
Shinta berharap, agar semuanya bisa membaik seiring berjalannya waktu. Alan pun menghampiri mereka "Ehem! Alana aja nih yang di peluk?"
Alana dan Shinta saling melepaskan pelukan mereka satu sama lain, lalu membuka salah satu tangan mereka untuk menyambut Alan masuk ke dalam pelukan.
Revan pun memeluk istri dan kedua anaknya "Papa berharap kalian menyukai liburan kali ini,"
"Suka banget pa, tapi ada yang kurang,"
"Apa? Biar papa menyiapkan keinginan dan kebutuhan kalian,"
"Kak Syifa!" Jawab kedua kembar itu secara bersamaan, Shinta terharu karena kedua anaknya masih mengingat kakak mereka
"Nak, kak Syifa sedang banyak tugas di kampusnya. Tapi lain kali, kita akan berlibur bersama lagi oke?" Alan dan Alana pun mengangguk
"Pa, ma. Kita pulang aja yuk sekarang?" Alana meminta kembali kerumah, Shinta dan Revan kebingungan
"Kenapa nak? Apa kamu tidak suka liburan kali ini?"
"Bukan! Sudah cukup bahagia Alana, tapi kepala Alana terasa sangat sakit!"
"Sayang, kamu sakit nak? Mana yang sakit?" Shinta bertanya dengan cemas. Belum sempat Shinta mendapatkan jawabannya, Alana jatuh tak sadarkan diri. Dengan cepat, Revan menggendong tubuh anaknya
Mereka pun memilih untuk pulang, Shinta menangis. Ia sangat khawatir dengan anaknya Alana
"Sayang, bangun nak!" Shinta tak sanggup dan tak ingin kehilangan Alana seperti kehilangan baby Al dulu. Sudah cukup ia membuat kesalahan "Alana anak yang kuat, mengapa hanya karena seperti ini ia menjadi pingsan?"
Revan tak menjawab ucapan istrinya, mereka bergegas menuju mobil. Bahkan mengabaikan barang-barang bawaannya, Revan sudah menghubungi orang suruhannya untuk mengatur barang-barang bawaan mereka.
"Kita langsung bawa ke rumah sakit saja!" pinta Shinta, Revan mengangguk.
"Kita akan membawanya ke rumah sakit. Tapi kamu yang tenang ya?"
"Gimana aku bisa tenang? Anak aku sekarang tidak sadarkan diri, aku enggak tahu apa penyebabnya!"
"Jika kamu panik, emangnya menyelesaikan masalah?"
"Ma, pa tolong dong jangan bertengkar! Sebaiknya kita membawa Alana sekarang daripada kalian membuang waktu dengan bertengkar!" Alan meminta kedua orang tuanya untuk tidak lagi bertengkar. Revan mau pun Shinta terdiam, Shinta memeluk anaknya.
Ia sudah banyak merasa kehilangan, kini ia tidak ingin lagi. Sesaat, ia mengingat pesan almarhum kedua orang tuanya untuk lebih fokus kepada Alana.
"Nak, kamu enggak apa-apa kan?" Shinta bertanya kepada Alana yang masih tidak sadarkan diri "Tolong lebih cepat lagi lah, aku sangat khawatir dengan Alana!"
Revan pun melajukan mobilnya dengan dua kali lebih cepat. Mereka berharap, agar anaknya tidak apa-apa. Saat sudah di tengah perjalanan, Alana tersadar terlihat wajahnya sangat pucat
"Ma, pa!" Jawabnya dengan nada yang berat "Sayang, kamu enggak apa-apa nak? Wajah mu sangat pucat sekali!" Shinta memegang suhu tubuh anaknya namun suhunya normal, namun wajah anaknya begitu pucat "Alana enggak apa-apa ma, Alana hanya ingin pulang ke rumah."
Revan pun membawa anaknya ke rumah saja seperti permintaan Alana. Shinta pun tak ingin memaksa yang penting anaknya tenang dan nyaman
Mereka pun kembali ke rumah, kini Revan tidak mengebut lagi. Shinta memeluk anaknya dengan perasaan yang masih kacau "Maafin mama sayang, mama selama ini mengabaikan kamu!" Alana pun mengangguk, ia menghargai penyesalan mamanya
__ADS_1
******
Di sisi lain, Raisa membanting semua barang-barang yang ada di kamarnya "Kenapa? Ini semua karena kak Syifa! Jika tidak ada dia! Aku pasti akan bebas dan mami juga Daddy tidak akan mencegah apapun yang ingin aku lakukan,"
Kepalanya masih sangat pusing, Raisa bersiap-siap. Ia sudah janjian dengan temannya yang juga liburan ke Indonesia untuk mengadakan party.
