
Caca merasa gak nyaman di liatin terus menerus oleh Arvan, Caca segera menyelesaikan makannya dan segera pamit untuk pulang kerumahnya.
"Ma, Ca pulang dulu ya" Bangkit dari duduknya
"Tunggu!"
"Kenapa lagi ma?" tanyanya malas
"Biarkan Arvan yang mengantar kamu"
"Gak usah ma! aku bisa pulang sendiri" tolak Caca
"Yaudah, kalau begitu kamu gak boleh pulang" ancam Elsa.
"Baiklah, Arvan boleh mengantarkan ku"
__ADS_1
"Arvan apa kamu tidak keberatan mengantar Caca pulang?"
"Tidak kok Tante" jawab Arvan dengan lembut. Mereka berjalan keluar rumah dan segera masuk kedalam mobil setelah berpamitan kepada Elsa.
"Caca sangat cocok dengan Arvan. Sudah ganteng, mapan lagi berbeda jauh dengan lelaki penyakitan itu" batin Elsa. Arvan dan Caca tak ada bersuara sedikitpun, Caca memalingkan mukanya dan menghadap ke arah luar jendela
"Bagaimana keadaan Revan ca?"
"Sudah baikkan" jawabnya acuh
"hmm baiklah" Setelah itu tak ada suara yang keluar dari mulut Arvan maupun Caca. Sampai didepan rumah Caca, Caca langsung keluar dari mobil, dan Arvan mengikutinya dari belakang.
"Aku hanya ingin menjenguk Revan saja, apa aku boleh masuk?" ucapnya.
"baiklah, kau boleh masuk ayo". Ajak Caca, Arvan berjalan mengikuti Caca, Caca membuka pintu dan masuk kedalam
__ADS_1
"Sayang" panggil Caca dengan lembut, namun tak ada sahutan dari dalam, Caca mencari Revan disetiap ruangan dan ternyata Revan sudah tak sadarkan diri didalam kamar mandi.
"Sayang" Teriak Caca menangis dan menghampiri suaminya, Caca memangku kepala Revan ia menangis melihat Revan tak sadarkan diri.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit" ucap Arvan. Caca tak tau mau berkata apapun lagi, ia hanya bisa menangis, sedangkan Arvan ia segera membawa tubuh Revan kedalam mobil dan segera membawanya kerumah sakit. Sesampai dirumah sakit para perawat berlarian dan membawa Revan kedalam ruangan UGD. Caca menangis terus menerus apalagi perutnya terasa sangat sakit, tinggal menghitung hari kelahirannya. Dokter segera memeriksa Revan. Caca tak henti hentinya berdoa untuk keselamatan suami yang sangat ia cintai. Dokter keluar dari ruangan UGD.
"Keluarga pasien?" Tanya sang dokter
"Saya isterinya dok, bagaimana keadaan suami saya?" Caca bangkit dan segera mendekat kepada dokter.
"Kondisinya sangat lemah, ginjalnya yang satu sudah rusak dan harus di cangkok. Pasien membutuhkan donor ginjal dan itu memakan biaya yang tidak sedikit, apalagi pasien harus cuci darah" Penjelasan dokter, Caca hanya bisa menangis dan pasrah. Apalagi saat ini ia tak punya uang sepeserpun.
"Lakukan apapun yang terbaik demi suami saya dok, saya akan mencari biaya untuk suami saya" Ucapnya, airmata nya sudah banyak mengenang membasahi pipinya.
"Namun nyonya harus segera menyelesaikan biaya administrasi nya terlebih dahulu baru pasien bisa kita tanganin"
__ADS_1
"Saya mohon dokter, tangani suami saya dulu. Saya akan mencari biaya untuk suami saya dan segera melunasi nya" mohon Caca sambil terduduk memohon kepada sang dokter
"Maaf kan saya Bu, ini sudah kebijakkan dari pihak rumah sakit. Jika ibu sudah melunasi semua nya kita akan segera menindak lanjuti keadaan pasien" Dokter itu segera pergi meninggalkan Caca dan juga Arvan. Arvan mendekati Caca dan mencoba menenangkannya namun Caca menolak dan menjauhi Arvan. Ia tak ingin siapapun menyentuh nya kecuali suaminya. Caca terus terusan menangis, ia bingung mencari uang kemana sedangkan tak ada yang menerima ia menjadi karyawan apalagi keadaannya yang sedang hamil besar.