Ibu Sambung

Ibu Sambung
Kepulangan Shinta


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Shinta masih saja menginap di rumah sakit. Sudah dua hari ia menginap di sini yang di temani oleh Krystal dan juga Revan. Bahkan Raffa juga menemani mereka


Caca tidak bisa menjenguk Shinta karena ia harus menjaga anak-anak. Syifa juga masih sedih dengan kepergian baby Al.


Semua nya masih berselimut dengan duka kepergian Al.


Cekrek!


Pintu kamar Shinta terbuka, terlihat mama Lily dan ayah mertuanya masuk.


Lily langsung memeluk menantu nya, Shinta terdiam. Sebentar, ia melirik ke ayah mertua nya.


Shinta Tidak kuat jika ayah mertua nya akan menyalahkan nya atas kematian anak nya.


"Ini semua memang kesalahan Tata, Ma. Andai saja Tata tidak terlalu memikirkan diri sendiri. Mungkin, Al tidak akan pergi seperti ini."


"Hust! Jangan mengatakan hal itu! Kamu tidak boleh seperti itu."


Tommy mendekati menantu nya, Shinta melepaskan pelukan nya kepada ibu mertua. Ia gemetar, jika pun ayah mertua nya memaki diri nya karena kesalahan yang ia buat. Dia akan terima, walau sebenernya Shinta tidak kuat dengan perkataan-perkataan ayah mertua nya yang begitu pedas.


"Nak, ini semua sudah terjadi. Jangan menyesali nya lagi. Bukan kesalahan mu."


Tangisan Shinta memecah, ia tidak percaya ayah mertua nya mendukung nya. Tommy langsung memeluk menantu nya itu, ia tau jika Shinta pun tidak mau anak nya mati.


"Tidak ada seorang ibu yang ingin anak nya tiada. Tapi, semua sudah Tuhan rencanakan." ujar Tommy yang menenangkan menantu nya.


Krystal terharu melihat keluarga Shinta.


"Cil, kenapa menangis?" bisik Revan kepada Krystal.


Wanita itu memukul bahu Revan dengan kuat.


Terharu! Mau nangis juga aaa


"Hust!" tegur Revan kepada Krystal. Ia tidak mau wanita hamil ini membuat keributan.


Krystal terdiam, menatap Revan dengan sinis. Raffa tertawa melihat ke dua nya.


Istri nya memang lucu, apalagi semenjak hamil tingkah nya seperti anak-anak.


Kak, mama dan papa baik banget sih. Terharu banget huaaa!


Lily melihat ke arah Krystal, mendekati nya.


Krystal terlihat sangat malu, memang keluarga mereka sudah sangat kenal dan dekat.


Jadi Krystal memanggil orang tua Revan dengan panggilan "Mama dan Papa"


Begitu juga sebaliknya nya dengan Revan kepada keluarga Krystal.


"Sayang, maafkan mama. Mama tidak melihat kehadiran mu tadi."


"Enggak apa-apa ma. Krys tapi lihat mama kok." Krystal menunjukkan wajah imut nya. Suasana yang awal nya tegang kembali mencair.


Tommy pun mengelus rambut Shinta dengan lembut. Ia meminta kepada menantu nya untuk tidak terlalu berlarut dalam kedukaan.


"Nak, kita semua kehilangan baby Al. Namun, semua nya sudah terjadi. Papa juga sangat sedih, apalagi waktu papa dan cucu papa tidak banyak kemarin. Namun, papa harap kita semua bisa ikhlas dengan semua nya ya?"


Shinta pun mengangguk, ia berterima kasih kepada ke dua mertua nya karena selalu mengerti dengan keadaan nya.


"Yang di katakan oleh papa mu benar, sayang. Kita memang kehilangan baby Al, tapi jangan sampai kita membuat kesalahan yang sama. Si kembar dan Syifa juga membutuhkan kita semua terutama kamu, Sayang. Kalau kamu begini terus kasian anak kamu yang lain."


Ucapan ke dua mertua nya membuat Shinta kembali bangkit, ia juga mengingat kejadian sebelum baby Al meninggal. Anak nya itu baik-baik saja.


