Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD185. Tidak memperhitungkan


__ADS_3

"Ini."


Aku dan mamah Dinda tengah berdiri di depan toilet. Ia menyodorkan sesuatu, saat aku beru keluar dari toilet.


"Apa ini, Mah?" aku menerima barang tersebut.


"Ini testpack digital. Paham kan cara pakainya?"


Aku mengangguk, "Iya, Mah." sahutku memastikan.


"Iya. Coba! Mamah tunggu di sini. Dari awal Mamah udah curiga, kau ini beda. Kau banyak tidur, kek waktu hamil Chandra." ia menyuruhku masuk kembali.


"Aku lagi sakit, Mah. Wajar banyak tidur." Kin mengatakan, bahwa obat yang aku minum memiliki efek mengantuk. Jadi, aku mengatakan hal itu. Agar mamah tak melulu berpikiran bahwa aku hamil.


Meski aku sedikit khawatir. Tapi feelingku, aku tidak hamil. Karena memang aku menyadari, bahwa aku adalah tukang tidur yang handal.


Aku masuk ke dalam kamar mandi, kemudian memperhatikan alat ini. Apa baiknya aku pura-pura tes saja? Tapi, aku pun merasa penasaran.


Ya sudahlah, aku memilih untuk tes saja. Meski nyatanya, aku was-was sendiri.


Aku langsung bergerak. Menurutku, pasti ini hasilnya akurat karena ini air seni setelah bangun tidur. Akurat negatif menurutku, karena nyatanya pun aku tak mungkin hamil. Aku lama tak disentuh oleh bang Daeng. Rasanya aku tak mungkin hamil, meski mamah Dinda mengatakan hal tadi.


Setelah selesai melakukan, aku memilih untuk menaruh stick itu di tempat yang aman. Sedangkan aku membenahi diri, lalu mencuci tangan.


Aku langsung meraih benda yang sudah menunjukkan hasil itu.


"Astaghfirullah..."


Tik.....

__ADS_1


Stick itu langsung terjatuh di lantai kamar mandi. Tanganku terguncang hebat, saking tidak percayanya.


Bagaimana ini?


Aku bersandar pada tembok kamar mandi. Mencoba rileks dari rasa kejutku.


Bagaimana caranya aku menata hidup setelah ini?


Aku mengusap perut bagian bawahku. Aku merasa tidak percaya dengan titipan, yang membuat pikiranku merunyam ini.


Tok, tok, tok...


"Canda... Udah belum?"


Aku tersentak. Lalu aku segera berjongkok, untuk mengambil alat tersebut.


Sebaiknya, aku sembunyikan saja alat ini. Sebaiknya, mamah Dinda tidak tahu tentang ini.


Aku harus bercerita dengan ibu. Semoga ibu memiliki jalan keluar dari masalahku.


"Canda!!! Jangan sampai pintunya Mamah dobrak ya?!"


Ya ampun, seruan mamah Dinda semakin membuatku gemetar.


"Apa sih, Mah?" aku hafal siapa pemilik alunan lembut itu.


"Canda lagi testpack tak keluar-keluar." jawab mamah Dinda dengan suaranya yang tidak bersahabat.


"Kau tak apa kah, Canda?" suara Ghifar berada di depan pintu.

__ADS_1


Bagaimana caranya aku lari? Bagaimana caranya aku mengelak, sedangkan ada dua orang yang menungguku di depan pintu. Bagaimana caranya aku beralasan?


"Canda!!!"


Brugh.... Brugh, brughhhh....


Hantaman di pintu kamar mandi ini, sepertinya akan membuat pintu ini roboh.


"Ya, Mah. Iya...." aku menggenggam alat itu sekuat mungkin. Aku masih berharap hasilnya bisa berubah.


Ceklek....


Aku tersenyum kaku, saat mendapati wajah murka mamah Dinda. Ghifar pun berada di sebelah mamah Dinda, dengan menggendong anaknya yang paling kecil.


"Apa hasilnya? Sini Mamah liat. Mamah sih tak percaya kau ngerti masalah testpack."


Apakah aku sebodoh itu?


Aku selalu seperti anak TK, jika dihadapkan dengan mamah Dinda.


"Mana?!!!" geram mamah Dinda dengan melototiku.


"Anu, Mah."


"Tak ada anu-anu! Sini!" mamah Dinda merebut paksa alat tes kehamilan di tanganku.


Mataku sudah basah, aku meremas jemariku sendiri. Aku takut, aku cemas, aku merasa bodoh. Kenapa aku kurang memperhitungkan segalanya begini?


...****************...

__ADS_1


Harap maklum ya 😢 Author keteter, mampu up segini. Nanti diusahakan lagi, biar bisa up up panjang 🤗


__ADS_2