
"Aku harus mencari cara agar menyelamat kan keluarga kita juga kedua orang tua Queen. Bagaimana pun, mereka tidak tahu apa-apa, mereka tidak bersalah. Mengapa mereka harus terseret dalam dendam wanita itu." Revan terlihat sangat frustasi. Shinta menenang kan suami nya
"Tenang lah!" Revan mengusap wajah nya dengan kasar
"Bagaimana aku bisa tenang? bahkan keselamatan Kay saja masih terancam." mendengar ucapan suami nya, Shinta pun merasa khawatir. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang
*******
Di dalam kamar, Syifa menangis sejadi-jadi nya. Ia merasa Revan sudah tidak menyayangi nya lagi. Perasaan kesal, marah, kecewa, sedih menyatu jadi satu.
"Papa kenapa seperti ini sekarang?" ia menghapus air mata nya dengan kasar, membaring kan tubuh di ranjang lalu memejam kan nya. Syifa kembali membuka mata nya seakan menemu kan sebuah solusi
"Apa aku minta izin sama mama Caca dan Daddy saja? mereka juga punya hak atas diri ku bukan?" gumam nya. Syifa mengambil ponsel milik nya dan segera menghubungi Ibu Kandung nya.
Terhubung
Hallo, Sayang? kenapa kamu menghubungi mama malam-malam? apa ada sesuatu, Nak? ~ Caca
Ma, sebenar nya. Hmmmm ~ Syifa
Ada apa nak? sini cerita sama mama ~ Caca
Ma, sebenar nya. Syifa akan ada perpisahan sekolah, dan kami akan pergi ke puncak ~ Syifa
Iya, Nak. Lalu? apa kamu butuh uang? ~ Caca
Tidak, Ma! eh iya, sedikit. Tetapi, yang paling Syifa butuh kan adalah izin ~ Syifa
Papa tidak mengizin kan nya ma, tetapi mama kan ibu kandung ku. Mama juga berhak memberi kan izin kan pada ku? atas diri ku? ~ Syifa tak kuasa menahan tangis nya, Suara nya terasa terisak.
__ADS_1
Baik lah, Sayang. Besok Mama akan datang menemui mu dan berbicara pada papa ya? ~ Caca
Terimakasih, Ma. Syifa sayang mama, Syifa tutup dulu telepon nya ya ma? selamat malam ~ Syifa
Selamat malam, Sayang. Mama juga mencintai mu ~ Caca
Ponsel pun tertutup.
*******
Caca yang mendengar anak nya menangis pun merasa sangat hancur. Arvan yang melihat isteri nya bersedih pun mendekat dan menanyai apa yang terjadi.
"Ada apa, Sayang? mengapa kau terlihat sedih?"
"Syifa baru saja menghubungi ku, ia sangat ingin ikut ke puncak perpisahan sekolah. Namun, Revan tak mengizin kan nya. Syifa berkata bahwa aku juga mempunyai hak atas diri nya dan memberi kan izin. Aku bingung harus bagaimana, Sayang? kau tahu bukan bagaimana sifat keras Revan. Pasti ini akan membuat kita bertengkar saja." Caca pun merasa sangat sedih.
"Tetapi, Sayang. Kamu, kita juga punya hak yang sama untuk Syifa. Apa kita tidak bisa memberi kan kebahagiaan untuk Puteri sulung kita? aku akui, bahwa Syifa memang tinggal bersama Ayah kandung nya. Tetapi, kamu juga Ibu kandung nya. Jika kau merasa itu baik dan Syifa pun bahagia dengan itu, Kamu bisa memutus kan apapun itu untuk kehidupan Syifa. Kita adalah orang tua nya, terlalu mengekang anak akan membuat anak brontak pada kita. Ia akan merasa kita tak menyayangi nya, apalagi ini Syifa masa-masa remaja. Ia tak akan memahami sudut pandang kita jika itu tak sesuai hati nya." Arvan memberi kan masuk kan untuk Isteri nya, Caca pun memikir kan ucapan suami nya.