Shinta menatap kepada Revan, ia mengatakan jika kematian baby Al tidak wajar.


"Van, sebelum kita pergi. Aku ke kamar baby Al. Dia itu baik-baik aja, namun kenapa tiba-tiba seperti itu? Kematian anak kita tidak wajar, dokter mengatakan apa?" tanya Shinta kepada suami nya.


Mereka yang ada di ruangan pun terdiam, Krystal juga setuju dengan ucapan Shinta.


Mama Lily dan papa Tommy juga bertanya kepada anak nya. Apa penyebab kematian anak mereka.


"Sudah lah, Baby Al sudah tenang di sana. Kita enggak perlu memikirkan itu sekarang. Yang terpenting, kesehatan Shinta."


"Tapi aku juga ingin tau penyebab kematian anak aku, Van!"


"Kalau ingin tau, segera lah sembuh. Dan kita kembali ke rumah!"


Shinta mengangguk, ia mengatakan jika diri nya akan sembuh demi sebuah kebenaran untuk kematian anak nya.


********

__ADS_1


Sudah dua hari, Gunawan mendiamkan istri nya.. Syafa pun belum mengetahui kematian cucu nya Al.


Syafa tidak tahan lagi dengan sikap dingin suami nya.


"Mas, kamu udah dua hari mendiamkan saya. Apa kesalahan saya mas?"


Gunawan masih diam, ia tidak mau berdebat dengan istri nya itu. Karena sudah berpuluh-puluh tahun mereka menikah, ke dua nya sangat jarang bertengkar, bahkan hampir tidak pernah.


Gunawan sibuk membaca koran yang ada di tangan nya.


"Mas, kamu baru pulang. Udah dua hari ini kamu pergi-pergi terus, setiap saya tanyak kamu enggak jawab. Kenapa sih kamu?" tanya Syafa kepada suami nya, ia merasa hubungan mereka akhir-akhir ini begitu renggang.


Gunawan masih bungkam, ia takut jika ia bersuara akan menyakiti hati istri nya.


"Kamu udah menghubungi anak kita?" tanya Gunawan kepada istri nya, Syafa menggeleng.


"Belum, memang nya ada apa mas? Kalau ada apa-apa pasti dia mengabari saya atau kamu akan mengatakan nya kepada saya."


Gunawan hanya menggeleng. Ia tidak percaya dengan ucapan istri nya. Malas membuat pertikaian yang semakin besar, Gunawan beranjak dari tempat nya. Lebih baik ia segera ke rumah sakit menjenguk anak nya.


"Mas, kamu belum menjawab ucapan saya."


Gunawan langsung masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaian nya.


Syafa ingin mengejar, namun Rayhan memanggil nya, Syafa langsung menemui anak nya itu.


Ia tidak bisa menghubungi Shinta karena ponsel nya rusak di banting oleh Rayhan kemarin. Syafa tau jika anak nya tidak sengaja.


*****


Shinta memaksa untuk pulang hari ini juga, Revan mengatakan lebih baik Shinta istirahat. Namun, Shinta terus memaksa.


Revan pun bertanya kepada dokter apakah istri nya boleh pulang ke rumah. Dokter pun mengizinkan nya karena melihat kondisi Shinta sudah membaik. Namun, dokter mengatakan jika Shinta harus istirahat yang cukup di rumah.


Jangan terlalu banyak pikiran, Shinta pun mengangguk, berjanji kepada dokter bahwa ia akan menjaga diri nya.


Shinta ingin tau penyebab kematian anak nya, ia harus kuat dan sehat.


Keluarga pun mempersiapkan kepulangan Shinta, Revan terdiam. Ia tidak yakin membawa istri nya pulang ke rumah, namun ia juga tidak bisa memberitahu alasan nya kepada Shinta.


Shinta dengan semangat bersiap, ia harus pulang. Lagipula, ia merindukan anak-anak.


Krystal membantu Shinta untuk menyusun barang-barang nya.


