Ibu Sambung

Ibu Sambung
Jauh Berbeda


__ADS_3

Ucapan Daddy-nya membuat Raisa semakin tidak berkutik "Daddy kenapa Daddy mengatakan itu? Daddy tahu kalau aku tidak pernah bekerja sama sekali tapi mengapa Daddy melakukan ini?"


Syifa hanya menahan tawanya, bukannya ia ingin melihat adiknya menderita namun Raisa harus paham dengan semua keadaan. Raisa enggak bisa berbuat apapun sesuai keinginannya sendiri


"Mami, bicara dong! Kenapa mami diam?" Bahkan Caca berpaling dari Raisa, bukannya ia tidak mau membantu anaknya. Caca sangat ingin membantu Raisa, namun mau bagaimana lagi? Arvan sudah melarangnya, Caca tidak ingin salah satu anaknya tumbuh menjadi sosok wanita kejam dan egois seperti mamanya.


"Maaf Raisa, mami hanya akan mengikuti ucapan kamu. Kamu ingin mandiri, mandiri lah! Pergi lah ke Malaysia sana dan hidup dengan cara mu sendiri, jika perlu kamu ingin jual diri seperti kata mu bukan? Lakukan lah nak! Mami menyerah sekarang. Keputusan ada di tangan mu, jika kamu ingin memiliki masa depan yang baik, maka ikuti semua ucapan dan ajaran kakak mu, Syifa! Namun jika tidak, kamu boleh pergi! Pergi lah kemana pun kamu mau! Mami sudah lelah! Mami lelah dengan semua sifat buruk kamu! Mami lelah, mami lelah dengan semuanya nak!"


Raisa terkejut mendengar ucapan mami yang selama ini mendukungnya kini seperti tidak memperdulikannya. Raisa menatap Syifa yang menaikan salah satu alisnya "Bagaimana adik ku sayang? Tetap ingin pergi kah? Sudah siap menjadi Raisa yang dulu? Tanpa kedua orang tua dan keluarga? Sudah siap tinggal di panti asuhan lagi? Atau mungkin menjadi anak jalanan di Malaysia karena enggak bisa bayar apartemen juga makan upsss,"


Raisa menggeram, namun tak bisa berbuat apa-apa. Benar yang Syifa katakan, jika kedua orang tuanya tidak mau membiayai hidupnya maka ia akan menjadi Raisa yang tanpa orang tua. Raisa tidak bisa kembali ke masa dulu, ia pun pergi meninggalkan Syifa, Mami dan juga Daddy-nya!


"Syifa, makasih ya nak. Daddy yakin, Raisa tidak akan pergi sekarang. Daddy lega sekarang, Daddy pun tidak tega namun ia harus diberikan pelajaran!" Syifa tersenyum kepada Daddy-nya lalu sejenak melirik ke arah sang mami "Makasih ya mi, ini semua karena mami yang tegas pada Raisa. Jika tidak, mungkin ia akan mengatakan atau berbuat sesuka hatinya," Caca tak menjawab ucapan Syifa, ia pun memalingkan wajahnya dari Syifa.


Wanita itu hanya mengangkat bahunya, dan tak perduli. Ia berpamitan kepada Daddy-nya untuk kembali ke kamar.


Aku tahu, mami lebih menyayangi Raisa daripada aku dan Khanza. Namun mami harus tegas untuk hidup Raisa yang lebih baik! Aku enggak ingin Raisa tumbuh menjadi wanita yang keras kepala ~batin Syifa


Setelah anak-anaknya pergi, Caca protes dengan suaminya "Kenapa semua menjadi rumit seperti ini? Dahulu kita sangat tenang, namun sekarang? Kamu lihat, Raisa seperti tertekan!"


"Tertekan kamu bilang? Dia tidak akan menjadi anak kurang ajar seperti itu kalau tidak kamu terlalu manjai dia! Bahkan, dia berbicara sesukanya tidak pernah menghiraukan atau memahami perasaan kita. Andai kamu tegas sejak dahulu kepadanya, ini semua tidak akan terjadi!"


"Aku hanya ingin menebus kesalahan ku padanya!"


"Dengan melakukan kesalahan baru! Dan kamu membuat kesalahan lain kepada anak-anak kita yang lainnya!"

__ADS_1


Caca terdiam, ia sudah termakan oleh rayuan Raisa selama ini sehingga lebih memihak kepada Raisa.