Terhubung
Hai, Ca? ada apa kau menelpon ku malam-malam begini? ~ Shinta
Begini, ada hal yang harus aku bicara kan pada mu, penting. Apakah besok kau bisa ke rumah ku? ini mengenai anak kita, Syifa. ~ Caca
Baik lah, aku akan datang besok ~ Shinta
Terimakasih, sampai jumpa besok ~ Caca
Iya, sampai juga besok ~ Shinta
__ADS_1
Panggilan terputus.
***********
"Mengapa Caca menelpon?" tanya Revan pada isteri nya.
"Katanya ia ingin membicara kan hal yang sangat penting tentang Syifa. Sudah, kamu jangan banyak pikiran. Sekarang, kita tidur lah." Shinta pun membantu suami nya membaring kan tubuh di ranjang. Shinta menempel kan kepala nyadi bidang Revan dan memeluk Revan dengan sangat manja. Revan pun seakan merasakan kehangatan bersama isteri nya. Penat di dalam kepala terasa sedikit membaik, sesakali Revan mengecup kening Shinta. Tak lama kemudian, mereka berdua pun memejam kan mata dan tertidur dengan pulas.
********
Ke esokan pagi nya, setelah Shinta menyiap kan anak-anak nya. Ia akan segera pergi ke rumah Caca bersama ketiga anak nya.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Mama Lili yang sedang duduk berduaan dengan papa Tommy.
"Ingin keluar sebentar ma, ada sedikit urusan. Sekalian membawa anak-anak jalan-jalan."
"Bisa kah kamu meninggal kan saja mereka di sini? Mama dan papa sangat merindukan mereka. Mama dan papa ingin bermain bersama cucu-cucu kami. Lagipula, kamu ada urusan, sangat repot jika harus membawa mereka." ucap Papa Tommy.
"Tetapi, Tata nggak mau mama dan papa repot."
"Tidak repot, Sayang. Biar kan saja mereka di sini bersama kami, Ya?" pinta mama Lili dengan lembut.
"Lagi pula, kami sudah biasa menjaga anak. Syifa juga kami yang rawat. Mereka adalah cucu kami, kami tak akan melukai mereka." ketus Papa Tommy. Shinta pun merasa tak enak hati telah membuat ayah mertua nya marah. Memang begitu sifat Ayah mertua nya.
"Papa jangan bicara seperti itu! lihat menantu kita, merasa tidak nyaman dengan ucapan papa!" tegur mama Lili terhadap suami nya. Ia juga tak menyukai sifat suami nya yang selalu bersikap dan berbicara semau nya. Sifat Revan sangat menurun pada papa nya. Namun, kenyataan nya mereka adalah orang baik, hanya saja ucapan mereka terlalu blak-blak an dan sedikit pemarah. Membuat orang mudah tersinggung.
"Apa yang papa kata kan itu benar! kita yang sudah merawat Syifa jadi kita tahu bagaimana mengurus cucu. Tanpa harus khawatir." ketus Tommy lagi.
"Baik lah, mereka akan tetap tinggal di sini bersama mama dan papa. Maaf jika Tata membuat papa tersinggung ya?"
__ADS_1
"Sudah lah, Sayang. Tidak usah hiraukan ucapan papa mu! memang begitu sifat nya sedari dulu. Kamu hati-hati ya nak? Mama akan menjaga cucu mama di sini, dan cepat lah pulang. Jangan lupa menggunakan masker ya? cuaca di luar sangat tidak sehat, mama tidak ingin kamu sakit dan kenapa-kenapa." Shinta pun tersenyum dan mengikuti pesan dari ibu mertua nya.
"Ayo, aku antar." ucap Revan. Namun, Shinta menolak. Ia tahu, jika Revan ikut Caca tak akan bicara dan mengungkap kan keluh kesal nya dengan nyaman. Dan Shinta takut, Revan tak akan terima dan akan membuat keributan di sana