Ibu Sambung

Ibu Sambung
Mendoakan Yang Terbaik


__ADS_3

Shinta mengatur nafas nya dengan perlahan, Revan yang masih terpaku melihat kedewasaan yang di miliki oleh isteri nya pun merasa takjub


Selain hanya bisa membuat orang merasa kesal, kau juga bisa membuat orang lain tertampar dengan ucapan mu yang luar biasa ~batin Revan.


Shinta masuk dan menangis di dalam mobil, ia berharap agar Arvan memikirkan kembali keputusan nya itu. Shinta tidak ingin melihat Caca dan Arvan berpisah. Revan masuk ke dalam mobil, menoleh ke arah isteri nya yang sedang menangis.


"Sudah jangan menangis! Aku yakin, ucapan mu akan membuat Arvan sadar dan memikirkan kembali keputusan nya. Jika kau seperti ini, siapa yang akan menjadi penenang bagi Caca? Aku tahu, kau begitu menyayangi Caca seperti kakak mu sendiri. Tapi, menurut ku, kita jangan terlalu mencampuri urusan keluarga mereka," Shinta menoleh ke arah suami nya, ia tak tahu apakah diri nya yang salah atau pemikiran sang suami. Shinta yang tak mau membuat suasana semakin memburuk pun memilih diam. Revan melajukan mobil nya.


****


Caca merenung di dalam kamar sendirian, sebelum nya mama Lily menyuruh Caca untuk istirahat, namun diri nya tidak bisa tidur. Rasa bersalah dan ucapan menyakitkan dari suami nya itu selalu menghantui pikiran Caca.


Caca merasa ucapan Arvan memang benar, mungkin mama nya Elsa jauh lebih baik dari diri nya. Karena seburuk apapun kelakuan Elsa, setidak nya ia masih merawat diri nya dan almarhum kakak nya dengan baik. Caca merindukan kakak nya yang sudah tiada.


"Kak, Cassandra rindu. Cassandra ingin bertemu dan di peluk kakak. Kakak apa kabar di sana? Kak maafin Cassandra, karena Cassandra sudah gagal menjadi seorang ibu baik untuk Syifa maupun Raisa." pipi Caca di basahi oleh air mata yang terus saja menetes.


Cekrek!


Shinta yang masuk ke kamar tamu, melihat Caca yang sedang termenung, pipi nya di basahi oleh air mata. Shinta mendekati, dan menghapus air mata Caca.

__ADS_1


"Sudah ya? Jangan menangis lagi, kau harus ingat baby Khanza, jangan lakukan kesalahan untuk kesekian kali nya." Caca mendongak kan kepala nya, menatap Shinta dengan penuh teduh lalu memeluk Shinta dengan erat, Caca menangis begitu pilu di pelukan Shinta.


"Aku sudah gagal menjadi seorang ibu, Ta. Aku memang ibu yang tidak baik, dulu aku meninggalkan Syifa. Lalu, aku mengulangi kesalahan yang sama dengan meninggalkan Raisa." ucapan Caca membuat dada Shinta merasa sesak untuk bernafas, namun ia berusaha tenang dan tidak menangis di depan Caca. Shinta melepaskan pelukan mereka.


"Kau tidak gagal menjadi seorang ibu, kau ibu yang luar biasa di dunia ini. Pengorbanan mu untuk anak-anak sungguh luar biasa, terutama kepada Syifa. Demi kehidupan Syifa yang layak, kau rela menahan sakit dan berpisah dari nya selama bertahun-tahun. Iya, aku akui perbuatan mu kepada Raisa itu tidak bisa di benar kan. Tapi, mau sampai kapan kau harus seperti ini? Tugas mu sekarang adalah memperbaiki kesalahan mu pada nya. Dan kau harus ingat, kau memiliki anak lain yang bernama Khanza, dia masih sangat kecil. Jangan karena kesedihan mu yang merasa bersalah kepada Raisa, kau melupakan anak mu yang lain. Ca, Kita ini ibu bukan dari satu orang anak aja, aku ibu dari empat anak sekaligus, dan kau juga ibu dari tiga anak sekaligus. Kasih sayang dan perhatian kita kepada mereka harus seimbang, jangan karena memikirkan anak yang lain, kita mengabaikan anak yang lainnya."


