
Dua hari kemudian Shinta dan keluarganya sedang sarapan bersama. Mereka pun terlihat bahagia.
Terutama mendapatkan kabar jika Arvan sudah bisa pulang ke rumah "Aku senang karena Arvan sudah pulang kerumah," ujar Shinta sambil melahap makanan di mulutnya.
Revan pun mengatakan hal yang sama
"Mama, papa!"
Terdengar suara Khanza yang memanggil mereka. Shinta langsung menghentikan makannya, menoleh ke arah belakang
"Khanza?"
Shinta senang melihat Khanza datang, namun ia menoleh ke arah Alana. Shinta enggak mau jika anaknya Alana kembali sedih dan kecewa "Khanza!"
Alana beranjak dari duduknya, mendekati Khanza. Keduanya pun berpelukan, Alana mengatakan jika dirinya sangat merindukan Khanza "Kakak rindu banget sama kamu,"
"Khanza juga kangen banget sama kakak, sama mama dan papa!"
Mata Khanza mulai berkaca-kaca, membuat Alana merasa bersalah.
"Maafin perlakuan kakak selama ini ya sama kamu, kakak selalu menyakiti Khanza. Kakak sangat menyayangi Khanza, Khanza mau kan maafin kakak?"
Khanza mengangguk, ia mengatakan jika dirinya sudah memaafkan kakaknya itu "Khanza enggak pernah marah sama kakak, Khanza tahu kalau kakak sangat menyayangi Khanza,"
Caca dan Arvan menghampiri Shinta dan Revan. Shinta dan suaminya pun menghampiri mereka dan mengajak mereka sarapan bersama
"Ayo kita sarapan bersama, kenapa kalian tidak memberitahu kami terlebih dahulu? Kami bisa menunggu kalian dulu untuk sarapan,"
"Iya ta, kami sengaja ingin memberikan kejutan kepada kalian,"
Shinta tersenyum hangat kepada sahabatnya itu, ia menoleh kebelakang dan tahu jika Raisa tidak ikut "Raisa kemana?"
"Dia masih di rumah Cia, lebih memilih tinggal di sana bersama Tante-nya dan aku juga Arvan sudah lelah, Terserah dia mau melakukan apa. Sebaiknya kami fokus dengan Khanza yang masih sangat membutuhkan perhatian kami,"
Shinta mengangguk, mungkin itu yang terbaik untuk Raisa agar Raisa bisa berpikir lebih baik
"Ayo kita sarapan bersama,"
"Tidak! Kami sudah makan,"
Revan mengajak Caca dan Arvan pun duduk di ruang keluarga, ia pun meninggalkan makanannya yang belum habis.
Begitu juga dengan Shinta "Jangan! Kalian lanjut saja sarapannya,"
__ADS_1
"Tidak! Kamu bisa melanjutkannya nanti, ayo!"
Mereka pun duduk di ruang keluarga, Alana merangkul Khanza dengan penuh cinta. Kini,.Alana menyadari jika dirinya sangat menyayangi Khanza.
Alana mengajak Khanza untuk kembali makan, walau Khanza sudah makan namun ia tidak menolak apalagi sudah lama sekali ia tidak makan masakan Shinta, dirinya sangat merindukan masakan wanita yang selama ini sudah menjaganya.
Anak-anak kembali melanjutkan makannya, sedangkan Revan, Shinta, Arvan dan Caca pergi ke ruang keluarga. Shinta meminta pelayan membuatkan teh untuk mereka berempat
"Bagaimana kabar mu Van, udah mendingan?"
Shinta dan Revan bertanya kabar Arvan, lelaki itu mengatakan jika dirinya sudah jauh lebih baik membuat keduanya merasa tenang "Syukurlah jika kau sudah jauh lebih baik! Aku senang mendengarnya,"
Caca menatap Shinta dengan mata yang berkaca-kaca, membuat Shinta bertanya "Kenapa ca?"