"Kamu memahami dong perasaan aku! Aku menyayangi mereka semua, dan kamu tahu sejak kecil Raisa yang paling sulit diberikan penjelasan! Aku hanya ingin anak aku bahagia!"


Arvan tertawa, ia sangat kecewa dengan pemikiran istrinya "Ini yang kamu sebut bahagia? Dia bahagia di atas penderitaan anak mu yang lainnya. Anak mu bukan hanya Raisa, namun ada Syifa dan juga Khanza! Lalu bagaimana dengan mereka? Apa kamu pernah perduli? Jangan karena Shinta sudah memberikan kasih sayang kepada mereka kamu mengira mereka tidak butuh kasih sayang dan perhatian kamu!"


**********


Shinta sudah berusaha membuat hati anaknya senang, ia pun membawa Alan dan Alana berlibur. Namun semuanya sudah hambar untuk Alana, namun Alana menghargai setiap usaha yang di lakukan oleh kedua orang tuanya.


"Sayang, kamu mau mama suapin?" Shinta bertanya kepada Alana, Alana menggeleng dan tersenyum "Tidak ma, Alana bisa makan sendiri, mama lupa kalau sejak umur Alana lima tahun, Alana sudah bisa sendiri?"


Shinta terdiam, ia yakin anaknya membutuhkan waktu.


Mereka pun makan bersama. Bahkan, Revan menyayangi kan sebuah lagu untuk istri dan anaknya.


"Khanza, kamu mau makan,"


Alana menggelengkan kepalanya, tersenyum sinis. Lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.


Revan pun mengejar anaknya "Alana tahu pa, kalau mama tidak hanya fokus dan memikirkan Khanza saja. Sebab itu, Raga mama memang bersama kita, namun tidak dengan hati dan pikiran mama," Alana mengatakan itu dengan nada yang gemetar, seakan menahan tangisnya.


Alana tersenyum menatap papanya namun terlihat di matanya sangat merasakan kepedihan, menahan sakit yang luar biasa "Alana senang kok, ma. Setidaknya mama dan papa masih ada waktu untuk Alana,"


Revan memeluk anaknya, entah sampai kapan semua ini berakhir. Namun sebisa mungkin, Revan akan memperbaiki semuanya "Nak, papa hanya minta. Buka lah hati kamu sedikit untuk memaafkan mama dan papa. Kami akan memperbaiki semuanya, dan masalah Khanza. Ini hanya butuh waktu nak, kamu sayang juga kan sama adik Khanza?"

__ADS_1


Alana mengangguk, "Alana sayang sama Khanza. Bagaimana pun, dia sudah lama tinggal bersama kita,"


Revan membelai rambut anaknya, ketidakberdayaan apa ini? Semuanya sangat ribet setelah kepergian Al.


Seandainya Al masih ada, mungkin semua ini tidak akan terjadi


"Sayang, sudah ya nak!"


"Iya, pa! Alana enggak apa-apa kok, Alana sudah terbiasa dengan semuanya!" Bahkan tak ada lagi air mata, mungkin sudah terlalu sakit ia menjerit dalam hatinya


"Alana,"


Alana menoleh kebelakang, mamanya berdiri tepat di belakangnya "Iya ma?" Alana mencoba tersenyum kepada mamanya, ia tidak mau membuat kekacauan apapun lagi. Kini Alana sudah pasrah dengan semuanya


"Maafin mama ya nak, mama enggak bermaksud,"


"Enggak apa-apa ma, Khanza sudah bersama kita sejak bayi. Dan Alana tahu itu berat, tidak mudah apalagi untuk mama. Yang bahkan sudah memberikan ASI Mama untuknya,"


Shinta menangis, Alana bangkit mendekati mamanya. Ia menghapus air mata mamanya "Jangan menangis lagi, ma! Mama jelek kalau nangis," ia bahkan meng-gurau agar suasana tidak tegang.


Shinta tersenyum "Mama sudah tua pasti jelek dong," Alana memeluk mamanya "Enggak ma! Mama cantik banget!"


"Anak mama juga cantik!"


Alana dan Raisa sangat jauh berbeda, mungkin Alana terkenal keras kepala namun jauh di hatinya ia sangat baik dan lembut, Alana seperti itu semata-mata ingin meluapkan rasa sakitnya..

__ADS_1


Sedangkan Raisa, ia egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri.


__ADS_2