Caca terdiam, walau usia Shinta lebih muda dari nya. Namun, pemikiran Shinta begitu dewasa.


"Khanza masih sangat membutuhkan perhatian mu, jika kau terus seperti ini. Kau akan melakukan kesalahan yang sama seperti di masa lalu, apa kau ingin?" Caca menggeleng.


"Nah, jadi hapus lah air mata mu dan perbaiki kesalahan mu di masa lalu, aku yakin. Kau wanita yang sangat baik dan dewasa. Kau wanita yang kuat, jika dulu kau bisa melewati nya sendirian. Sekarang, kau harus lebih kuat, karena kau tidak sendiri. Ada aku dan yang lain nya di sini." Shinta menghapus air mata Caca, menyuruh sahabat nya untuk tersenyum. Caca pun mulai tersenyum, dukungan Shinta membuat nya mendapatkan kekuatan.


"Bagaimana jika kau tahu jika Arvan akan memberikan surat cerai untuk mu?" batin Shinta yang tak kuasa menahan sedih nya. Ia masih berdoa dan berharap agar Arvan mengurungkan niat nya itu. Shinta tak sanggup melihat kehancuran Caca lagi, Caca sudah cukup menderita selama ini karena perbuatan Elsa.


"Nona, ada tuan Arvan di luar." ujar pelayan yang masuk ke dalam kamar tamu, Shinta bingung.


Apakah Arvan sudah merubah keputusan nya? Namun, bagaimana jika Arvan tetap kepada ego nya? ~ batin Shinta.


Caca merasa bahagia, ia segera beranjak dari tempat duduk nya. Lemas di badan tak ia rasakan lagi, saat ini ia hanya ingin menemui dan memeluk suami nya. Dengan langkah yang lemah, Caca turun ke bawah. Shinta mengikuti Caca, di bawah terlihat Arvan sedang memegang selembar surat. Shinta semakin takut. Caca yang semakin dekat dengan Arvan pun ingin memeluk suami nya, namun Arvan menghindar.

__ADS_1


"Aku tahu, kau akan kesini menjemput Ku." ujar Caca dengan nada yang melemah, hati nya merasa begitu bahagia. Terlihat dari pancaran wajah nya.


"Aku ke sini ingin mengantar surat ini, kau tanda tangan!"


"Su-surat? Surat apa ini, Sayang?"


"Kau bisa membawa nya sendiri." ujar Arvan dengan nada ketus nya.


Shinta berjalan menuruni anak tangga satu persatu


"Van, ak-aku rasa ini tidak perlu di lakukan sekarang." ujar Shinta kepada Arvan, namun Arvan tidak menggubris nya. Shinta takut jika Caca tidak bisa menerima kenyataan ini. Caca yang ingin membuka amplop yang berisi surat itu pun di hentikan oleh diri nya.


"Ca, sebaik nya kau minum dulu. Biar aku yang akan membuka ini."


"Tidak, Ta. Aku saja, lagipula aku tidak haus."


"Tapi," Shinta ingin mengambil surat itu, namun Revan mencegah isteri nya.


"Bagaimana pun kita hanya lah orang luar, jangan mencampuri masalah mereka. Biar kan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri." bisik Revan, Shinta menuruti ucapan suami nya, ia tahu jika seharusnya diri nya tidak terlalu ikut campur terlalu dalam dengan masalah yang di hadapi oleh Caca dan Arvan. Shinta yang tak berkutik, hanya bisa pasrah dan mendoakan yang terbaik untuk ke dua sahabat nya itu.

__ADS_1


__ADS_2