
Bang Daeng menceritakan semuanya, bahkan tentang Alambara Ahmadinejad.
"Boleh Mamah terbitkan?"
"Arghhhh." mamah Dinda mengaduh, lantaran pinggangnya dicubit oleh suaminya.
"Boleh, Mah. Bisa juga aku perinci." pasti ini salah satu kebahagiaan bang Daeng.
"Tak perlu, Mamah adaptasi aja ya?"
Bang Daeng mengangguk menyetujui.
"Tak ada buat seminar-seminar lagi! Capek Abang nemenin. Ngantuk, suntuk. Ceramah aja! Udah kek khotib." papah Adi melirik istrinya.
"Ya itu sih gimana nanti. Seminar kan bagi ilmu dan tips. Abang aja yang memang males dengerin aku ngomong!" sepertinya mereka akan bertengkar.
"Aku serela itu dulu. Gak peduli ilmu dan tipsnya, yang penting dapat tandatangan dan foto bareng. Ke Jakarta, ke Samalanga aku kunjungi. Bela-belain ongkos sendiri, tinggalin kerjaan aku." ungkap bang Daeng dengan terkekeh kecil.
"Hei..." papah Adi mencolek lengan bang Daeng.
"Kau ngefans sama ini orang?" lanjutnya dengan menjinjing pakaian di bagian bahu mamah Dinda.
Mamah Dinda segera menepis tangan suaminya tersebut. Urat wajahnya langsung masam.
"Nih, nih. Kalau dulu dia tak ngejar-ngejar, tak bikin Ane baper, malas betul aku sama manusia satu ini." lanjut papah Adi, yang membuatku tertawa lepas.
"Jangan lupa ya, dulu Abang yang ngajakin aku nikah terus. Ayo pacaran dulu lah, ayo nikah dulu lah. Ini itu, iming-iming!" mamah Dinda berucap dengan ekspresi sombongnya.
Papah Adi menyugar rambutnya, ia langsung berlagak sok ganteng.
"Iyalah. Itu adalah akibat, dari nemplok terus sama Ane." papah Adi menepuk-nepuk dadanya sendiri.
Mamah Dinda tertawa lepas, "Sok kali!" komentar mamah Dinda kemudian.
"Mbak.... Chandra bangun." seru Ria, dengan menggendong Chandra.
Rengekan manjanya terdengar. Chandra menggosok wajahnya tak beraturan.
Bang Daeng bangkit, lalu menghampiri Chandra yang berada di dekapan bibinya itu.
"Bilas yuk? Terus jalan-jalan keluar, beli mamam Chandra." bang Daeng menahan tangan Chandra yang masih menggosok wajahnya sendiri, lalu ia menhujami Chandra dengan ciuman kasih sayangnya.
"Gih, Canda. Mungkin Lendra belum biasa sama masakan kau. Nanti kalau udah di rumah sendiri, kau wajib masak."
Aku hanya mengangguk, kemudian pergi untuk mempersiapkan Chandra mandi air hangat pagi ini.
Beberapa saat kemudian, kami sudah berjalan-jalan di luar rumah.
__ADS_1
"Dek... Adek dulu pengalaman masak apa aja? Abang banyak dinasehati papah sama mamah. Salah satunya, tentang masakan istri. Papah trauma makan di luar, karena mamah Dinda dulu katanya pernah kena tifus. Salah satu untuk mengirit pengeluaran pun, katanya dengan cara istri masak. Nanti, Abang paling cuma digaji dua puluh juta untuk urus sepuluh hektar lahan budidaya porang. Lahannya, ada di desa sebelah. Paling nanti Abang beli motor bekas, buat pulang perginya. Yang tiga jutaan, surat-surat setengah gitu nah. Kan lumayan, yang penting masih layak pakai." bang Daeng tengah menggendong Chandra, sedangkan aku memegang botol minum Chandra dan mangkuk makannya yang masih kosong.
"Paling susah aku lakuin dulu itu, masak tengkleng sama kuah beulangong. Selebihnya, aku rutin masak tumis. Karena mas Givan itu sembelit, kalau tak makan sayur. Pokoknya, hari-hari itu muter sayuran hijau." jawabku jujur.
"Ck..." ia seperti membayangkan hal yang buruk.
"Abang gak begitu suka sayur. Adek kan tau, sayur cuma buat pelengkap aja. Adek belajar masak olahan daging ya? Seafood gitu-gitu. Kerang darah, kerang hijau, Abang doyan. Tapi ati-ati kalau masak kerang hijau ini, kalau dimasak dia gak boleh terlalu matang."
"Kalau rasanya tak enak, dibuang kah?" jujur aku tidak yakin dengan hasil masakanku kelak.
Hanya mas Givan, yang doyan masakanku bagaimana pun rasanya. Meski bunga pepaya pahit pun, ia makan untuk menghargai jerih payahku. Aku tahu ini, karena ia mengatakannya sendiri di hadapanku dan papah Adi.
"Yaaaaa.... Kalau tak bisa dimodifikasi, ya dibuang." jujur, aku tersinggung mendengar jawabannya.
Berbeda dengan mas Givan. Yang penting masak buat dia, bagaimana pun hasilnya pasti dimakan.
Rasanya aku sudah akan menangis.