Shinta mengucapkan banyak terimakasih kepada Krystal dan juga Raffa yang sudah mau repot menjaga diri nya.


Raffa dan Krystal mengatakan jika mereka tidak merasa di repot kan, bahkan senang bisa menjaga Shinta di rumah sakit.


"Jangan sungkan begitu kak. Aku dan suami seneng kok menjaga kakak di sini."


Shinta memeluk Krystal dengan hangat, ia mengingat Kaynara.


Krystal mengatakan kepada Shinta untuk tetap kuat menjalani kehidupan. Shinta mengangguk, ia berjanji kepada Krystal untuk tetap kuat agar ia bisa tau penyebab kematian anak nya.


Semua sudah siap, Shinta dan keluarga pun pulang ke rumah. Mereka berpisah dengan Krystal dan Raffa di rumah sakit.


Shinta mengajak mereka untuk ikut kerumah, namun Krystal mengatakan mereka akan mampir lain kali.


Shinta dan keluarga pun naik ke mobil setelah berpamitan kepada Krystal dan Raffa.


Tak henti-hentinya Shinta, Revan dan juga mama Lily mengucapkan terimakasih banyak kepada Krystal dan Raffa karena sudah menjaga Shinta.


Saat mobil mau jalan, mereka melihat ayah Gunawan yang baru turun dari mobil. Shinta ingin turun namun Revan melarang nya.


Revan yang turun dari mobil, menghampiri ayah mertua nya.


"Papa, kami sudah mau pulang. karena Tata minta pulang ke rumah." ucap Revan sembari menyalami ayah mertua nya.


"Baik lah jika kalian ingin pulang, untung saja kita bertemu di sini." ujar Gunawan, Revan mengajak ayah mertua nya untuk ikut kerumah dan naik di mobil mereka. Biar supir yang membawa mobil Gunawan.


Namun Gunawan menolak dengan halus, mengatakan jika diri nya akan menyusul sendiri.


"Papa akan menyusul, lagipula. Ada hal yang harus papa kerjakan lagi. Titip salam kepada ke dua orang tua kamu ya nak." ujar Gunawan, Revan mengangguk.


Revan kembali masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Gunawan yang masuk ke dalam mobil nya sendiri.


"Apa yang ayah katakan?" tanya Shinta saat suami nya sudah masuk ke dalam mobil. Revan pun mengatakan apa yang ayah mertua nya katakan tadi.


Shinta duduk di samping Revan, dan juga mama mertua nya. Sedangkan ayat mertua nya, duduk di kursi depan.


Supir melajukan mobil mereka menuju rumah, Shinta ingin menjemput anak-anak sekalian namun Revan menolak nya.

__ADS_1


"Biarkan anak-anak di rumah Caca dulu. Kamu harus ingat apa yang dokter katakan, istirahat yang cukup!" ujar Revan kepada sang istri.


Sebenarnya Revan hanya tidak mau anak-anak masuk ke rumah sebelum pelaku di temukan. Karena itu akan berbahaya untuk keselamatan anak-anak.


Revan sudah mencoba mengecek cctv, namun tidak ada jejak. Mungkin rekaman itu sudah di hapus, terlihat jelas pelaku nya sudah profesional dalam melakukan tindakan kejahatan. Revan harus lebih berhati-hati.


Shinta tidak sabar, Revan sangat takut membawa keluarga nya ke rumah. Karena ada pengkhianat yang masih berkeliaran di rumah mereka. Tidak mungkin Revan mengusir mereka sama saja membiarkan pelaku itu lolos.


Sesampai di rumah, Revan memasuki dan menghentikan mobil nya di halaman depan rumah nya.


Shinta turun di bantu oleh ibu mertua nya.


"Hati-hati, Sayang."


Ke empat nya masuk ke dalam rumah, terlihat jennika yang sudah menyambut kepulangan Shinta dengan wajah yang khawatir.


"Ta, kamu enggak apa-apa? Aku khawatir banget."


Tommy dan Lily melihat penampilan jennika yang menggunakan baju tidur.


