Ibu Sambung

Ibu Sambung
Episode 1


__ADS_3

"Dora ...!"


"Dora ...!" panggil emak dengan suara menggema. Entah apa yang membuat wanita paruh baya itu memulai konser sepagi ini.


Dengan sedikit kesal pisau yang kugenggam kuletakkan di atas meja, lalu berjalan menuju sumber suara yang menggema. Air mata ini terus saja mengucur tak kuasa terbendung, ingus pun ikut meleleh, untung saja langsung kuseruput.


"Sini Dora ... duduk sini!" Emak menepuk sofa butut yang ia duduki. Emak tak sendiri, ada bapak dan juga dua tamu yang wajahnya tak asing.


Aku nurut saja ajakan emak, duduk di sebelahnya. Semua mata mereka tertuju padaku, aku jadi malu. Berasa jadi pusat perhatian.


"Astaga ... anak ini, belum juga ngomong apa-apa udah nangis duluan!" ketus emak sambil memamerkan mata melototnya.


"Salahkan bawang, Mak ... bawang yang bikin Dora nangis."


"Dawang anak Kepala Desa, dia buat apa sama kamu? Bilang Dora!" Emak nge-rap sesuka pendengarannya yang rada-rada budek.


Untuk meluruskan kesalah pahaman ini, aku menatap wajah geram emak dan berkata, "Ba-wang, Mak ... Ba-wang, bukan kang Dawang!"


"Oh ... hahaha. Bilang dong," tawa emak menggelegar sembari tangan empuknya menepuk pahaku yang langsing bak Oeni korea. Serah gue dong.


Seketika daging pahaku terasa memanas, kalau saja enggak ada tamu, sudah ku lucurin celana gombrang ini, barangkali saja ada tanda tangan emak di sana.


"Apa kabar, Dora?" sapa lelaki berkumis tebal. Bikin aku merinding.


Dih sok akrab.


"Baik, Om ... belum sarapan aja, soalnya emak baru beli bera--- au!" Kakiku rasanya tertindih kounteiner.


"Anak ini," gumam emak sambil menekan kakinya yang imut, bulat, unyu dan besar di atas kakiku.


"Kamu makin cantik, yah, Dora!" celoteh om Darman.


Iuuw ... sumpah demi apa, mimpi apa gue semalem bisa-bisanya digombalin om-om.


Perasaanku mulai tak enak saat bapak dan kedua tamu itu bicara panjang lebar kali tinggi bahagi dua. Yah, obrolan yang formal. Emak sesekali nyengir, kayak kuda.

__ADS_1


"Dora, bikin minum, gih!" seru emak sambil tersenyum manis kayak gulali.


"Gulanya abis, Mak!" keluhku, sekalian angkat kaki biar enggak digilas lagi sama emak. Namun, sayang sekali rupanya di bokongku yang tepos mendarat sebuah cubitan.


"Enggak papah, Bu. Enggak usah repot-repot! kami sudah minum dari rumah," cegat mbah Tarjo, bapaknya om-om itu.


Seketika hatiku bersorak, yes! enggak jadi disuruh emak.


Sebenarnya aku bukan anak yang malas, hanya saja karena belum sarapan, cacing-cacing di perut pada demo minta jatah, jadinya lemas.


"Dora, mau kan dijodohkan dengan kang Darman?" tanya bapak, tatapan matanya membuatku takut. Seperti sedang memaksa.


Entah apa yang ada di pikiran orang tuaku, gadis yang cantik, imut, uwuw kayak gini mau dijodohkan dengan om-om. Mana duda, anaknya tiga lagi. Apa karena ia juragan kambing?


Emak tak mau kalah, tatapannya lebih menyeramkan. Kalau saja penyokong matanya tidak kuat, aku yakin bola matanya sudah menggelinding ke lantai.


"Dora pikir-pikir dulu, yah?" tawarku yang sebenarnya ingin salto sambil nyanyi, kumenangis membayangkan ... betapa kejamnya emak dan bapakku!


"Enggak usah dipikir, Neng. Akang bakalan buat kamu bahagia. Tiap malam minggu kamu akang ajak ke pasar malam, terus esoknya kita jalan-jalan keliling kampung," tandas om-om yang sok muda. Pake nyebut akang segala.


Ho iya, bukan mahram yak ....


"Nikah itu perjalanan panjang om, mana bisa memutuskan hanya dalam hitungan detik. Lagian kenapa sih, harus aku?"


