Ibu Sambung

Ibu Sambung
Memberikan Hukuman


__ADS_3

"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?"


"Mungkin mengajak anak-anak liburan?" Revan memberikan ide, Shinta kurang yakin namun ia akan mengikuti ucapan suaminya.


Shinta mengangguk setuju "Selama ini aku telah salah dan gagal setiap mengambil keputusan, sekarang aku menyerahkan ya kepada mu!"


*******


Khanza masih merengek, bahkan ia tidak mau makan "Khanza mau makan sama mama Shinta!"


Di meja makan, Khanza masih membuat keributan "Hey, kenapa kamu selalu saja berisik. Apa mama mu tidak mengajarkan etika di meja makan?" Raisa yang kesal memarahi Khanza


"Mama selalu mengajari kamu etika, mungkin Khanza seperti ini melihat siapa yang pantas ia berikan!"


"Sudah! Kalian enggak capek ya ribut terus? Mami pusing tau!"


"Mi, Raisa juga. Di sana kita selalu tenang, lihat anak ini begitu manja sekarang! Makan aja rewel!"


"Khanza, kamu makan ya jangan manja!" Caca meminta anaknya untuk makan namun Khanza menolak "Mama Shinta enggak begitu memperlakukan ku!"


Khanza berteriak kepada maminya, Raisa hanya menatap jengah "Andai mami dan Daddy mendengar kan aku. Dan kita enggak balik ke indo, pasti enggak akan pusing seperti ini!"


"Iya, kalian pergi aja lagi! Jangan di sini!" Ketus Khanza! Syifa pun bingung harus apa, tidak pernahnya Khanza begitu, bersikap buruk kepada orang lain. Namun mengapa sekarang Khanza sangat buruk


"Sini Khanza, kakak yang suapin Khanza makan!"


Khanza pun akhirnya luluh, hanya Syifa yang bisa meluluhkan hati kerasnya Khanza di rumah ini.


Arvan pun tersenyum akhirnya Khanza mau makan "Anak Daddy yang pintar," Arvan mengusap kepala Khanza dengan penuh kasih dan sayang.


"Anak Daddy suka masakannya?" Khanza mengangguk "Bagus, makan yang banyak ya nak?"

__ADS_1


"Iya Daddy!""


"Lihat lah, tanpa di paska Khanza anak yang nurut dan baik. Kalian harus tenang bersikap dengan Khanza seperti Syifa. Dan kamu Raisa! Jangan begitu kepada adik mu tidak baik!"


"Daddy, Raisa tidak akan kasar kepadanya kalau dia tidak manja begitu! Khanza juga harus memahami jika mami adalah ibu kandungnya bukan mama Shinta!"


Arvan tersenyum sinis kepada anaknya "Bukan kah ini kemauan kamu? Kemauan kamu yang ingin menjadi anak tunggal. Dan jika bukan karena ulah kamu, Khanza tidak akan seperti ini! Andai kamu tidak egois dan mencegah kakak dan adik mu berbicara kepada mami dan Daddy dari panggilan WhatsApp. Ini semua tidak akan terjadi, Khanza akan memahami semuanya. Namun karena kamu, semua seperti ini. Kan ini keinginan kamu, kenapa sekarang bersikap seolah adik mu yang salah?"


Raisa terdiam, jika Daddy-nya terus mengatakan itu. Maminya Caca akan menyalahkan dirinya "Hem Raisa melakukan itu untuk kesembuhan Daddy, Raisa enggak tega liat mami yang selalu menangis karena memikirkan Daddy, lalu jika mami berbicara dengan yang lainnya di sini. Mami akan semakin sedih, Raisa enggak mau mami sedih. Raisa ingin semua di selesaikan satu persatu!"


"Iya, kamu jangan menyalahkan Raisa begitu. Raisa sudah menjelaskan semuanya alasan ia melakukan itu bukan? Sudah lah, Van. Aku lelah jika kita selalu bertengkar dengan hal yang tidak penting?"


Syifa yang malas mendengarkan ucapan maminya pun fokus untuk menyuapi sang adik. Percuma baginya, karena maminya sudah diracuni pikirannya oleh Raisa.


Raisa tersenyum puas, maminya membela ia "Aku aman jika mami membela ku!"


"Daddy jangan salahin Raisa dong! Ini semua karena Daddy, kalau saja Daddy enggak sakit. Kita semua enggak akan menderita!" Mendengar Raisa yang mengatakan hal buruk pada Daddy-nya membuat darah Syifa mendidih.


