, ia malah menarik daguku. Membuat bibir kami bertemu, h*sapan dan lum*tan kecil bang Daeng berikan.
"Sini." pag*tan kamu sudah terlepas.
Aku mengangguk, lalu aku berpindah ke tempat yang ia inginkan.
"Cium kepalanya." ia menegakkan batangnya dengan jarinya.
Aku melakukan yang ia inginkan, "Udah." sahutku kemudian.
Bang Daeng geleng-geleng kepala, "Aduhhh... Semoga Gue sabar."
Ucapannya membuat aku tertawa geli.
__ADS_1
"Nih... Sepaham Abang, ini titik sensitif laki-laki. Sebetulnya gak tau juga, karena sebelumnya Abang selalu pakai k*ndom kalau di*ral." ia menunjuk bagian di bawah kepala keduanya.
"Terus ini!" ia menunjuk lubang kemihnya.
"Tapi di sini jangan terus-terusan di stimulasi, nantinya linu. Jadi kek, sesekali aja gitu nah." lanjutnya kemudian.
Aku mengangguk mengerti, "Terus mana lagi?" tanyaku dengan menunjukkan benda yang menjadi pusat perhatian kami.
"Ini nih." ia menunjuk pan*kal batangnya, "Kalau belum berdiri, Adek harus putar-putar jari berbentuk ngebulat di bagian ini. Katanya sih, buat merangsang pembuluh darah." ia juga mencontohkan gerakan yang ia maksud.
"Terus ini, tapi jangan ditekan. Kek diji*at aja gitu nah, di bagian paling bawah juga. Terus garis yang lurus ini, tancapin lidah Adek di garis lurus ini. Sok coba!" ia menyandarkan kembali punggungnya.
Tangannya pun sudah tidak lagi mengatur intinya agar berdiri tegak. Membuat barang itu, mengacung dalam posisi menghadap perutnya.
"Coba pegang." pintanya kembali.
Aku memberanikan diri, untuk memegangnya dengan diperhatikan sorot mata tajamnya.
Aku mencoba menarik turunkan tanganku pada batang bersuhu hangat ini. Benar-benar besar, juga sedikit pipih. Jika panjang, ya mungkin memang tidak terlalu panjang. Tapi sepertinya pasti cukup mentok.
"Coba, jangan kena gigi ya?"
...****************...
Jangan kena gigi 😝
__ADS_1
Canda bisa gak nih gak kena gigi 🤭