Ibu Sambung

Ibu Sambung
Tidak Perlu Khawatir


__ADS_3

"Lalu yang jahat adalah nenek kita? Dia yang sudah menghancurkan juga mempermainkan kehidupan kita semua." Ujar Raisa yang sedikit meninggi kan nada bicara nya.


Ia tidak menyangka, jika nenek yang harus nya menyayangi dan melindungi mereka justru penyebab dari penderitaan yang mereka alami.


Raisa mengingat masa dulu dia saat masih kecil di adopsi oleh orang tua angkat nya yang sangat jahat.


Flashback


Raisa kecil merasa sangat senang karena mendapatkan orang tua baru, dengan manja ia ingin di gendong oleh Mama angkat nya tersebut. Awal nya, perlakuan ke dua orang tua angkat nya pada Raisa sangat lembut.


Sampai di kota yang mereka tempati tiba, rumah nya begitu sangat kecil dan kumuh.


Namun, Raisa tetap merasa bahagia, dia bukan menginginkan harta hanya menginginkan kasih sayang dari orang tua.


"Mama, Raisa Lapar."


"Lapar? Enak saja! Dan apa kata mu tadi? Mama? Aku bukan mamamu! Kau mengerti!"


Raisa merasa terkejut. Raisa yang masih kecil pun hanya bisa menangis, ia sangat lapar dan ingin makan. Namun, orang tua angkat Raisa tidak memberikan nya makan sampai ke seesokan pagi nya.


Pagi-pagi, Raisa di bangun kan dengan paksa! Raisa terbangun, perut nya terasa sangat perih. Dari kemarin ia belum makan, Raisa merengek meminta makanan namun papa angkat nya justru menendang Raisa dengan kuat hingga Raisa yang kecil terpental. Ia mendapat kan kekerasan dari ayah angkat nya.


Raisa ketakutan, sambil menangis ia berteriak. Mama angkat nya bukan nya menenangkan diri nya justru ikut memukuli diri nya tanpa ampun.


"Ampun mama, ampun papa."


"Anak tidak tahu diri! Rasakan ini."


"Sakit Mama, sakit Papa. Ampun!"


Akhir nya pukulan itu terhenti, ke dua orang tua angkat nya menyeret Raisa ke jalanan. Lalu mendorong diri nya hingga tersungkur.


'"Kamu ingin makan bukan? Duduk di sini, dan meminta lah pada orang-orang! Dan ingat, kamu tidak bisa makan jika tidak mendapatkan uang. Mengerti!"


Raisa yang menangis pun mengangguk mengerti. Setiap hari ia harus mengemis agar bisa makan, jika diri nya tidak membawa uang atau membantah sedikit pun. Ia akan di pukuli tanpa ampun, terkadang juga di berikan makanan basi.


Flashback end.


Kenangan buruk itu, masih saja teringat dalam ingatan Raisa. Ingin rasanya Raisa melupakan segala nya namun ia tidak bisa.


Syifa yang melihat adik nya menangis pun bertanya apa yang terjadi, Raisa menceritakan segala nya.


"Kak mengapa nenek kita jahat? Dia membuat hidup ku, hidup mami, hidup Daddy, kakak, dan banyak orang hancur. Kenapa dia sejahat itu, apa kesalahan kita?"


Syifa terdiam, lalu menatap sang adik, menghapus air mata nya.


Syifa tahu, jika adik nya melalui hari yang begitu buruk, hal itu tidak lah muda bagi Raisa, namun Syifa tidak mau membuat Raisa memiliki sifat benci dan dendam. Ia tidak mau jika Raisa berubah seperti Elsa nenek mereka


"Nenek kita hanya kehilangan kendali atas diri nya. Sebab, jika dia bisa mengendalikan diri semua ini tidak akan terjadi. Tapi, Raisa. Anggap saja jika ini semua adalah contoh agar kita bisa memilih jalan kebenaran. Hidup itu memang pilihan, dan nenek kita mengambil jalan yang salah. Ya aku akui, perbuatan nya sungguh sulit untuk di terima. Tapi, sekarang dia sudah tiada dan tenang di sisi Tuhan, jangan kita buat diri nya menderita di sana karena kita mengingat hal yang buruk tentang nya."


