Ibu Sambung

Ibu Sambung
Kelakuan Alana


__ADS_3

Revan masih berdiri tak bergeming, bingung harus melakukan apa. Di sisi lain, ia tak tega jika tidak mengajak Alan. Namun, juga tidak sampai hati untuk membangun kan si buah hati. Shinta menyusul suami nya yang tak kunjung datang.


"Kenapa lama sekali? Alan tidur?" mata Shinta tertuju pada anak nya.


"Iya, bagaimana ini?" tanya Revan menoleh kepada sang isteri.


"Biar kan saja dia tidur, kamu juga udah janji sama Alana dan Syifa. Tidak mungkin, karena satu anak kita membuat anak yang lain nya kecewa." ujar Shinta. Revan pun mengangguk, mereka turun ke bawah. Terlihat Syifa dan Alana yang sudah bersiap menunggu di bawah.


Syifa melihat adik nya Alan yang tak kunjung turun, ia pun bertanya kepada ke dua orang tua nya di mana sang adik.


"Ma, Pa. Di mana Alan? Kenapa dia belum juga turun? Apa Alan sedang bersiap?"


"Tidak, Nak. Alan tidur, papa dan mama tidak tega membangun kan nya. Jadi, dia di rumah saja, nanti kita akan membawakan ice cream untuk nya."


"Enggak deh, Ma. Masa iya, Syifa bersenang-senang tanpa ada salah satu dari adik Syifa."


"Kakak tenang saja, Alana akan membangun kan Alan."


"Jangan, nak! Nanti Alan bisa marah padamu." larang Shinta, namun Alana yang keras kepala berlari menuju tangga, untuk membangun kan saudara kembar nya. Shinta dan Revan memanggil anak nya itu, namun Alana terus berlari, tak menghiraukan kedua orang tua nya.


Di dalam kamar, Alana mendekati Alan yang masih nyenyak dalam tidur nya.


"Alan, bangun! Ayo, kita mau makan ice cleammm yang lezat Alan, bangun!" Alana menggoyang kan tubuh Alan, berharap saudara kembar nya itu untuk bangun, namun Alan hanya menggeliat kan tubuh nya sebentar, lalu kembali tidur. Alana yang merasa kesal pun melihat sekeliling kamar, mata nya tertuju pada segelas air di atas meja. Alana beranjak dari duduk nya, mendekati meja dan mengambil segelas air.

__ADS_1


Alana menyiram sedikit demi sedikit air ke wajah Alan. Hal itu tentu saja membuat Alan terbangun, ia melihat Alana yang tertawa senang. Alan menjadi sangat marah, ingin memukul saudara kembar nya itu, Alana yang takut pun berlari ke luar untuk menemui kedua orang tua nya meminta pertolongan. Alan mengejar Alana dengan wajah yang merah padam. Alana berlari menuruni tangga, tanpa sadar kaki Alana menyilang, dan membuat diri nya jatuh terguling dari tangga.


Revan, Shinta, Syifa dan Alan yang melihat pun merasa kaget dan terkejut, dengan cepat Revan, Shinta dan Syifa berlari mendekati Alana yang sudah tidak sadar kan diri. Alan masih mematung di atas tangga, merasa seakan sebuah mimpi buruk di siang bolong.


"Alana, Sayang. Bangun nak! Bangun." tangis Shinta, Mama Lily dan papa Tommy yang mendengar keributan pun segera datang.


"Alana." teriak kedua nya. Mama Lily dan papa Tommy mendekati sang cucu. Shinta dan Syifa menangis, apalagi melihat darah di dahi Alana.


"Sayang, bangun!" Mama Lily memangku kepala Alana di paha nya, dengan kaki gemetar Alan turun ke bawah. Melihat kondisi saudara kembar nya itu, Alan mendekati tubuh Alana dan menangis meminta maaf.


"Maafin, Alan. Sehalus nya Alan nggak kejal-kejal Alana. Jadi, Alana nggak halus jatuh." Alan memeluk Alana.


"Bangun, Alana! hiks, Alan janji nggak akan malah-malah lagi, Alan sayang sama Alana. Bangun, Alana hiks." Alan memeluk Alana dengan erat penuh penyesalan.


"Sayang, kamu udah sadar?" tanya Revan yang masih kacau dengan pikirannya. Shinta yang terbangun pun berjalan lemah mendekati sang anak. Shinta memeluk Alana dengan erat lalu menangis.


"Alana, kenapa kamu tertawa?" tanya Revan kembali dengan wajah yang tak biasa.


"Alana hanya belpula-pula tidak dadal kan Dili papa hihi."


Semua orang pun merasa kesal dengan sikap Alana. Alana yang imut pun duduk, memegang kuping nya menggunakan kedua tangan nya.


"Maafin, Alana. Alana cuman ingin tahu, Alana sayang nggak sama Alana." tanpa rasa bersalah Alana kembali tertawa dengan keras.

__ADS_1


"Sudah cukup! Liat itu, dahi mu bebala Alana!" ujar Alan yang memegang dahi saudara kembar nya. Darah segar itu pun lengket di jari telunjuk Alan.


"Iya, Sayang. Dahi mu berdarah, kita harus mengobati nya." ucap Shinta yang memegang anak nya. Alana pun mengangguk, beranjak berdiri menuju sofa. Shinta mengambil kotak obat untuk membersihkan darah sang anak.


"Alana, kenapa kau jail sekali? Kaka rasa nya begitu sakit dada ini melihat kamu jatuh, bahkan berdarah. Tapi kamu, di saat seperti ini malah mengerjai kita dengan berpura-pura nggak sadar kan diri." ujar Syifa.


"Iya, Nak. Kamu nggak boleh seperti itu lagi, nenek dan yang lain nya sayang dan begitu mengkhawatirkan kamu." ujar mama Lily.


"Yang di kata kan oleh nenek mu itu benar, kakek juga tidak suka melihat Alana yang begitu nakal seperti ini!"


"Jika saja kamu nggak bebala, aku sudah memukul mu, Alana!" timpal Alan kembali.


Shinta pun menasihati sang anak untuk tidak melakukan hal yang sama seperti ini lagi. Revan pun ikut menegur kelakuan sang anak.


"Sayang, mama minta tolong sekali sama Alana. Alana jangan melakukan ini lagi ya nak? Kita semua sangat khawatir tadi, apalagi melihat darah di kening mu. Alana harus janji sama mama, Alana nggak boleh ngelakuin itu lagi ya nak? Alana nggak kasihan lihat Kita? Bagaimana jika mama, papa, kakek, atau nenek memiliki riwayat sakit jantung. Alana mau lihat Kita meninggal dengan kelakuan Alana?"


"Tidak, mama. Maafin Alana. Alana sayang mama dan semua nya. Alana tadi memang sakit kok ma, benel. Tapi, Alana ingin lihat, apakah Alan peduli dengan Alana. Makanya Alana pula-pula tidak dadal kan Dili. Tapi, dalah di kening Alana ini nggak bohongan mama. Maafin Alana." Alana memeluk mama nya dengan erat, meminta ampun kepada sang mama.


"Sudah, ya nak. Lain kali jangan melakukan hal seperti itu."


"Iya, jika Alana melakukan itu, papa nggak akan segan-segan menghukum Alana. Apakah Alana mengerti?" tanya Revan dengan tegas kepada sang anak.


"Iya, papa." Alana mengangguk dengan wajah gemas nya itu

__ADS_1


__ADS_2