Ibu Sambung

Ibu Sambung
Merawat Raisa?


__ADS_3

Syifa masih saja memikirkan tentang Raisa. Shinta yang melihat anak nya termenung tanpa menyentuh sedikit pun makanan langsung mendekati Syifa. Mengambil sesuap makanan lalu menyuapi anak nya. Syifa kaget menoleh ke arah sang mama.


"Mama,"


"Seperti nya ada yang lagi mau di manja ini. Yaudah, buka mulut nya aaaaakh,"


Syifa segera mendekati mulut nya ke arah sendok, menerima suapan yang di berikan oleh Mama nya. Shinta menegur Syifa, agar tidak sering melamun. Itu tidak akan baik, karena keseringan melamun bisa mendapat kan mata jahat.


"Ma, Syifa."


"Habis kan dulu makanan mu ya, setelah itu baru katakan apa yang ingin di kata kan." Shinta menyuapi anak nya dengan penuh perhatian, Syifa pun menerima suapan itu dengan lahap sampai makanan nya habis tak bersisa. Shinta mengambil segelas air minum lalu di berikan kepada anak nya.


"Ma, terimakasih. Mama sungguh perhatian, walau Syifa sekarang sudah besar kasih sayang dan perhatian mama tidak pernah berubah."


"Sayang, Se-dewasa apapun kamu. Kamu tetap lah malaikat kecil nya mama. Walau kamu kelak nanti nya menjadi seorang ibu, kamu tetap lah malaikat kecil nya mama. Kamu, dan adik-adik mu akan selalu menjadi bayi kecil nya mama." Syifa tersenyum Haru, meneguk segelas air putih yang di berikan oleh Shinta.


"Tadi, kamu mau bicara apa sayang?"


"Ma, Syifa mau membahas tentang teman Syifa, Raisa."


"Kenapa nak dengan Raisa?"


"Ma, Syifa merasa tidak tega melihat Raisa. Apakah kita tidak bisa membawa nya pulang ke rumah?"


Shinta berfikir sejenak, mencerna ucapan anak nya. Shinta membelai rambut sang anak. Ia tahu, jika anak nya itu memiliki hati yang sangat baik.


"Sayang, mama mengerti apa maksud Syifa. Tapi, kita juga tidak bisa melanggar aturan yang ada di asrama, nak. Raisa anak panti yang di angkat oleh pihak sekolah, dia tidak akan bisa bebas kemana pun seperti anak lainnya. Bukan hanya dia, seluruh anak asrama memiliki aturan yang harus di taati."


"Syifa mengerti ma, maksud Syifa. Apakah mama dan papa tidak bisa meng-apdosi nya? Mama dan Papa orang yang sangat baik, kalian pasti mau membantu orang lain."


"Nak, mama juga menyayangi Raisa. Mama juga sangat kasihan dengan kehidupan nya. Tapi, sayang. Kamu tahu sendiri kan, mengurus adik-adik mu saja mama kwalahan. Mama takut sayang, anak-anak panti itu adalah anak istimewa yang di titip kan Tuhan. Mama takut, jika mama tidak bisa menjaga dan merawat titipan Tuhan dengan baik."


"Iya sih ma, si kembar juga seringkali membuat Mama kelelahan karena sikap mereka." ujar Syifa kembali, ia terdiam.


Apa mungkin aku meminta mama Caca dan Daddy Arvan saja yang mengangkat Raisa menjadi anak? Tapi, apakah Daddy Arvan akan setuju? Mereka kan sudah memiliki anak, aku takut jika mereka tidak setuju. Aku percaya dengan mama Shinta, namun melihat mama yang sudah kwalahan menjaga kami. Aku kasihan kepada mama Shinta ~Syifa


Shinta memegang bahu anak nya, Syifa tersentak kaget.


"Sayang, ada apa?"


"Ti-tidak apa-apa ma,"


"Jangan berbohong kepada mama nak. Ayo ceritakan saja!"