Caca menggelengkan kepalanya dengan cepat "Kedatangan aku dan suami ku ke sini. Kami mau minta maaf dengan semua yang telah terjadi. Dan juga sangat berterimakasih kepada mu, karena sudah merawat dan menyayangi Khanza dengan sangat baik selama ini, terimakasih karena kamu sudah menyayangi anak kami seperti anak kalian sendiri,"
"Sudah lah Caca. Jangan mengatakan itu! Aku senang menjaga mereka sekarang, karena kau tahu jika aku sangat menyayangi semua anak-anak,"
"Aku juga sudah melupakan semua yang terjadi Caca. Mungkin itu karena kau merasa merindukan anakmu Khanza namun saat kembali, Khanza tidak mengenal mu,"
Belum sempat Shinta melanjutkan ucapannya, pelayan datang dan memberitahu jika Cia ada di luar, mereka mengenal Cia Karena wanita itu pernah menyamar menjadi pengasuh di rumah keluarga Shinta.
Tentu saja hal itu membuat Shinta, Caca, Revan dan Arvan kaget. Shinta meminta kepada pelayan untuk menjaga anak-anak
"Baik nyonya!"
Shinta dan yang lainnya ke luar melihat Cia
"Mau apa kau kesini?"
Cia langsung besujud di kaki Shinta, meminta maaf dengan perasaan yang sangat bersalah "Aku mohon, ampuni aku. Aku telah bersalah perbuatan ku tidak bisa di maafkan. Aku membunuh bayi yang tidak bersalah,"
Shinta menangis, namun ia juga tidak mau jika orang lain sampai bersujud di kakinya "Bangun!" Bentaknya. Caca juga membantu cia kakaknya untuk bangkit
"Apa yang kau lakukan kak?" Caca tidak tega melihat kakaknya, terlihat wajah cia penuh dengan penyesalan
"Ak-aku tahu, perbuatan ku sangat tidak bisa di maafkan. Aku sudah membunuh nyawa orang lain, namun aku mohon jika bisa maafkan aku. Aku merasa sangat bersalah shinta!"
Shinta menatap Cia dengan sorotan mata yang tajam "Apa kau bisa mengembalikan anak aku? Bisa?"
Shinta berteriak meluapkan rasa sakitnya "Kau merenggut jiwa yang tidak bersalah, jika kau membenci aku. Kenapa tidak aku saja yang kau bunuh waktu itu? Kenapa tidak aku saja yang kau racuni, atau kau tusuk puluhan kali, kenapa? Kenapa harus anak ku?"
Revan menenangkan istirnya "Sayang, tenang lah! Jangan membuat diri mu seperti itu! Kau harus tenang,"
__ADS_1
Shinta memeluk suaminya "Saya tahu, jika perbuatan saya sangat tidak bisa di maafkan dan saya juga tidak bisa mengembalikan anak kalian. Namun, saya berjanji akan memperbaiki semuanya, saya tidak akan menganggu kalian atau menyakiti kalian lagi,"
Shinta hanya diam, terisak. Hatinya masih sangat sakit, jika mengingat kematian anaknya yang di racun oleh Cia.
Revan pun memberikan pengertian kepada istirnya "Sayang, coba lah menerima keadaan. Coba lah untuk berdamai dengan keadaan sayang, dan sekarang. Dia sudah menyadari kesalahannya, dia meminta maaf dengan sangat tulus,"
Syifa yang baru pulang dari acara kampusnya pun mendekati Shinta, memeluk ibu sambungnya itu "Mama wanita kuat, mama wanita yang sangat luar biasa. Jangan kotorin Hati mama dengan kemarahan, karena itu akan membuat hidup mama tidak akan tenang. Coba lah mama berfikir dengan baik ma, jika mama seperti ini terus kasian adik Al, dia tidak akan tenang di sana karena mama sendiri tidak bisa mengikhlaskan kepergiannya,"
Sejenak, Shinta bisa tenang dan berfikir dengan luas. Ia juga memaafkan semua kesalahan Cia, belajar berdamai dan ikhlas dengan keadaan yang sudah terjadi. Hanya Syifa yang bisa membuat Shinta menjadi lebih tenang.
