Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD204. KB


__ADS_3

"Givan bahkan tak peduli ke Nadya. Mamah udah nasehati dia, biar memperlakukan istrinya dengan baik. Udah dapat mertuanya kek Mamah, iparnya kek Kin, suami yang kek Givan, keknya tuh lengkap betul penderitaan Nadya. Kasian, tapi Mamah murka setengah mati sama dia. Kau pun sama, Mamah tak nyangka kau malah main sama Ghifar di belakang Kin." mamah Dinda menghela nafasnya.


Kemudian ia menilik cucu-cucunya satu persatu. Tangannya terulur untuk mengusap pelipis ketiga anak ini.


"Abang!!!" Giska terlihat langsung masuk terburu-buru ke dalam kamar.


Rupanya, ia tengah dikejar oleh suaminya. Cepat-cepat aku memalingkan pandanganku, saat Zuhdi menangkap Giska dari belakang. Lalu Zuhdi mencium ceruk leher istrinya, yang tengah tertawa renyah itu.


"Mah... Itu Mah, Bang Adi cium-cium aku." Giska memang tak ada malunya.


"Ya Allah, sedikit aja tuh. Adek pelit betul." Zuhdi langsung melarikan diri dari kamar ini.


Mamah Dinda hanya geleng-geleng, melihat tingkah absurd Zuhdi yang menunggu istrinya selesai nifas itu. Zuhdi sepertinya sudah tidak sabar, menunggu Giska siap nifas.

__ADS_1


"Kapan cek up terakhir? Mau KB tak? Nanti Mamah temani ke bidannya. Kau lahiran di bidan kan?" tanya mamah Dinda, saat Giska berjalan ke arah ranjang kembali.


"Iya, lahiran di bidan yang waktu Canda lahiran. Dua hari lagi, genap empat puluh hari. Waktunya cek up terakhir juga, masa lepas nifas itu. KB aja ah, Mah. Aku mau fokus ke Hadi dulu. Sampai sekarang, aku belum bisa mandiin Hadi. Ma pagi-pagi jam setengah tujuh selalu datang, buat mandiin Hadi. Kalau sore, dilap aja sama bang Adi."


Aku adalah Giska dulu. Mamah Dinda selalu memandikan bayi Chandra setiap pagi dan sore hari, sampai Chandra berusia dua bulan. Satu bulan berikutnya, aku mulai belajar untuk memandikan Chandra. Saat aku mulai bisa mengurus anak sendiri, mamah malah memilih untuk pergi ke luar negeri.


"Ya udah. Implan atau IUD aja. Kata Mamah sih jangan suntik, jangan juga pil." beliau pun pernah memintaku untuk tanam implan atau IUD. Sayangnya, aku takut.


"Implan kan tak boleh kerja berat ya, Mah?" Giska mulai mengunyah, dengan beberapa makanan yang ia bawa.


Aku dan Giska tertawa renyah.


"Aku nyuci pakaian dalam. Kata bang Adi, jangan nyuci pakaian berat, takut rahimnya turun karena lepas nifas. Aku juga nyapu, cuci piring lah Mah. Masak juga. Bikinin mie instan buat bang Adi, masak nasi, masak air buat mandi Hadi." Giska meluruskan jarinya satu persatu.

__ADS_1


"Kalau di sini, pakai water heater aja." aku sengaja mengatakan hal itu, aku ingin tahu reaksi Giska tentang pindah dari rumah ini.


"Bang Adi lebih suka mandi pakai gayung. WC pun jongkok, pakai ember gitu. Rumah aku, persis kek rumah Upin-Ipin. Beda bentuk lorong kamarnya aja. Kek rumah panggung gitu loh, cuma dapur sama pondasi aja yang pakai semen."


Aku langsung membayangkan.


"Dingin tak?" tanyaku kemudian. Aku ingat, rumah panggung seperti itu berbahan dasar kayu.


Menurut papah Adi, rumah panggung berbahan kayu. Lebih mahal dan lebih kuat, dari pada rumah yang berbahan semen pasir.


"Umum aja, subuh dingin. Siang ya panas."


...****************...

__ADS_1


Di luar Jawa, rumah umumnya kayu semua ya? 🤔 tapi pasti gak sedikit biayanya 😳


__ADS_2