"Syifa berfikir untuk meminta mama Caca dan Daddy Arvan yang akan merawat Raisa. Setidak nya, Syifa merasa tenang ma. Apa mama tahu? Ibu asrama itu sangat galak, dan teman nya yang bernama Lala. Sifat nya sangat tidak baik kepada Raisa ma, tadi Raisa menangis karena perbuatan teman nya itu."


"Benar kah begitu?"


"Benar, Mama. Makanya, Syifa merasa sangat khawatir dengan nya. Syifa takut, jika Lala menyakiti nya lagi di asrama. Raisa anak yang sangat manis ma, dia begitu menyayangi teman nya. Walau teman nya memperlakukan nya dengan sangat buruk, dia tetap saja menyayangi dan menerima perlakuan tidak baik dari teman nya."

__ADS_1


"Sudah, Sayang. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan masalah Raisa. Mama yakin, tidak ada yang akan menyakiti nya dan mengenai Lala. Kakak Syifa sendiri yang bilang jika Lala adalah teman Raisa, teman tidak akan menyakiti teman nya bukan? Masalah atau keributan kecil itu hal yang sangat biasa dalam pertemanan, Sayang. Namun, seorang teman tidak akan menyakiti teman nya." Shinta menenangkan anak nya yang satu itu, Syifa pun mengangguk dan menyetujui ucapan sang mama. Shinta menyuruh anak nya untuk menuju kamar untuk tidur siang. Syifa pun menuruti ucapan Mama nya, beranjak dari tempat duduk menuju kamar.


Shinta memikirkan ucapan anak nya, bukan ia tak memiliki simpati kepada Raisa. Namun, tidak mungkin bagi nya untuk mengurus anak lagi, ia takut jika nanti nya diri nya akan menelantarkan Raisa. Itu adalah sebuah kejahatan yang tidak akan Shinta lakukan. Shinta segera mengambil ponsel milik nya, menghubungi seseorang yang ada di ponsel. Tidak lain adalah Caca, Shinta pun ingi menjelaskan segala nya kepada Caca, apa yang di ingin kan oleh anak mereka.


Syifa kesayangan keluarga ini, bagaimana pun Caca juga adalah ibu yang melahirkan nya. Apapun yang terjadi atau di alami oleh Syifa, Shinta akan membicarakan nya kepada Caca.


Panggilan tersambung


*Ada apa, Ta? Apakah ada hal yang terjadi? ~ Caca


Tidak, aku hanya ingin membicarakan tentang Syifa ~ Shinta


Syifa? A-ada apa dengan nya? Apakah dia memiliki masalah lagi di sekolah? Atau dia terluka? ~ Caca


Bukan, anak kita tidak terluka sama sekali, dan tidak ada yang mengganggu nya lagi di sekolah. Tapi ~ Shinta


"Ada apa? Kata kan lah yang sebenar nya. Tolong, jangan membuat ku khawatir."


Saat makan siang tadi, Syifa melamun saja. Aku bertanya apa yang terjadi, dia mengatakan hmm tidak! Lebih tepat nya meminta ku untuk mengambil Raisa dari asrama dan merawat nya. Bukan aku tidak ingin atau tidak menyayangi Raisa, aku juga sungguh sangat tidak tega dengan kehidupan nya. Namun, kau tahu bukan? Anak-anak begitu sangat membuat ku kwalahan. Terutama si kembar Alan, dan Alana. Mereka selalu saja bertengkar, bahkan masalah sekecil apapun mereka berdebat. Aku takut, nanti nya bukan menjaga amanah dari Tuhan. Aku malah mengabaikan Raisa. ~Shinta


Sudah, aku mengerti maksud mu. Lagipula, anak mu sudah banyak tidak mungkin kau bisa mengurus Raisa kembali. Aku yakin, masalah kebutuhan kau pasti bisa memberikan yang terbaik. Tapi, kau tidak mungkin bisa memberikan perhatian yang penuh. Aku sangat mengerti, apalagi kau harus menjaga baby Al. Juga si kembar, belum lagi Syifa. Itu tidak lah hal yang mudah ~ Caca


