
"Kau nanti jangan kek Kin, Len! Ingat ada Chandra, yang ayahnya masih suka recokin. Tapi, sepengamatan Mamah sih. Givan ini aman, tak lebih dari batasannya."
Bang Daeng manggut-manggut, "Aku cukup kenal gimana Givan, Mah. Sama Jasmine dia ketus aja juga, sebenarnya sih ada sayangnya. Marahnya itu bukan semata-mata karena ngelampiaskan kekesalannya aja. Tapi marah bener."
"Jadi bener ya, dulu Givan sering bentak-bentak Canda ini. Berarti dia benar ya?" tambah papah Adi.
Tiba-tiba, aku menjadi bahan tertawaan.
"Sebenarnya, aku kaku kemarin sama dia. Tapi ya udahlah, di bodo amat aja. Sekali nyuruh laundry, besok-besoknya dia gak nyuci. Aku seminggu gak pulang, dia kumpulkan bajunya seminggu gak dicuci. Gak apa aku, Pah. Ikhlas, mungkin memang berat cuci baju pakai tangan. Kos-kosan sepetak, segala minta mesin cuci."
Aku kembali menjadi bahan tertawaan. Aku hanya bisa bersembunyi di lengannya saja, karena aku malu tingkahku dulu dibuka di depan mamah Dinda dan papah Adi.
"Aku mulai sadar di situ. Mungkin karena Canda begini nih, makanya suaminya dulu katanya tukang ngamuk. Cuma kan, aku sama Givan beda sifat. Givan dulu lebih milih ngamuk, kalau aku lebih milih ya udah aja."
Benar juga. Kenapa aku mulai tersadar sekarang. Pasti ujian batin, untuk mereka yang mendapatkan dan menjadikanku sebagai istrinya.
"Givan ini, memang dari kecil itu bawel. Baju basah sedikit, karena dia cuci tangan gitu. Ya minta ganti. Sprai sama handuk itu, wajib berganti minimal tiga hari sekali." ungkap papah Adi, seseorang yang mengurus mas Givan sejak kecil.
"Mungkin karena itu juga, Givan jadi putih." tambah bang Daeng, yang membuat kami tertawa kembali.
"Ya udah, kau istirahat dulu aja. Di rumah ini aja kau tinggal. Mamah kaku, kalau harus bolak-balik ke rumah bapak kau. Malu, karena tak biasa. Kalau di sini kan, Mamah bisa ngurus kau setiap saat, tanpa tak enak sama bapak kau." mamah Dinda bangkit, lalu berjalan ke arah kamar tamu yang berada di sebelah kamar Giska.
Kamar tamu itu, memiliki kamar mandi pribadi.
"Bisa bangun tak, Bang?" aku bangkit lebih dulu.
Bang Daeng menggeleng.
"Sini Papah bantu."
Papah Adi langsung menarik dan menahan tubuh bang Daeng. Bang Daeng hanya kesusahan untuk bangun, tetapi ia bisa berjalan.
Mamah Dinda tengah menata bantal di kamar tamu. Aku dan papah Adi membantu bang Daeng untuk duduk di tepian ranjang.
"Tinggal istirahat aja kau, Len. Tadi udah minum obat kan waktu di jalan?" ujar mamah Dinda.
Bang Daeng mengangguk, "Iya, Mah. Maaf ngerepotin." sahutnya dengan memperhatikan wajah ibu yang mampu mengurus banyak anak itu.
"Jangan diganggu, Canda. Kau juga istirahat." mamah Dinda beralih menatapku.
"Iya, tolong kosongkan rumah. Papah mau quality time." tambah papah Adi, yang langsung mendapat lemparan bantal dari istrinya.
"Aku juga mau istirahat!" sergah mamah Dinda cepat.
"Iya-iya, biar Abang yang kerja." papah Adi mendekati istrinya, lalu merangkulnya.
Namun, mamah Dinda langsung melepaskan rangkulan suaminya.
"Sana Abang ke ladang aja coba!"
__ADS_1
Sepertinya kerja dalam artian yang lain, yang papah Adi maksud itu. Bukan kerja, dalam artian menghasilkan uang.
Papah Adi menarik mamah Dinda keluar dari kamar. Senyumnya begitu lebar, entah beliau membisikan apa pada mamah Dinda.
Mungkin Papah Adi ingin menuntaskan rasa rindunya pada istrinya itu.
"Dek..." pergelangan tanganku dicekal bang Daeng.
"Ya, Bang." aku menoleh, memperhatikan wajahnya yang masih terlihat lemas.
"Minta cium."
Tumben.
Aku langsung menurunkan punggungku, lalu memberi kecupan kecil di kedua pipinya.