"Belajar ya? Jujur, Abang gak yakin dua puluh juta cukup. Apa lagi, bareng orang tua."
"Abang keberatan nampung ibu sama Ria kelak?!" aku meliriknya marah.
Ia menoleh ke arahku, lalu ia fokus pada Chandra yang tengah ia gendong lagi.
"Abang kan gak bilang begitu. Maksudnya, Abang ketar-ketir dengan dana segitu tapi harus ngenyangin banyak perut. Mana kan, Abang harus beli properti di ruko juga. Malu, masa untuk kasur dan lemari aja minta ke mamah lagi. Mamah udah banyak ngasih, udah cukup malu Abang."
"Katanya mau jual apartemen." tuturku kemudian.
Ia menoleh sekilas, "Gak lewat tangan Abang. Uangnya nanti diolah papah sama mamah. Katanya nanti dibelikan ladang, bibit sama pupuk. Sama bayar pekerja, sampai masa panen tiba." ia menjeda kalimatnya, "Sempet berpikir, kok mantan mertua istri terlalu ikut campur. Tapi, ternyata Abang salah. Mereka cuma mau Abang stabil dan bisa berdiri sendiri, macam anak-anak kandungnya." tangan satunya merangkulku.
Ia menoleh, lalu menyunggingkan senyumnya.
"Abang tau dari Dendi. Ternyata anaknya memang dimodalin di awal semua. Mereka gak lepas tangan, sama anak-anaknya yang milih nikah di usia muda itu." ujarnya kemudian.
"Bubuy...."
Perhatikan kami teralihkan.
"Kenapa, Nak?" bang Daeng melepaskan rangkulannya, lalu ia mengusap kepala Chandra.
"Bubuy." ia menunjuk ke salah satu gerobak pedagang, yang mangkal di depan posyandu.
"Bubuy bulan? Bubuy bulan sangray bentang." ucapku dengan mengusap tubuh Chandra, yang berada di gendongan bang Daeng.
Aku dan bang Daeng tertawa geli, saat Chandra menoleh ke arahku dengan alis yang menyatu.
"Bubuy yam." ujar anak yang akan menginjak dua puluh tiga bulan ini.
__ADS_1
"Adek mau?" tanya bang Daeng, dengan menarik dagu Chandra.
"Bang! Bang au." Chandra manggut-manggut beberapa kali.
"Au, Bang." ulangnya dengan menepuk-nepuk pundak bang Daeng, yang menjadi tempat berpegangannya.
"Setengah porsi aja. Chandra tuh makannya sedikit-sedikit." ucapku kemudian.
"Abang mau juga. Makan di situ yuk, Dek?" ajaknya dengan tersenyum lebar.
Duh, aku paling anti makan bubur. Tapi jika menolak, pasti ia berpikir lain-lain. Namun, aku takut muntah jika dipaksakan.
"Bang... Aku bungkus aja deh." alasanku kemudian.
"Gak cocok kah? Adek mau makan apa?" kami melangkah ke arah tukang bubur tersebut.
"Eh, Dek. Di sana ada warung sayur juga tuh."
Dari tempat kami berdiri, warung sayuran itu berjarak sekitar seratus meter. Lumayan jauh dari rumah, karena kami pun berada di depan gang. Makanya, aku ataupun orang rumah tidak pernah berbelanja di warung itu karena terlalu jauh. Kami biasa menunggu tukang sayur, yang berhenti di depan rumah.
"Nanti sekalian belanja ya? Nanti Abang yang milih, Abang bantuin deh masaknya." ia menggenggam tanganku.
Akhirnya, aku mengangguk menyanggupinya.
Bang Daeng tersenyum senang, "Jadi kita sarapan apa? Chandra bubuy, Adek apa?" kami melanjutkan melangkah ke tukang bubur.
"Apam gayo aja, Bang. Di sudut masjid itu, ada saung jualannya." pedagang itu hanya ada di pagi hari seperti ini.
"Apa itu?" bang Daeng menghentikan langkah kakinya.
"Apam, Bang. Tapi bentuknya mirip kek surabi di wilayah Jawa. Bedanya, apam gayo dimakan pakai kuah santan sama potongan nangka diatasnya. Terbuat dari adonan tepung beras yang dipanggang menggunakan wajan tanah liat, sama kek di Jawa." terangku, agar bang Daeng mengenal makanan ini.
"Makanan khas sini kah?" tanyanya kemudian.
"Iya, makanan khas Bener Meriah. Makanan khas tradisi Toet Apam. Keluarga yang merantau, sampai pada pulang buat ikut tradisi ini. Nanti nih, tradisi itu makan apam sama-sama." tuturku dengan tersenyum padanya.
"Okeh deh. Ayo beli bubuy dulu, sarapan apam gayo. Terus belanja sayur." ia melangkah dengan menggandeng tanganku kembali.
Aku mengangguk, kemudian memberinya senyum terbaikku.
Aku yakin, mengolah sepuluh hektar ladang bukan hal mudah. Mungkin dengan senyumku, ia akan semangat bekerja nanti. Karena jam delapan pagi nanti, ia akan bekerja di hari pertama.
...****************...
Asal manut kalau sama mamah Dinda.
Ditunggu jam 3 ya 😉
__ADS_1