Iya, aku takut jika nanti nya. Raisa akan terabaikan, itu tindakan kejahatan bukan? Dan, Syifa tadi mengatakan. Ji-jika dia ingin meminta mu dan Arvan untuk meng-apdosi Raisa. Setidak nya, Syifa merasa aman jika Raisa bersama kita. ~Shinta


B**agaimana menurut mu ~ Shinta


Baik lah, aku harap kalian bisa mengambil keputusan yang terbaik, dan jika tidak bisa. Jangan di paksa kan, aku tidak ingin kau bertengkar dengan suami mu hanya karena permintaan Syifa ~Shinta


Tidak, kau juga tahu bagaimana sikap Arvan sekarang pada ku bukan? Dia tidak akan bersikap kasar pada ku, baik lah. Aku harus melihat keadaan baby Khanza dulu. Nanti kita bicara lagi ya? Aku tutup dulu telepon nya ~ Caca


Baik lah, jaga diri mu baik baik ya? Bye~ Shinta


Bye ~ Caca*


Panggilan terputus


**********


Caca memandang ke depan dengan tatapan kosong, diri nya kembali teringat dengan Puteri yang dulu nya dia buang.


"Apakah aku harus merawat nya sebagai tebusan dosa ku di masa lalu? Mama berharap nak, di mana pun kamu berada. Kamu dalam lindungan Tuhan dan kamu baik-baik saja."


"Sayang, siapa yang kau maksud?" Caca begitu kaget mendengar suara Arvan yang tiba-tiba ada di belakang nya, rasa nya seperti tersambar petir di siang hari. Akan kah rahasia nya terbongkar sekarang?


A-p-apakah aku harus mengatakan segala nya kepada Arvan sekarang? Dia harus tahu, tapi. Bagaimana jika dia tidak akan memaaf kan aku? ~batin Caca


Caca masih terdiam, tak bergeming membelakangi sang suami, Arvan kembali memanggil Caca. Dengan penuh keberanian, Caca menoleh ke arah Arvan. Arvan mendekati Caca dengan wajah serius nya. Caca semakin takut, ia menggenggam tangan nya yang bergemetar, nafas nya terasa sesak. Arvan memegang bahu Caca, lalu tersenyum


"Pasti kamu mendoakan baby Khanza bukan?" kini, Caca bernafas dengan lega, mencoba tersenyum untuk menutupi ketakutan nya.

__ADS_1


"I-iya, aku berdoa kepada Tuhan. Di mana pun Khanza berada, dia akan selalu di dalam lindungan Tuhan."


"Selama ada kita, dia akan baik-baik saja. Apalagi, baby Khanza memiliki ibu yang berhati malaikat."


Tidak! Aku tidak sebaik yang kamu duga, sayang. Kamu salah paham, aku adalah ibu yang paling buruk di dunia. Karena, aku tega membuang anak kandung ku sendiri, anak kita ~gumam Caca dalam hati.


"Ibu peri nya ini tidak akan membiarkan Khanza yang begitu imut mengalami kesulitan apapun." Caca kembali tersenyum kepada suami nya. Bahkan, ia tidak tahu harus mengatakan apapun


"Ke-kenapa kau pulang lebih cepat?"


"Tadi aku berada di sekolah Syifa untuk menyiapkan segala keperluan anak-anak asrama. Dan, di kantor juga sudah di handle oleh orang kepercayaan ku. Jadi, aku bisa pulang lebih cepat menghabiskan waktu bersama isteri dan anakku." Arvan memeluk Caca, mencium aroma tubuh Caca yang begitu wangi.


"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Boleh?"


"Katakan saja, apapun itu." Arvan masih menikmati aroma tubuh milik isteri nya.


"Tadi, Shinta menelpon. Dan dia membahas Syifa." Arvan membuka mata nya, melepaskan pelukan mereka.


"Kenapa? Apakah sesuatu terjadi pada nya? Aku sudah memperingatkan kepala sekolah itu. Mengapa dia tidak mengerti,"


"Tidak, Sayang. Ini bukan tentang Syifa, maksud nya. Ini memang berhubungan dengan Syifa, tapi dia tidak kenapa-kenapa. Pihak sekolah mau pun teman nya tidak ada yang berani mengganggu nya lagi."