"Maaf kamu teman nya Shinta kan?" tanya mama Lily dengan lembut, jennika terdiam.


Shinta menjelaskan segala nya kepada sang mertua. Lily dan Tommy hanya mengangguk, Shinta juga mengatakan mengapa jennika keluar dengan bebas di rumah mereka.


Shinta takut nanti suami jennika akan kembali dan melihat nya, jennika mengatakan ia baru saja keluar saat mendengar suara mobil Revan dan melihat Shinta turun dari mobil.


"Aku khawatir banget, saat pelayan kamu bilang kamu masuk rumah sakit." jennika memeluk Shinta, Shinta membalas pelukan sahabat nya itu.


Mama Lily membawa menantu nya untuk duduk terlebih dahulu. Revan masih melihat gerak-gerik kondisi di rumah nya.


Ia tidak mau kebablasan dan lalai lagi.


Revan izin kepada yang lain nya untuk naik ke atas, ia ingin mengganti pakaian nya sebentar.


Revan menaiki anak tangga satu persatu, saat ia ingin masuk ke kamar nya. Ia melihat kamar jennika yang sedikit terbuka.


Perasaan nya tidak enak, ia ingin masuk ke kamar itu.


Perlahan, Revan masuk ke dalam kamar jennika.


Hati nya menolak, tidak mungkin jennika pelaku nya. Namun, semenjak kehadiran jennika kenapa anak nya tiada. Kenapa tidak sebelum nya?


Tak mau mengambil pemikiran sendiri, Revan memutuskan untuk memeriksa kamar jennika.


Ia masuk perlahan, mencari sesuatu petunjuk di dalam kamar jennika.


Ia pun sesekali melihat arah luar, untuk memantau keadaan.


Revan tidak menemukan apapun, ia pun lega. Akhirnya kecurigaannya itu tidak terbukti. Ia juga merasa bersalah.


Saat Revan ingin menutup pintu, ia melihat sesuatu di bawah kolong kamar jennika.. Revan kembali masuk, dan mengambil yang ada di bawah kolong tempat tidur jennika.


Betapa kaget nya Revan saat menemukan botol yang ternyata isi nya adalah racun.


Dengan perasaan murka, Revan turun kebawah meneriaki nama jennika.


Semua orang kaget, begitu juga dengan Shinta.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi jennika, rasanya ingin sekali Revan membunuh wanita yang ada di hadapan nya itu.


"Van, kenapa kau menampar nya!" teriak Shinta yang tidak terima sahabat nya di perlakukan seperti itu, Shinta memeluk jennika. Jennika tidak mengerti apa yang terjadi.


Mama Lily dan papa Tommy juga memarahi anaknya Revan yang sudah kurang ajar kepada seorang wanita.


"Istri ku menyayangi dan melindungi mu. Bahkan, ia tidak perlu keselamatan hidup nya dan juga keluarga nya hanya karena menyelamatkan wanita tidak tau diri seperti mu. Mengapa kau tega melakukan ini kepada keluarga kami? Apa kesalahan anakku sehingga kau membunuh anak kami!"


Duar!


Ucapan suami nya membuat Shinta terdiam, jennika menangis ia tidak mengerti apa yang Revan katakan.


"Ak-aku tidak tau apa-apa. Aku juga tidak membunuh anak mu!" ucap jennika yang ketakutan.


"Jangan berpura-pura bodoh atau depresi kau wanita gila! Kau sudah membunuh anak kami!"


Cukup!


Bentak Shinta kepada suaminya, ia tidak mengerti mengapa suami nya mengatakan hal seperti itu kepada jennika.


"Mengapa kau menuduh sahabat ku seperti itu? Jika kau marah, dan menyalahkan kematian anak kita, kenapa menyalahkan orang lain? Ini kelalaian ku sebagai orang tua. Jika aku yang lalai, itu bukan karena sahabat ku. Kenapa kau menuduh bahkan menampar nya seperti itu!"

__ADS_1


Shinta berteriak kepada suami nya, ia kesal melihat tindakan suami nya yang kurang ajar kepada sahabat nya


__ADS_2