Raisa pun terdiam, pemikiran nya yang masih labil di tambah usia nya yang masih sangat kecil membuat Raisa merasa bingung, bagaimana ia harus menyikapi ini semua.


"Dek, aku berharap jika kau tidak memiliki sifat benci atau dendam di hati. Itu akan merusak kehidupan mu dan juga banyak orang. Lupa kan dan maaf kan masa lalu, bangkit lah. Jadi lah lebih baik dari hari sebelum nya."


"Jika kakak mengalami apa yang aku rasa, apakah kakak akan tetap bisa berkata hal seperti ini?" Raisa menatap kakak nya. Syifa pun tersenyum.


"Mungkin, jika aku berada di posisi mu. Aku tidak akan sekuat adik ku yang cantik ini, tapi kakak akan tetap pada pendirian kakak. Kakak sudah mengalami dan melihat segala nya jika kakak di posisi mu. Jadi, kakak lebih mengerti. Apa dampak buruk dari perbuatan jahat, apakah kita akan mengulangi hal yang sama? Tentu nya tidak kan, dan lagipula pada siapa kita harus membalas nya? Pada orang yang tidak bersalah?"


Raisa segera menggeleng.


"Orang yang tidak bersalah jika bisa mendapatkan hukuman atas perbuatan dari orang yang melakukan nya kak."

__ADS_1


"Adikku memang pintar, selain cantik, baik hati nya, kamu juga pintar. Jadi, buang lah segala kenangan buruk itu.. Tidak ada guna nya mengeluh, yang terjadi sudah terjadi dan biarkan terjadi. Sekarang, fokus dengan masa sekarang juga Masa yang akan datang. Hadapi dengan senyuman, percaya semua akan baik-baik saja. Segala penderitaan dan perjuangan kamu selama ini akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan."


Syifa kembali meyakinkan adik nya, jika semua nya akan berlalu dengan keadaan yang baik. Tidak perduli, seberapa besar masalah yang ada, mereka akan bisa melalui nya jika di lakukan bersama-sama.


Pemikiran yang di miliki Syifa lebih dewasa dari usia nya. Ia memiliki pemikiran yang begitu luas, dan mampu menyikapi masalah dengan baik.


"Kak," panggil Raisa dengan nada yang lemah. Syifa pun mengiyakan ucapan adik nya.


"Aku nggak mau mami dan Daddy bercerai. Aku baru saja mendapatkan keluarga ku. Kenapa, mereka harus berpisah?"


Raisa memeluk, menangis di pelukan sang kakak. Syifa mengelus rambut adik nya, memenangkan Raisa jika semua nya akan membaik seperti yang mereka inginkan. Asal kan, mereka berjuang sedikit.


Mungkin, membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tapi, Syifa yakin jika hasil tidak akan mengkhianati sebuah proses.


Syifa pun memikirkan cara yang matang dengan tenang, untuk langkah apa yang harus mereka lakukan. Tanpa di ketahui oleh mami dan Daddy nya.


Syifa juga tidak ingin, masalah ini berlanjut semakin lama, itu tidak akan baik untuk hubungan mama dan Daddy nya.


Syifa tersenyum, ia menemukan rencana yang sangat baik untuk masalah ini.


Ia pun segera membisikkan rencana nya kepada Raisa. Awal nya Raisa merasa sangat ragu.


"Apa kakak yakin?"


"Semua harus di awali dengan keyakinan. Ayo dong jangan putus semangat. Kata nya mau melihat mama dan Daddy seperti dulu. Masa menyerah sebelum perang." Syifa menyemangati adik nya.


