
Keesokan pagi nya, Shinta membuka mata nya perlahan.
Ia teringat dengan pembicaraan ia bersama Syifa kemarin, sontak membuat nya kaget.
Segera Shinta bangkit, mengambil ponsel yang ada di dekat meja. Ia menoleh ke arah suami nya yang masih terlelap. Dengan selimut yang menutupi diri nya.
Shinta langsung memberikan pesan kepada anak nya. Ia juga meminta maaf kepada Syifa karena sudah mengingkari janji nya.
"Kenapa aku bisa lupa begini, pasti Syifa menunggu kemarin. Maafin Mama, sayang. Sungguh mama tidak sengaja."
Di akhir pesan ia menulis kan permintaan maaf nya.
Sayang, maafkan mama. Kemarin malam si kembar begitu sangat rewel. Sehingga mama menenangkan mereka akhir nya mama melupakan janji mama. Sungguh mama tidak sengaja dan mama sangat menyesal. Tolong, jangan marah dengan mama.
Shinta berharap agar sang anak mau memaafkan nya. Ia pun segera menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar, membersihkan tubuh nya dahulu. Lalu, akan menyiapkan anak-anak nya.
Setelah selesai mandi, Shinta segera keluar dari kamar. Ia menuju kamar si kembar terlebih dahulu. Terlihat si kembar sudah siap.
"Selamat pagi mama." ujar Alan, Alana secara bersamaan, Shinta masuk mendekati anak-anak nya.
"Selamat pagi kembali sayang, bagaimana tidur kalian.?"
"Begitu nyenyak ma."
"Bagus lah, sayang."
"Apakah papa belum bangun ma?" tanya Alana yang mencari keberadaan papa nya. Shinta pun membenarkan ucapan anak nya.
"Aiya, Sayang. Papa tadi malam bekerja dengan larut malam, papa sepertinya kelelahan."
"Mama, apakah di Kamal mama ada nyamuk? Mengapa lehel mama memelah begitu."
__ADS_1
Astaga! Shinta Baru menyadari bekas cap kepemilikan yang di berikan oleh suami nya. Shinta kegelagapan menjawab pertanyaan anak nya.
Ke dua baby sister itu pun menahan senyum nya, Shinta menjadi malu.
Untung saja, Alan menanyakan hal itu tidak di depan ke dua orang tua nya.
"I-iya, sayang. Ada serangga tadi malam. Jadi nya mama di gigit, tapi nggak apa-apa kok."
"Selangga nya besal sekali ma. Sampai begitu lehel mama." sambung Alana kembali.
"Selangga nya sangat nakal, lihat lah lehel mama kita."
Shinta semakin gugup dan bingung menjawab pertanyaan ke dua anak nya. Ia mengumpat diri nya sendiri, mengapa begitu ceroboh karena tidak menutupi leher nya yang memerah.
Namun, mau bagaimana lagi. Ke dua anak nya sudah melihat cap itu. Bukan hanya anak nya saja, namun ke dua baby sister nya
Shinta menunduk, meminta izin kepada anak nya dengan beralasan sakit perut.
"Sayang, sebentar ya. Tiba-tiba perut mama sangat sakit."
Shinta berlari menuju kamar nya, mama Syafa yang melihat sang anak yang terburu-buru pun memanggil.
"Sayang, ada apa?"
"Tata ingin menutupi, e tidak! Maksud tata ingin membuang air besar sebentar Bu. Tata masuk kamar dulu."
"Sayang, jika kamu tidak tahan kamu bisa menggunakan kamar mandi yang ada di sini. Tidak perlu jauh ke kamar lagi."
Shinta yang sudah malu pun tak menghiraukan ucapan ibu nya, ia berlari menuju kamar.
"Lihat lah! Setelah membuat ku malu seperti ini, dia malah masih enak tertidur dengan nyenyak. Sungguh keterlaluan!" gerutu Shinta dengan kesal.
__ADS_1
Sebenarnya Revan mendengar ocehan dari sang isteri, namun mata nya masih mengantuk jadi ia memutuskan untuk melanjutkan tidur nya.
Shinta yang kesal memukul suami nya menggunakan bantal tidur.
Revan meringis lalu beranjak dengan mata yang tertutup.
"Aku tahu, kau tidak tidur. Dan sengaja kan membuat ku semakin kesal."
Revan membuka mata nya perlahan, menarik sang isteri masuk ke dalam pelukan nya.
"Pagi-pagi begini mengapa marah? Ada apa?"
"Ada apa? Lihat ini!" Shinta menunjukkan leher nya yang begitu banyak cap kepemilikan dari suami nya.
Revan yang melihat itu menahan tawa, entah apa yang lucu bagi diri nya.
"Kan, kau malah meledek ku."
"Tidak! Aku tidak meledek mu, kan aku hanya melihat yang kau tunjukkan sayang."
"Tau nggak? Tadi Alan dan Alana bertanya padaku, mengapa leher ku seperti ini."
"Lalu kau mengatakan apa pada mereka?"
"Aku mengatakan jika ada serangga di dalam kamar." Shinta memonyongkan mulutnya ke depan.
Revan tak kuasa melihat wajah gemas isteri nya itu. Ia juga tahu bagaimana anak-anak nya Alana dan Alana menyusahkan sang isteri dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk di jawab oleh Shinta.
Revan pun mengelus rambut sang isteri. Rasanya ia tidak ingin ke luar dari kamar akibat malu.
"Aku tidak mau ke luar kamar. Bagaimana jika Alan dan Alana bertanya lagi di depan ibu dan ayah?"
__ADS_1
"Ya sudah, jawab saja. Lagipula, kita ini kan suami isteri. Kita juga sudah memiliki empat anak, apalagi yang salah?"
"Kau ini. Aku kan malu, memang kita suami dan isteri. Tapi, aku tak mampu menahan malu di hadapan ibu dan ayah.