Raisa memakan mini dress yang begitu pas di tubuhnya dengan rambut di ikat tinggi, membuatnya terlihat sangat seksi dan cantik serta di lengkapi dengan polesan make-up
"Aku akan pergi sekarang, tapi jangan sampai kak Syifa melihat ku. Jika dia melihat aku, dia pasti akan melarang atau membuat aku kesusahan lagi. Kakak ku yang dulu sangat jauh berbeda, aku tidak suka dengannya!"
Raisa pun menunggu waktu yang tepat untuk keluar dari rumah. Setelah memastikan semua orang tidur, ia baru pergi di jemput oleh temannya.
*****
Keesokan paginya, Syifa terbangun jam lima pagi. Ia pun memutuskan untuk mengambil air putih dan meminumnya, lalu membersihkan diri.
Saat ia melewati kamar Raisa, pintu kamar adiknya terbuka. Ia pun masuk dan tidak melihat Raisa di dalam kamar "Raisa, kamu ada di mana?" Panggilnya, namun tidak ada juga. Syifa mengira jika adiknya ada di dapur mengambil minum namun saat ia berada di dapur. Raisa pun tidak ada di sana, ia mengingat percakapan mereka tadi siang. Apakah Raisa kabur dari rumah? "Apa dia marah dan pergi? Tidak! Dia tidak boleh pergi, kasian mami dan Daddy pasti akan sedih jika Raisa benar-benar pergi!"
Syifa pun mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya, dan yang membuka adalah Caca
"Ada apa Syifa? Mengapa kamu mengetuk pintu kamar mami dan Daddy sepagi ini? Apa sesuatu terjadi kepada Khanza?"
"Syifa? Ada apa nak?" Arvan pun tiba-tiba sudah berada di belakang Caca "Begini mi, Daddy. Raisa tidak ada di kamarnya,"
"Apa? Kemana dia? Dia baru saja kembali ke Indonesia setelah bertahun-tahun. Lalu kemana dia?" Ujar Caca yang terlihat sangat panik. Caca menoleh ke arah suaminya "Sayang, bagaimana jika Raisa melakukan hal yang nekat? Bagaimana jika dia benar-benar kembali ke Malaysia? Bagaimana? Ini semua karena kalian yang terlalu keras kepadanya! Anak ku Raisa!" Caca menangis, Syifa meminta maaf kepada mamanya
"Mi, maafin Syifa. Namun Syifa tidak bermaksud untuk membuat Raisa pergi dari rumah,"
Mata Syifa berkaca-kaca, merasa sangat bersalah. Namun mengapa ibu kandungnya membuat dirinya seperti orang asing. Bahkan, Caca tidak pernah bersikap baik lagi kepadanya
"Sudah lah, kamu tenang,! Kenapa kamu menyalahkan Syifa, apa yang Syifa ajarkan kepada adiknya itu memang yang terbaik! Kamu jangan menyalahkan Syifa untuk itu!"
"Kamu lagi! Tahu apa kamu Van? Selama ini aku yang mengurus anak aku Raisa sendirian. Aku tahu betul anak aku, dan sekarang kalian selalu berbuat kasar kepadanya!"
"Tapi, aku juga anak mami!" Setelah mengatakan itu Syifa pergi meninggalkan kedua orang tuanya, hatinya merasa hancur.
Mengapa ibu kandungnya memperlakukannya seperti orang asing sedangkan ibu sambungnya Shinta selalu memperlakukannya dengan baik.
"Kamu sudah keterlaluan tau enggak!"
Arvan mengejar anak sambungnya "Nak, tunggu Daddy!" Syifa pun berhenti, menoleh ke arah Daddy-nya dengan mata yang sendu.
"Nak, tolong jangan di masukan ke hati ucapan mami kamu ya? Saat ini mami lagi panik mencari keberadaan adik kamu, maafin mami ya nak?"
Syifa mengangguk, ia pun memberitahu Daddy-nya untuk tidak perlu khawatir dan memikirkan dirinya "Enggak apa-apa Daddy! Yang mami katakan itu benar, tapi Daddy enggak usah khawatir ya? Syifa akan mencari Raisa," Syifa tersenyum kepada Daddy-nya. Ia merasa bertanggung jawab atas semua ini, karena memang ia terlalu keras dengan Raisa
Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil yang masuk ke halaman rumah mereka..Syifa mengintip, dan yang keluar dari mobil adalah adiknya. Raisa berjalan sempoyongan
Syifa dan Arvan membuka pintu, Raisa tersenyum mulutnya bau sekali alkohol
__ADS_1
"Raisa, apa yang kamu lakukan?" Syifa membantu adiknya untuk masuk, Arvan dengan Amarah memanggil istrinya "Caca!"