Raisa pun tersenyum, ia yakin dengan rencana yang di buat oleh kakak nya. Lagipula, Syifa yang lebih memahami sifat dari Arvan dan Caca


******


Arvan masih terdiam, se-malaman ia tidak bisa tidur memikirkan ucapan sang isteri. Bagaikan sebuah tamparan yang sangat kencang untuk diri nya.


Arvan sadar jika diri nya bukan lah suami yang sepenuh nya baik. Dia juga bukan lah manusia yang baik, selalu melakukan hal yang dia ingin tanpa memikirkan perasaan Caca atau orang yang ada di sekitar nya.


Arvan mengatakan pada sektaris nya untuk menghandle pertemuan-pertemuan penting hari ini ia tidak bisa masuk ke kantor.


Setelah selesai memberitahu sektaris nya, Arvan pun langsung memutuskan telepon itu.


"Daddy." panggil Syifa dan Raisa secara bersamaan. Arvan menoleh ke arah ke dua Puteri nya.


"Iya, Ada apa puteri-puteri Daddy yang cantik?"


"Daddy, hari ini ada film yang sangat bagus di bioskop. Film action kok, kita nonton yuk?" ujar Syifa.


"Iya, Daddy. Lagipula, Raisa tidak pernah menonton di bioskop Raisa ingin sekali merasakan bagaimana rasanya menonton film di bioskop apalagi bersama mami dan Daddy. Boleh kan Daddy?"


Arvan tak tega mendengar ucapan Raisa yang ingin merasa kan bagaimana menonton film di bioskop. Hati nya semakin merasa bersalah, andai saja dulu diri nya tidak egois. Mungkin, Raisa tidak akan mengalami hal seperti ini.


Namun, Arvan bingung bagaimana cara nya untuk mengajak sang isteri. Apakah Caca akan mau ikut dengan mereka. Saat ini, Caca sedang kecewa dan marah pada diri nya.


"Daddy?" panggil Raisa, Arvan menatap mata anak nya yang berkaca-kaca. Ia pun langsung mengangguk dan setuju


Hal itu tentu membuat Raisa dan Syifa merasa sangat senang. Ke dua nya bersorak happy.


Kini, saat nya Raisa dan Syifa mengajak sang mama.


Syifa berbisik kepada Raisa, sebaik nya Daddy nya saja yang mengajak sang mama agar hubungan antara Caca dan Arvan segera membaik.


"Daddy sekarang ajak mami ya? Raisa dan Syifa akan bersiap dulu. Bye Daddy."


Belum sempat Arvan menjawab, Raisa dan Syifa sudah berlari pergi.

__ADS_1


Ke dua nya pun tertawa senang, rencana mereka pasti akan berhasil.


Syifa dan Raisa bertos, hati ke dua nya sangat senang. Kini, mereka akan mengintip sang Daddy untuk melihat bagaimana Daddy nya meminta kepada sang mami.


Syifa dan Raisa pun mengumpat saat Arvan ke luar dari ruangan nya menuju kamar.


Ke dua nya pun mengikuti sang Daddy.


Dengan langkah ragu, Arvan masuk ke dalam kamar. Ia melihat sang isteri yang termenung di atas ranjang.


Caca melihat kedatangan suami nya, ia pun langsung membuang muka ke sembarang arah.


"Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Caca yang tidak menatap suami nya. Ke dua nya begitu sangat canggung, seakan seperti orang yang baru kenal.


"HM begini, sebenarnya anak-anak mengajak kita untuk menonton film bioskop bersama."


"Kalian bisa pergi, biar aku dan baby Khanza di rumah saja."


Raisa dan Syifa saling memandang satu sama lain, ke dua nya pun memasang wajah yang sedih. Merasa rencana ke dua nya akan gagal.


"Tapi, Raisa menginginkan kita menonton bersama.. A-aku tidak tega menolak nya. Jika bukan untukku, setidak nya untuk ke dua anak kita. Aku tidak bisa membuat Raisa dan Syifa kecewa hanya karena keegoisan ku."