"Kenapa kakak marah? Aku bicara pada Daddy ku. Bukan bicara kepada papanya kakak!"


Syifa bangkit, ia pun mendekati Raisa. Memasukan cabe ke mulut adiknya! Caca mencoba menghentikan perbuatan Syifa namun ia tidak mau mendengarkan maminya.


Begitu banyak cabai giling yang begitu pedas Syifa masukan kedalam mulut Raisa. Membuat wanita itu menangis kepedasan "Mami pedas!" Raisa ingin mengambil minum. Namun air minum itu di masukan Syifa cabai bubuk


Membuat wajah Raisa merah seperti udang rebus, Syifa terkekeh geli begitu juga dengan Khanza


"Hahahaha rasain!" Khanza meledek, Caca pun memberikan minuman dari dapur untuk anaknya.


"Mami pedas!" Bahkan bibir Raisa begitu merah dan bengkak.


"Syifa apa yang kamu lakukan kepada adik kamu? Lihat kasihan dia kepedasan!"

__ADS_1


"Mami ku sayang, cabai itu pantas untuk adik ku yang bermulut pedas! Sudah mami jangan khawatir!" Syifa meminta maminya untuk duduk tenang "Tapi, adik kamu kepedasan. Kasian dia!"


Syifa pun tersenyum kepada maminya "Lalu, mami enggak kasihan sama Daddy? Yang merasa sedih karena mulut Raisa yang begitu pedas?"


Caca menoleh ke arah suaminya yang terlihat murung "Tolong jangan sakit hati dengan ucapan anak kita,"


Arvan mengangguk, ia semakin merasa tidak berguna. Jika dirinya tidak sakit, semua ini tidak akan terjadi


"Daddy, Daddy jangan sedih ya? Ada Syifa dan Khanza yang akan menjaga Daddy sekarang!" Syifa mendekati Arvan, memeluk Daddy-nya dengan penuh kasih dan sayang. Khanza pun memeluk Daddy-nya "Iya, Daddy jangan bersedih! Kalau kak Raisa jahat, Daddy tenang aja! Ada kakak ku Syifa. Wanita bar-bar seperti mama!"


Ya Syifa sangat bar-bar sekali, seperti Shinta saat muda. Arvan pun tersenyum "Terimakasih ya anak-anak Daddy. Kalian anak yang baik!"


Khanza dan Syifa mengangguk, Caca pun berlalu pergi. Ia mencari keberadaan anaknya Raisa.


Raisa mencuci mulutnya berulang kali namun pedasnya masih sangat pekat, bahkan perutnya langsung terasa sangat panas.


Ha-Ha-Ha!


Syifa dan Khanza tertawa, mereka mendekati Raisa "Ini hanya hukuman kecil adikku! Dan jika sekali lagi mulut mu itu berbicara yang tidak-tidak akan aku pastikan kau tidak akan bisa mengatakan satu kata pun!"


"Kak, sudah jangan mengancam adik mu!" Caca menegur Syifa namun ia masih tenang "Ini bukan sebuah ancaman mami, tapi peringatan! Selama ada aku di sini. Aku tidak akan membiarkan siapapun berani menyakiti kedua orang tua ku! Termasuk dari anggota keluarga kita sendiri!"


Syifa pun membawa adiknya menuju ruang makan "Maaf Daddy kalau lama meninggalkan Daddy sendiri di sini. Ayo kita makan!"


Syifa, Khanza dan Arvan pun melanjutkan makan bersama mereka.


Sedangkan Raisa masih fokus dengan dirinya yang kepedasan. Caca tak menyangka jika lemah lembut anaknya terdapat jiwa yang begitu bar-bar


Caca melihat sosok Shinta di dalam diri anaknya Syifa ya sangat bar-bar.


"Mi, Raisa enggak mau mereka tinggal di sini!"

__ADS_1


"Cukup Raisa! Jangan karena mami diam, kamu bisa bersikap seenaknya. Mami menyayangi kamu, dan mami juga menyayangi mereka. Kalian adalah anak mami, jadi kalian akan tinggal bersama mami! Dan kakak mu melakukan hal yang tepat, selama ini mami tidak tega menghukum kamu. Tapi sekarang, ada kakak mu yang akan menghukum kamu jika kamu melakukan kesalahan! Dan apa yang kamu katakan itu tidak benar! Kamu menyakiti hati Daddy, adik dan juga kakak mu. Sebab itu kamu pantas mendapatkan hukuman!"


__ADS_2