Cia melihat ikatan antara keduanya secara langsung, ia pun melepaskan dirinya dari Caca. Berjalan mendekat ke arah Syifa dan Shinta
"Aku salah, seharusnya aku bisa melihat semuanya dengan mata yang terbuka. Sekarang aku semakin paham dan sadar, kenapa Syifa lebih menyayangi kamu Shinta. Karena kau wanita berhati malaikat, cinta mu yang luar biasa kepada Syifa dan anak-anak mu tidak usah di ragukan lagi. Kau ibu paling hebat, dan aku salah menilai mu selama ini,"
Shinta senggugukan, ia menatap Cia dan mengatakan jika dirinya memaafkan Cia
"Demi ketenangan jiwa anak ku, aku memaafkan mu Cia. Dan aku mohon, jangan sakiti anak-anak ku lagi. Aku hanya lah seorang ibu biasa, yang tidak bisa melihat anak-anakku di sakiti. Syifa, Alana, Alan, Al, Khanza dan Raisa adalah anak-anakku. Jangan sakiti mereka, dan tolong jangan racuni pikiran Raisa dengan ajaran-ajaran yang buruk."
Shinta meminta kepada cia untuk mendidik Raisa dengan baik, jangan mengulangi sejarah yang sama. Raisa harus tumbuh menjadi wanita yang lemah lembut
"Aku berjanji kepada kalian, aku akan mendidik Raisa dengan baik. Aku tidak akan melakukan kesalahan seperti yang mama ku lakukan kepada ku,"
Shinta mencoba percaya dengan cia.
"Shinta, kau adalah ibu yang terbaik. Bahkan kau membuktikan kepada seluruh dunia jika ibu sambung itu tidak buruk! Ibu sambung juga sangat luar biasa untuk anak-anak sambungnya, aku bangga dengan mu!"
Syifa juga mengatakan terimakasih banyak kepada kedua ibunya. Kepada Shinta dan Caca karena sudah menjadi ibu yang terbaik untuk dirinya.
Kini, mereka akan menjalani kehidupan yang sangat bahagia kedepannya. Tidak akan adalagi kejahatan yang menghantui keluarga mereka.
Elsa sudah tiada, dan Cia sudah menyadari kesalahannya. Sedangkan Raisa? Akan cia bawa kembali ke Malaysia, Karena menurutnya Raisa hanya bahagia jika hidup di Malaysia dan cia berjanji kepada Caca dan Arvan akan mendidik dan memperbaiki Raisa menjadi yang lebih baik lagi.
Caca dan Arvan pun mempercayakan semuanya kepada cia. Mereka juga ingin memberikan kesempatan kepada Cia untuk memiliki keluarganya.
Caca juga berterimakasih kepada Shinta karena Shinta sudah menjadi ibu sambung yang sangat baik, bukan hanya untuk Syifa namun juga untuk Khanza.
Kini, Shinta membuktikan kepada dunia jika pandangan dunia kepada ibu sambung yang jahat dan kejam itu salah, jika ibu sambung hanya mencintai suaminya saja dari pada anak sambungnya juga itu salah. Bahkan cinta ibu sambung kepada anak sambungnya juga bisa jauh lebih besar daripada ibu kandung.
TAMAT!
NOTE AUTHOR
Hai kak, terima kasih karena sudah setia dengan cerita ibu sambung sejauh ini. Author merasa terharu karena sudah bisa menyelesaikan cerita ini dengan happy ending.
__ADS_1
Dan author akan membuat cerita tentang kehidupan Syifa selanjutnya di karya terbaru "Ibu Sambung 2" Terimakasih 💙