Caca terdiam, memikirkan ucapan suami nya. Anak-anak nya tidak boleh lagi menjadi korban karena keegoisan diri nya. Caca yang awal nya ragu pun mengangguk.


Hal itu tentu saja membuat Raisa dan Syifa menjadi bersemangat, hingga ke dua nya tanpa sadar mengeluarkan suara yang berisik. Arvan yang mendengar pun langsung ke luar untuk memeriksa keadaan di luar.


Tentu saja, hal itu membuat Raisa dan Syifa berlari untuk bersembunyi, ke dua nya pun langsung berlari menuju kamar.


"Semoga Daddy tidak melihat kita."


"Iya, dan sebaik nya kita cepat bersiap agar mereka tidak merubah pikiran nya."


Raisa dan Syifa pun bergegas untuk bersiap, begitu juga dengan Arvan dan Caca.


Sebelum pergi, Caca memberikan ASI nya dulu kepada baby Khanza secara langsung. Dan memompa ASi nya untuk persediaan baby Khanza nanti.


Setelah melakukan itu, Caca memberikan baby Khanza dan ASI cadangan nya kepada baby sister yang mengurus anak nya.


Ia mengatakan jika diri nya, suami, dan ke dua anak nya keluar sebentar. Caca meminta tolong kepada baby sister itu untuk menjaga baby Khanza dengan baik.


"Jangan sampai baby Khanza telat minum ASI ya? Mungkin, kami akan pulang terlambat. Jika ada sesuatu, jangan lupa hubungi saya atau suami saya ya?"


"Baik, nyonya."


"Kalau begitu, saya pergi dulu. Mami pergi dulu ya nak, baby Khanza harus tinggal karena masih bayi. Tapi, mami janji akan pulang cepat ya nak. Jangan nakal sama mbak nya, nanti mbak nya bisa kerepotan lagi."


Caca berusaha untuk ceria dan tegar walau dari bola mata nya terlihat kesedihan yang luar biasa yang ia rasakan.


"Nyonya, maaf jika saya lancang. Namun, sebaik nya nyonya tidak harus bersandiwara seperti ini. Saya tahu, jika nyonya sedang tidak baik-baik saja. Jangan memasang senyuman palsu itu nyonya."


Caca terdiam, dia tidak marah atau tersinggung dengan ucapan pengasuh dari anak nya.


"Apalagi yang harus saya lakukan? Sedari kecil, mama saya selalu mengambil keputusan untuk saya. Saya hidup dengan Arahan dari mama saya. Bahkan, saat saya dewasa, saya pernah sekali mengambil keputusan. Namun, keputusan saya itu salah dan sangat jahat. Saya tidak ingin karena keegoisan saya orang yang ada di sekitar saya menderita."


"Ta-tapi, nyonya sedang tidak baik-baik saja, sampai kapan nyonya harus membohongi diri nyonya sendiri?"


"Senyuman ini tidak bohong kok, saya pergi dulu ya. Suami dan anak-anak sudah menunggu. Tolong, jaga anak saya yang satu ini ya. Jangan lupa, jika terjadi sesuatu pada baby Khanza segera hubungi saya. Jangan Ragu, oke?"


Setelah mengatakan itu, Caca segera pergi meninggalkan pengasuh dan anak bayi nya.


Sebenarnya Caca tidak tega meninggalkan baby Khanza namun mau bagaimana lagi, baby Khanza masih sangat kecil untuk di bawa

__ADS_1


Kasihan juga baby Khanza jika harus menunggu di luar atau dalam mobil. Itu tidak nyaman untuk bayi nya.


Lebih baik, baby Khanza tetap di rumah dengan aman dan nyaman. Jadi, Caca juga tidak khawatir. Apalagi cctv kamar anak nya langsung menyambung ke ponsel genggam caca. Jadi, ia bisa memantau anak nya dari luar. Tanpa merasa khawatir lagi saat berada di luar rumah


__ADS_2