Ibu Sambung

Ibu Sambung
Memberikan ASI?


__ADS_3

Raisa terdiam mendengar ucapan Shinta, dengan sabar Shinta memberikan pengertian kepada anak dari sahabatnya itu.


"Nak, apa yang kamu rasakan kakak mu juga merasakannya. Hanya saja, kak Syifa tidak bisa mengungkapkan rasa cemasnya."


"Mama berbohong! Apa mama tau, saat mama kemarin masuk ke rumah sakit kak Syifa begitu sangat khawatir bahkan ia selalu menangis. Namun saat Mami dan Daddy berada di rumah sakit, kak Syifa sangat tenang!" Raisa berteriak kepada Shinta, mengungkapkan rasa kecewanya


"Jika kak Syifa menganggap Mami dan Daddy sebagai orang tuanya juga, ia tidak akan setenang itu."


Shinta membiarkan Raisa mengungkapkan rasa kecewa dan marahnya.


"Raisa kamu enggak boleh bicara seperti itu kepada orang yang lebih tua!" ujar Revan yang tiba-tiba datang menghampiri istri dan juga Raisa.


Shinta menoleh ke arah suaminya, ia tidak menginginkan ini terjadi karena Shinta tau pasti suaminya tidak akan membiarkan Raisa mengatakan hal yang buruk kepadanya.


Terlihat Raisa tidak takut, ia membalas tatapan Revan.


"Kenapa om? Apa yang Raisa katakan itu benar!"


Revan ingin memberikan pelajaran kepada Raisa namun Shinta melarangnya. Ia tidak mau jika suaminya kehilangan kendali


"Biar Raisa aku yang mengurus, mengapa kau marah kepada anak yang masih kecil begini?"

__ADS_1


Shinta tak habis pikir dengan suaminya, mengapa mudah sekali terbakar emosi.


Padahal semua ini masih bisa di bicarakan dengan baik-baik.


"Kau lihat, jika dia tidak kita ajarkan sopan santun ia bisa seenaknya bicara seperti itu kepada orang yang lebih tua."


"Sudah lah! Dia begitu karena sangat cemas dengan keadaan kedua orangtuanya. Kita sebagai orang yang lebih tua harus bisa bersabar. Enggak bakal ada ujungnya jika emosi dibalas dengan emosi juga!"


Shinta memohon kepada Revan untuk tetap tenang, Revan pun berlalu pergi.


Terlihat Raisa sangat takut, ia menangis


"Raisa mau sama Mami aja!"


"Enggak mau! Raisa mau sekarang!"


Terdengar suara tangisan Khanza dari kamar, Shinta bingung harus bagaimana.


"Sayang, nanti kita bahas lagi ya? Mama harus melihat baby Khanza menangis."


Shinta pun berlalu pergi meninggalkan Raisa untuk menemui Khanza di kamarnya.

__ADS_1


Ia menggendong Khanza, menenangkan bayi caca


"Sayang, jangan menangis nak! Cup! Cup!" dengan penuh kasih dan sayang Shinta menenangkan anaknya Caca itu.


Menatap Khanza rasanya sangat tenang, ia tersenyum jika saja Al masih hidup pasti ia akan sangat senang.


Shinta tersadar dari lamunannya, ia harus menerima kenyataan pahit ini. Bukan untuk melupakan anaknya namun untuk melanjutkan hidupnya.


"Bagus, anak pintar."


Shinta mengecup Khanza saat Khanza tersenyum, tangisannya terhenti namun hanya sebentar. Baby Khanza kembali rewel


Pengasuh mengatakan jika stok ASI dari Caca sudah habis dan Khanza sangat haus.


Shinta terdiam, apakah ia harus memberikan ASI nya kepada baby Khanza?


Karena memang air ASI Shinta masih keluar, tanpa ragu ia pun memberikannya ASI nya untuk baby Khanza.


Nanti ia akan meminta maaf kepada Caca karena sudah lancang memberikan ASI anaknya Caca.


Shinta tidak memperdulikan itu. Yang terpenting Khanza tidak merasa lapar lagi, benar saja setelah memberikan ASI. Khanza langsung tertidur dengan pulas.

__ADS_1


Dengan perlahan, Shinta meletakkan tubuh Khanza di atas tempat tidur.


"Baby Khanza sudah tidur. Tolong kamu jaga dengan baik ya?" pinta Shinta kepada pengasuh Khanza. Sikap ketusnya kepada pelayan masih sama semenjak anaknya Al telah tiada. Luka itu begitu dalam untuk dirinya


__ADS_2