
"Bismillaahirrahmaanirrahiim, dengan memohon rahmat dan berkat Allah SWT, Saya nikahkan dan kawinkan Canda Pagi Dinanti binti Mansyur dengan Engkau dengan wali hakim dengan mahar uang seratus juta rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Canda Pagi Dinanti binti Mansyur untuk Saya dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
Rasa haru menyelimutiku. Lagi-lagi, aku menikah dengan wali hakim. Karena ayahku tidak diketahui keberadaannya.
Aku mencium tangannya, sesuai anjuran yang berlaku. Lalu, kami memohon doa restu dari mangge Yusuf. Kami bersimpuh pada beliau secara bergantian, karena hanya dirinya orang tua untukku dan bang Daeng.
Seratus juta simpanannya, kini telah diberikan kepadaku dengan simbolis. Ya, beberapa lembaran merah diberikan padaku untuk sesi foto di kantor KUA saja. Meski nyatanya, uang itu berwujud ATM yang kini berpindah tangan padaku.
Pakaian adat dan wajah penuh make up, kini melekat sempurna di kulitku.
Aku, mengenakan pakaian layaknya pengantin. Dengan bang Daeng, mengenakan setelan jas hitam berkemeja putih. Meski riasannya kami datang sendiri ke salon. Bukan dari pihak MUA, atau perias handal pada umumnya.
Namun, meski hanya ala kadarnya. Aku terlihat begitu cantik, menurut bang Daeng. Bang Daeng pun, terlihat begitu pantas dan berwibawa.
__ADS_1
"Buku nikahnya jadinya bulan depan. Dokumennya baru masuk kemarin soalnya."
Sudah banyak acara untuk berfoto di sini. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali ke rumah mangge. Hanya seperti ini saja, tetapi kami sudah menjadi sepasang suami istri. Sederhana memang, tapi kehidupan setelah ini pasti lebih berwarna.
"Baju Adek ini beli Abang tuh." ucapnya, setelah kami sampai di rumah mangge.
"Jadi?" tanyaku kemudian.
"Ya gak usah dikembalikan ke salon. Make up juga udah bayar. Sengaja, bajunya buat kenang-kenangan Adek."
Ia langsung melepaskan jasnya, disusul dengan dirinya melepaskan sepatu.
"Ya." bang Daeng memberiku kedipan genitnya.
"Aku bersih-bersih dulu ya, Bang." aku tidak nyaman, karena dempul di bagian wajah yang cukup tebal ini.
__ADS_1
Aku tidak terbiasa memakai make up tebal. Saat tinggal bersama kak Anisa pun, aku hanya diajarkan caranya untuk make up sederhana.
Beberapa saat kemudian, kami tengah makan bersama dengan makanan yang mangge pesan dari online. Benar kata bang Daeng, tato yang dimiliki mangge sampai memenuhi dada bagian kirinya. Aku bisa melihat jelasnya hari ini, karena ia tidak mengenakan bajunya.
Perutnya sedikit cembung, tidak terbentuk seperti bang Daeng.
Yang tidak kumengerti, kenapa bang Daeng dan mangge membuat tato di bagian kirinya saja?
Jika sepengetahuanku, biaya pernikahan biasanya ditekan pihak laki-laki. Namun, di keluarga bang Daeng ini. Biaya pernikahan disanggupi oleh orang tua. Bang Daeng mengatakan, besar kecilnya biaya pernikahan biasanya memang diberikan oleh orang tua pada anaknya. Aku tidak tahu itu berlaku di daerah asal bang Daeng, atau hanya di keluarga saja. Tapi hal itulah yang bang Daeng jelaskan.
Sedangkan mahar, itu murni harus hasil jerih payah mempelai laki-laki. Biaya pernikahan dan mahar, menurut mereka itu jelas berbeda. Mengenai hukum adat, aku tidak tahu juga.
Bang Daeng bercakap-cakap mengenai pekerjaan dengan mangge Yusuf. Namun, mereka menggunakan bahasa Makassar. Aku tidak tahu artinya.
Aku memilih untuk bermain ponsel. Jujur, aku tidak berani meng-upload kehidupan pribadiku seperti pernikahan ini. Mas Givan yang tak pernah aku upload saja, ia ada yang mau. Apa lagi, jika jelas-jelas aku memamerkannya. Terlepas dari alasan itu. Aku pun merasa tidak enak hati pada kak Anisa.
__ADS_1
...****************...
Yey 🥰 hadiahnya mana 🤠Aku baik hati nih, bakal up satu lagi sore nanti.. 😉