Aku mengusap pelipisnya, "Cepet sembuh, Bang." ucapanku dengan tersenyum manis.
Bang Daeng membalas senyumku, "Doain Abang cepat sembuh. Perut Abang udah gak boleh dioperasi lagi, udah tiga kali ini soalnya." ungkapnya lirih.
Oh, jadi ada batasannya kah?
"Ya, Bang. Aku selalu doain Abang." aku menggenggam jemarinya.
"Abang istirahat dulu ya."
Aku mengangguk. Aku mengerti, aku harus meninggalkan kamar ini.
Kemudian melangkah meninggalkan kamar ini.
Aku keluar dari rumah, dengan memastikan keadaan pintu tertutup sempurna.
~
Sudah satu minggu berlalu. Hari ini, bang Daeng dan Kin baru kembali dari Singapore untuk mengecek keadaan bang Daeng kembali.
Persiapan pernikahan kami, sudah mulai dilakukan. Papah Adi pun, sudah mendaftar dokumen kami ke KUA.
Namun, tiba-tiba aku dilanda ketakutan karena wajah Kin sering menggeleng melihat keadaan bang Daeng.
"Canda... Bulan depan aja nikahnya." ucapnya tiba-tiba, saat rumah dalam keadaan sepi.
"Kenapa memang, Kin?" aku merasa heran, dengan ucapannya kali ini.
Ia menghela nafasnya, "Aku ragu aja. Lendra itu, kek dipaksa kuat. Kondisi medisnya, tak sesuai sama kenyataan yang kita liat."
Benarkah?
Pantas saja, ekspresi Kin seolah pusing.
__ADS_1
"Gimana memang, Kin?"
Ia memandang ke arah lain, lalu ia menatapku serius.
"Gampangnya, komplikasi deh. Karena percuma kalau aku jelaskan, kau bakal bingung." jawabnya dengan memencet pangkal hidungnya.
"Bukan cuma satu masalah perut, yang diidap Lendra. Abses itu, cuma yang terparah aja." lanjutnya kemudian.
"Peritonitis, perlengketan usus, cedera organ, obstruksi usus, ileus paralitik, yang terparah abses kemarin."
Ya Allah, sebanyak itu yang diderita bang Daeng.
"Kasus yang jarang terjadi." lanjut Kin kemudian.
"Sebaiknya..." Kin menurunkan suaranya seperti berbisik-bisik, "Kau tunda pernikahan kau minimal tiga bulan, atau enam bulan. Karena masa penyembuhannya Lendra, sekitar enam bulanan." lanjut Kin perlahan.
Bagaimana ini?
Aku tak mungkin menahan pernikahan kami beberapa saat. Bang Daeng begitu ingin rujuk. Rujuk lah semangatnya untuk hidup.
"Memang kenapa kalau aku nikah lebih cepat?" tanyaku pada Kin.
"Takutnya...." Kin menarik nafasnya, "Kau jadi janda lagi." lanjutnya menurun.
"Ini ketakutan aku aja, Canda. Aku ikut pusing aja mikirinnya." Kin mengusap wajahnya sendiri.
Apa lagi aku? Orang lain saja sampai memikirkan. Lebih-lebih, aku takut kehilangan bang Daeng. Bukan takut menjadi janda lagi.
"Besok aku udah sebar undangan." utaraku, setelah kami terdiam beberapa saat.
"Ngundang banyak, Kah?" tanyanya kembali.
"Tak sih, cuma dua ratus orang. Family dan teman dekat aja. Itu pun, banyakan dari bang Daeng, aku tak ngundang banyak. Cuma ibu aja, yang ngundang family dari Jawa."
Entah bagaimana awal ceritanya. Ibu kembali menghubungi bibi Hana, mengenai pernikahanku dengan bang Daeng kali ini.
Kin merangkulku, kemudian ia mengusap lenganku dengan tersenyum lebar.
"Semoga kebahagiaan menghampiri kau, Canda. Semoga ibu kau trauma ngasih nama Canda lagi. Kasian, hidup kau jadi candaan laki-laki terus."
Aku menambahkan tawaku, "Aamiin. Aku pun udah capek, Kin. Udah kepengen seneng, bahagia, sejahtera." jawabku dengan berpikir positif.
"Aamiin. Semoga tak ada pernikahan yang selanjutnya lagi buat kau. Pasti susah, kalau membiasakan diri dengan orang baru."
Aku tidak begitu kesulitan menyesuaikan diriku dengan bang Daeng. Malah, aku hidup bebas dengannya.
"Aamiin, Kin. Kau pun semoga bahagia terus, langgeng-langgeng sama Ghifar." aku tersenyum lebar.
...****************...
__ADS_1
Cerita sebelah Kin malah udah almarhumah 😢