"Lalu?"


"Ini tentang Raisa, teman nya Syifa." mendengar nama Raisa, Arvan seakan bersemangat untuk mendengar nya.


"Kenapa dia?" Caca pun menjelas kan segala nya yang Shinta katakan di telepon. Arvan terdiam, Ia memikirkan sesuatu.


"Bagaimana menurut mu?"


"Mengapa Syifa mau kita merawat teman nya? Maksud ku, kita kan juga sudah memberikan perlindungan yang sama seperti yang kita berikan kepada Syifa. Lalu, mengapa Syifa bisa memikirkan hal yang jauh dari usia nya? Ini pemikiran yang begitu dewasa, aku tidak menyangka. Anak ku memiliki sifat yang begitu dewasa." Arvan begitu kagum dengan sifat yang di miliki oleh Syifa. Walau ia masih kecil, namun Syifa begitu dewasa dan bijaksana dalam berfikir.


"Tadi, Shinta mengatakan. Syifa tidak tenang membiarkan Raisa berada di asrama karena ibu asrama itu sangat galak, udah begitu. Raisa memiliki teman yang bernama Lala. Lala itu begitu nakal, walau raisa menyayangi diri nya, Lala seenak nya menyakiti Raisa dan membuat Raisa menangis tadi di taman. Syifa takut, jika teman nya itu akan melukai Raisa di asrama. Jika, Raisa bersama kita. Syifa akan merasa keamanan teman nya itu terjamin. Dan, Raisa bisa merasakan kasih sayang dari keluarga dan orang tua yang utuh. Syifa ingin, Raisa merasakan kebahagiaan yang ia miliki."


"Aku mengerti, Sayang. Syifa memang paling terbaik. Aku begitu bangga memiliki anak seperti Syifa."


"Bagaimana tentang pendapat mu masalah ini?"


"Aku akan memikirkan ini nanti, lagian tenang saja. Raisa akan aman di asrama itu, aku juga sudah memperingati dan meminta kepada pihak sekolah untuk memperlakukan anak panti dengan baik, terutama Raisa. Aku yakin, pihak sekolah maupun pihak asrama akan menjaga Raisa dengan baik. Tidak akan ada yang berani menyakiti Syifa dan teman nya itu. Jika, itu terjadi. Aku tidak akan memberikan ampunan kepada mereka, karena aku sudah memperingati mereka sebelumnya. Dan mengenai meng-apdosi anak. Itu bukan hanya sekedar mengambil nya saja, namun kita juga harus merawat, memberikan nya cinta, kasih sayang, dan perhatian yang begitu besar. Kita juga harus adil, tanpa membeda-bedakan mana anak kandung dan mana angkat. Kasih sayang kita, perhatian kita, cinta yang kita berikan kepada anak-anak harus adil tanpa ada yang terluka satu sama lain. Itu bukan lah hal yang mudah, tanggungjawab nya begitu sangat besar. Aku, keseringan menghabiskan waktu di luar untuk bekerja. Kau yang akan menghadapi mereka, apakah kamu sanggup?" tanya Arvan kepada Caca


"Ak-aku sanggup, apalagi aku harus membayar dosa ku di masa lalu."


"Dosa? Dosa apa?" tanya Arvan yang menaikan alis nya, ia penasaran. Caca pun kaget, dan menyadari jika diri nya sudah keceplosan.


"Tidak, dosa yang ku maksud adalah. Dulu kita pernah kehilangan bayi kita, aku pernah keguguran. Jika aku tidak keguguran, pasti anak kita bukan hanya Syifa dan Khanza. Jadi, aku ingin merawat Raisa untuk menebus dosa ku di masa lalu." Arvan pun mengangguk setuju dengan ucapan isteri nya.


"Baik lah, jika itu yang kamu mau. Aku akan mengurus berkas-berkas itu secepat nya."


***************

__ADS_1


__ADS_2