
"Pah... Jangan ngomong jelek." Ghifar hanya menyahuti itu.
"Papah tak lagi ngomong jelek, Papah pun tak lagi nakut-nakutin kau. Jangan berulah, Far! Kau mabok game online aja, itu udah bawa beban pikiran buat Kin. Cukup game online, Far. Jangan kau tambahkan dia, dengan status istri kedua kau."
Mataku terpejam, karena telunjuk seseorang muncul di tampilan panggilan video ini. Aku lupa, ini di dalam ponsel. Tidak mungkin ke luar, lalu mencolok mataku.
"Pah aku mampu."
Prang.....
"Tidur!!!" bentakan menggelegar membuatku langsung memencet ikon merah.
Papah Adi benar-benar marah dengan Ghifar. Pasti di sana, tengah terjadi keributan yang hebat.
Aku pun merasa aneh juga dengan jawaban Ghifar. Kenapa ia malah mengatakan hal itu? Sudah tahu orang tuanya punya masalah dengan poligami.
Aku yakin bukan cuma mamah Dinda, papah Adi pun pasti tersakiti dengan dua wanitanya dulu. Lebih tepatnya, ia mungkin memiliki trauma tentang itu.
Kamu udah diapakan sama bang Lendra?
Pesan itu mengalihkan pikiranku. Tentu saja kak Anisa yang mengatakannya.
Kenapa memang, Kak?
Aku mengirimkan balasan itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, muncul lagi balasan dari kak Anisa.
Jaga-jaga aja, Canda. Aku nikah aja, dia gak ada galaunya. Sama Putri katanya putus, tapi di sosial medianya Putri lain lagi Dek.
Foto di bawah pesan itu meruntuhkan kepercayaanku. Begitu bahagianya Putri mendekap erat tubuh laki-laki dari belakang. Suamiku mengenakan helm berwarna putih, ia tengah bekerja dengan menggunakan wearpack. Namun, Putri merecokinya dengan memeluknya dari belakang.
Kapan bisa memilikimu seutuhnya?
Caption di dalam foto screenshot dari kak Anisa.
Putri begitu gila dengan bang Daeng. Meski bang Daeng tidak begitu spesial, ia umum seperti laki-laki lain. Hanya saja, dia suamiku. Dia memiliki tanggung jawab padaku, dia memiliki kewajiban padaku. Aku tak suka dirinya masih dikejar oleh Putri.
Namun, otakku malah terkoneksi dengan jaringan lain.
Jangan-jangan, bang Daeng masih menekuni bisnis walet milik ayah Putri.
Kak Anisa mengirimkan chat baru.
Iya, Kak. Aku belum gajian soalnya. Hehehe...
Aku membalas pesannya seperti itu.
Sebenarnya, aku tidak membutuhkan gajian. Uangku cukup banyak di ATM milikku. Bukannya sombong, tapi memang aku tidak pernah menggunakan uangku.
Lusa Abang pulang, Dek. Nanti kita ke klinik kecantikan, Adek minta laser wajah kan?
__ADS_1
Aku mengirimkan pesan pagi, tapi bang Daeng baru membalasnya sekarang.
Tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung melakukan panggilan video padanya. Aku tak meladeni balasan dari kak Anisa, karena pikiranku sudah merumit pada suamiku yang jauh di mata ini.
"Ya, Dek. Abang lagi makan."
Air mataku menetes, melihatnya makan dengan terburu-buru. Aku tidak tega, melihat tangannya sampai gemetaran saat makan. Suamiku kelaparan di sana. Apa lagi, ia pernah mengatakan bahwa dirinya tidak terbiasa bekerja dengan otot. Pasti badannya luar biasa lelah sekarang.
"HP-nya disandarin kah, Bang?" tanyaku kemudian.
"He'em, di botol minum kemasan." bang Daeng tersenyum sekilas, lalu ia fokus kembali pada makanannya.
"Ya udah makan dulu aja, Bang." aku mengusap pojok mataku. Bagaimanapun keadaannya, ia tengah berusaha memenuhi tanggung jawabnya.
"Sok sambil ngobrol. Abang gak ada waktu soalnya, abis ini langsung kerja lagi."
Fokus kamera tak tentu arah, lalu aku bisa melihat banyak peti kemas yang dipindahkan ke kapal laut. Sepertinya kamera dipindah ke kamera belakang.
"Abang ngawasin aja, tapi capek ngarahin juga. Mana panas betul. Kaki sampai gemetar, berdiri terus dari jam lima pagi. Kencing aja sampai ditahan-tahan." ungkapnya kemudian.
Aku bisa melihat bang Daeng yang tengah mengunyah makanan. Kamera sudah dipindahkan, lalu diarahkan kembali ke arahnya.
"Len...
...****************...
__ADS_1
Siapa itu yang ngajak ngomong?
Rasanya sedih, gak tega loh kalau liat suami sendiri lagi kerja. Aku sih ngerasanya demikian. Video call, suami lagi mandi keringat, masih pakai wearpack, makan buru-buru, udah mewek gak karuan aku. 😢