"Dari sekian banyak gadis di Desa ini, hanya kamu yang bikin hati akang bergetar, Neng!"


Uwuw beud dah! Gombalan asli bikin asam lambungku kambuh.


"Maaf, Om. Aku belum bisa jawab sekarang!"


Yah, aku tidak berani memberi jawaban. Tatapan orang tuaku membuat pikiran ini kacau. Hati kecilku berkata tidak, tapi orang-orang yang kusayangi itu memasang muka-muka pengharapan.


Akhirnya om Darman dan mbah Tarjo pulang dengan rasa tidak puas, aku juga yakin leher mereka kekeringan, daun-daun berguguran ... dia Dorabela, lambang cinta yang lara. Ah, tuh kan ... malah nyanyi.


Bapak beranjak dari tempat duduknya, berpindah ke pangkuan emak. Ihuy! Untung saja emak posturnya bohay, bapak yang cungkring langsung namplok.

__ADS_1


"Jangan mengotori mataku, Emak, Pak! Dora masih polos," keluhku sambil menutup wajah dengan tiga jari.


"Heleh! Romantisme dalam keluarga itu perlu, biar langgeng sampai kakek-nenek!" cetus bapak, ala-ala Mario Teguh.


"Ampe kakek-nenek aja? Ppfff ... hahaha, terus kalau udah tua cerai gitu, terus nikah ama yang lebih muda, Pak?"


"Alah, anak kecil! Kamu harus nikah dengan Darman, kalau enggak mau bapakmu yang cakep ini masuk penjara!"


Masuk penjara? Apakah ini semua karna masalah hutang piutang? Aku pikir hal semacam ini hanya ada di sinetron Indomisar, apakah aku kena azab sampai harus dijodohkan? Sungguh malang nasibmu Dorabela.


Kalau saja aku bukan anak tunggal dan punya saudara cewek, pasti bisa ngelak dari perjodohan dengan om-om duda yang kegantengena itu. Sesengklek apapun bapak dan segalak-galaknya emak, aku sangat menyayangi mereka. Tidak boleh ada yang masuk jeruji besi.


Oke, aku terima perjodohan dengan om Darman, sukmaku berteriak menegaskan ku tak cinta padanya .... Cinta ini melukiskan sejarah, menggelarkan cerita penuh suka duka sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu hati Dora terluka. Iihaaayy ...!


****


Seminggu kemudian


Setelah melewati hari-hari penantian yang menggerikan karena bayang-bayang kumis tebal om Darman, akhirnya tibalah di hari pernikahan kami. Yah, benar-benar kilat. Entah apa yang membuat duda tiga anak itu buru-buru mau menikahi aku.


Dengan uang panai lima juta dan mahar tiga ekor kambing akhirnya aku resmi menyandang status istri, sekaligus ibu tiri dari tiga bocah ingusan yang butuh tatih tayang. Meskipun usiaku baru jalan delapan belas tahun. Sangat jauh beda dengan om Darman yang sudah tiga puluh lima tahun.


"Emak, maapin Dora, selama ini Dora selalu bikin kesal." Air mataku mengalir deras ketika sungkeman. Rasanya seperti tenggelam saat tubuh bongsor emak memelukku erat.


"Pak, maapin Dora, selama ini selalu ledekin, Bapak!" Kini bapak yang memelukku erat. Tak sengaja ingusku meleleh di baju batiknya, untung saja bapak tidak sadar.


"Kami sudah memaafkan mu, Nak. Baik-baik lah sama suamimu, jangan kayak anak kecil lagi!" nasihat bapak padaku.


"Darman, jangan sekali-kali kamu main tangan sama Dora!" peringatan keras dari Emak. Padahal selama ini emak yang selalu menindasku.


Hiks ... tapi aku tahu, semua itu bentuk kasih sayangnya emak. Mana ada seorang ibu yang tega menyakiti anaknya tanpa sebab, apalagi sampai disakiti orang lain.


"Tenang saja, Emak, Pak, aku bakalan jadiin Dorabela ratu sejagat buana!" celetuk om Darman.


Tch ... gombalan tidak realistis. Kata-katanya menggelikan sekali.

__ADS_1


Selesai acara nikahan akhirnya aku diboyong ke rumah om Darman dengan mengendarai sepeda kumbang miliknya. Sepanjang jalan berbatu suara 'gretak ... gretak ...' dari kaleng yang sengaja diikat di belakang sepeda ini membuat kupingku terasa sakit.


__ADS_2