Ibu Sambung

Ibu Sambung
Mengirimkan Pengawal


__ADS_3

Keesokan hari nya. Caca, Shinta dan yang lain nya mengecek keadaan ibu Syafa apakah sudah membaik atau sebaliknya.


Terlihat, Syafa sudah membaik dari hari kemarin. Hari ini anak-anak juga libur tidak ada yang sekolah karena ingin menjaga nenek mereka.


"Ibu, bagaimana kondisi ibu?" tanya Shinta yang duduk di samping ibu nya, Syafa memeluk anak nya. Meminta Caca untuk mendekat, dan memeluk Caca juga.


"Ibu tidak apa-apa, jangan khawatir."


"Bagaimana bisa kami tidak khawatir. Ibu kemarin tidak sadarkan diri secara tiba-tiba."


"Ibu hanya letih saja. Tapi, lihat lah. Ibu sudah tidak apa-apa sekarang. Kalian tidak perlu khawatir lagi! Setiap orang pasti pernah sakit sayang. Tidak ada yang sehat terus, kamu juga pernah sakit. Begitu juga Caca."


Shinta dan Caca pun setuju dengan ucapan ibu mereka. Setiap makhluk hidup pasti akan merasakan sakit. Mau itu fisik atau hati.


Ibu Syafa mengatakan jika tidak perlu khawatir. Shinta dan Caca pun mengangguk.


Shinta mengambil semangkuk bubur yang tadi ia buat. Dan menyuapi ibu nya makan..


"Sekarang, ibu harus makan yang banyak setelah itu minum obat. Ibu jangan menolak, tata mohon. Tata ingin ibu segera sembuh, kami semua mengkhawatirkan Ibu."


"Baik lah, Ibu akan makan. Tapi, kalian jangan khawatir lagi ya? Jika kalian ingin kita tetap berlibur. Ayo, ibu sudah membaik sekarang."


"Tidak!" jawab Caca dan Shinta secara bersamaan.

__ADS_1


"Kami tidak ingin berlibur, lebih baik sekarang kami fokus kepada kesembuhan ibu dulu."


"Jika ibu ingin kita berlibur, ibu harus sembuh dulu. Setelah itu, kita akan berlibur kemana pun ibu mau. Tata dan Caca janji akan membawa ibu kemana pun ibu mau."


"Iya, Bu."


"Anak ayah dan Ibu ini memang sangat baik. Tapi, jika kalian terus seperti ini. Ibu kalian akan semakin sakit, sudah jika ibu kalian mengatakan ibu baik-baik saja lebih baik kalian jangan bersedih seperti ini."


"Iya, Ayah."


Shinta menyuapi ibu nya dengan sangat telaten. Dan Caca, mengambil kan segelas air minum untuk ibu nya selesai makan.


********


Ia melihat seseorang yang sedang memantau rumah nenek nya itu. Syifa ingin melihat lebih dekat. Namun, Raisa menahan kakak nya.


"Kakak mau kemana?"


."Kakak melihat ada orang yang sedang mengintai rumah oma."


"Lalu? Kakak ingin ke sana?" Syifa mengangguk, namun Raisa mencegah kakak nya..


"Jangan kak, bagaimana jika itu orang jahat? Lebih baik, kita masuk dan mengatakan nya kepada Daddy."

__ADS_1


"Tapi, kenapa kita harus takut? Kita bisa berteriak jika ia mau melakukan kejahatan kepada kita."


"Tidak kak! Bagaimana jika dia menutup mulut kita agar tidak dapat memanggil yang lain nya. Ayo kak, Raisa mohon sebaiknya kita masuk saja."


Syifa pun mendengarkan ucapan adik nya, mengajak si kembar untuk masuk ke dalam dan menutup pintu.


Di rumah, Orang tua Syifa tidak ada keamanan. Jadi, penculik memiliki peluang besar untuk melakukan kejahatan pada anak-anak.


Raisa memanggil Daddy nya dan mengatakan jika ada pria dewasa yang memantau rumah nenek mereka.


"Daddy, di luar ada yang memantau rumah Oma. Wajah nya sangat menyeramkan. Kakak Syifa mau mendekati nya dan melihat lebih dekat. Namun Raisa mencegah. Raisa sangat takut Daddy."


"Jangan takut, nak." Arvan memeluk anak nya, lalu melepaskan pelukan nya.


"Sekarang, Syifa dan Raisa bawa si kembar ke dalam kamar. Ingat, bilang kepada baby sister untuk jangan keluar rumah oke?"


"Iya, Daddy." ujar Syifa dan Raisa secara bersamaan.


Mereka pun membawa Alan dan Alana masuk ke dalam kamar, beruntung hari ini Alana tidak terlalu banyak bertanya dan menurut saja.


Arvan mengecek keadaan di luar, dia pun melihat pria yang bertubuh kekar. Arvan mendekati orang tersebut, namun ia langsung lari. Arvan mencoba mengejar namun pria itu langsung naik ke dalam angkutan umum.


"Sial! Siaapa dia?" Arvan merasa jika keamanan di rumah orang tua Shinta harus di perketat lagi. Ia menghubungi orang suruhan untuk mengirim tiga pengawal yang akan menjaga rumah orang tua Shinta.

__ADS_1


__ADS_2