Caca pun menghampiri anak dan juga suaminya "Raisa! Nak, kamu mabuk lagi?"
"Mami, berisik!" Raisa membentak ibunya, Syifa menuntun tubuh Raisa ke sofa.
"Kamu kenapa sih kok jadi seperti ini?" Syifa merasa kecewa dengan adiknya, mengapa Raisa begitu keluar dari norma-norma keluarga mereka "Apa yang anak ini lakukan sudah keterlaluan! Dia tidak ada berubahnya! Kamu lihat, bahkan di sini juga sikapnya sangat buruk! Bukan kami yang keras kepadanya namun kamu yang selalu memanjakan anak ini sehingga dia begitu keterlaluan!"
Syifa meminta Daddy-nya untuk tenang "Daddy, tenang lah! Jangan emosi nanti Daddy bisa sakit,"
"Bahkan Daddy bisa mati jika melihat kelakuannya yang semakin hari semakin jadi!"
Caca dan Syifa kaget dengan ucapan Arvan terlihat dirinya begitu kecewa dengan perbuatan Raisa
"Sudah lah, kita akan membahas ini besok. Percuma saja, anaknya juga tidak sadar"
Syifa pergi ke kamar mandi di dekat dapur, mengambil seember air lalu menyiram Raisa dengan seember air. Membuat wanita itu menggigil kedinginan "Apa yang kamu lakukan? Adik mu bisa sakit nanti!"
"Cukup mi! Syifa muak dengan semuanya, mau sampai kapan mami membela anak kurang ajar ini? Mau sampai kapan? Dia sangat keterlaluan, bahkan ia merusak nama baik keluarga. Di dalam keluarga kita tidak ada manusia-manusia sampah seperti ini!"
"Mami, dingin!"
"Diam kau! Dingin, dingin. Mau aku siram lagi?"
Syifa terlihat sangat marah, bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan maminya yang meminta untuk tidak menyiram adiknya lagi. Syifa menambahkan seember lagi, kini ruang tamu dipenuhi dengan genangan air
Syifa menarik adiknya untuk mengganti pakaian, Raisa pun mengikuti perintah kakaknya setelah itu Syifa menarik tangan adiknya untuk kembali ke ruang tamu
"Sekarang, pel ini hingga kering!"
"Syifa,"
"Cukup mi! Sudah aku katakan untuk tidak mencampurinya! Tadi mami menyalahkan aku bukan? Baik! Sekarang aku akan memperbaiki anak ini! Namun jika mami tidak terima, terserah mami! Mungkin mami memang ingin ada penerus di keluarga ini, biarkan dia menjelma menjadi iblis seperti nenek Elsa!"
Mata Syifa memerah, walau ia memiliki sifat yang lemah lembut. Namun jika dia sudah marah, Syifa akan menjelma menjadi sosok Revan. Yang sanggup melakukan apapun "Mau jadi apa anak ini? Jika mami tetap diam! Kali ini dia sudah keterlaluan!"
Caca pun terdiam "Baik lah, mami menyerahkan semuanya kepada mu. Didik lah adik mu menjadi wanita yang benar!"
"Sudah, sekarang kamu pel ini hingga kering!"
"Kak aku kedinginan, besok saja ya? Lagian kan ada pelayan, biar mereka yang membersihkan semuanya."
"Tidak ada besok-besok! Cepat pel sekarang!" Syifa mengatakan itu dengan nada yang tinggi, membuat Raisa kaget
"Baik lah!" Ia pun mengambil kain pel, lalu mengepel semuanya hingga kering. Arvan yang sudah terlalu kecewa pun pergi ke kamar "Daddy!" Raisa memanggil Daddy-nya namun Arvan tak menghiraukan anaknya yang sedang memanggil dirinya.
Arvan juga menghiraukan Caca, Caca mengikuti suaminya ke kamar
"Suami ku, maafkan aku! Aku salah. Dan aku menyesal,"
__ADS_1
"Apa yang kamu sesalkan? Kamu yang menginginkan itu bukan? Bukan kah kamu mengatakan jika kamu lebih tahu anak mu? Lihat lah hasil didikan yang kamu banggakan selama ini,"