
Shinta pun tak kuasa, namun Revan meminta istrinya untuk menahan kesedihannya
"Ca, kamu bisa pulang bawa Khanza sekarang. Aku dan Shinta juga akan ke rumah sakit!" Revan mengatakan itu dengan ketus, Caca mengangguk
"Sayang, ayo kita pulang!"
"Tapi mi," Khanza menatap Shinta dengan mata yang sendu. Membuat hati Shinta tidak tega "Sayang nanti kamu bisa ke sini lagi sama kak Syifa!"
Akhirnya Khanza pun mengalah, dia pulang bersama Caca dengan hati yang sedih "Khanza sayang, kamu jangan sedih terus dong nak. Khanza kan tahu kalau Daddy sedang sakit, kita harus jagain Daddy, kalau Daddy udah sembuh nanti kamu ke sini oke?"
Khanza hanya bisa diam, keberadaannya sudah tidak di inginkan lagi oleh siapapun. Caca dan khanza pun masuk ke dalam mobil, setelah Caca pergi.
Shinta dan Revan pun menuju rumah sakit untuk melihat anaknya
"Kita harus ke rumah sakit sekarang, Alan dan Alana pasti sudah mencari Kita,"
Revan mengangguk, ia meminta supir untuk menyiapkan mobil. "Sayang, kamu enggak bawa mobil?" Revan menggeleng, rasanya ia malas sekali membawa mobil sendiri. Lebih baik supir yang mengantar mereka
"Baik lah!"
Shinta pun tak banyak protes, mungkin suaminya lelah. Keduanya masuk ke dalam mobil untuk menuju rumah sakit, Shinta masih memikirkan tentang Khanza namun setidaknya rasa rindunya kepada Khanza sudah berkurang sedikit
********
"Alan, Alana mau itu!"
Alan mengambilkan buah yang di tunjuk oleh saudara kembarnya "Ini!"
"Ish Alan!" Alan menaikan satu alisnya ke atas, saudara kembarnya meminta itu dan ia sudah mengambilnya lalu mengapa Alana masih protes?
"Apalagi Alana? Kan udah Alan ambil apa yang Alana mau?"
"Alan enggak peka banget! Kupas dong," minta Alana dengan manja "Iya-iya, dasar bawel!"
Alan mengambil kembali buah tersebut dari tangan Alana, lalu menuju meja untuk mengambil pisau "Sayang, biar nenek aja yang potong buahnya. Alan duduk aja sama Alana atau sama kakek,"
"Tidak usah nenek, biar Alan aja. Lagipula Alana meminta Alan yang memotongnya, iyakan alana?"
Alan menoleh ke arah adiknya itu, namun Alana menggelengkan kepalanya. Membuat Alan melotot "Enggak kok, enggak harus Alan!"
"Dasar pengacau!" Ketus Alan yang kesal dengan Alana, Alana pun terkekeh
"Udah, Alan sini duduk di samping Alana!" Keduanya memang selalu itu, bertengkar dan terus bertengkar. Alan yang mudah marah dan si Alana yang selalu mencari masalah
"Alana!"
Alan dan Alana langsung menoleh ke arah suara itu berasal, di depan pintu ada teman-teman sekolah mereka yang menjenguk
"Teman-teman?"
Alana dan Alan terlihat bahagia, Lily dan Tommy mempersilahkan anak-anak untuk masuk
"Nak, kalian masuk lah!"
Para anak remaja itu pun masuk, mendekati Alana "Bagaimana kabar mu Alana? Saat ibu guru mengatakan kamu masuk rumah sakit..kamu sangat sedih, sebentar lagi kita akan mengadakan ujian akhir semoga kamu lekas sembuh ya?" Ujar Agatha wanita yang terkenal paling cantik di kelas mereka, menurut Alan.
Haha! Alan terus memandangi wajah Agatha "Biasa aja lihat-nya!" Ketus Alana yang menyindir saudara kembarnya itu.
Agatha memandang Alan sebentar lalu tersenyum "Hai Alan, apa kabar?"
Jantung Alan berdegup kencang, rasanya ia seperti melayang saat Agatha menatapnya dengan tatapan teduh
"Agatha enggak usah bicara sama dia, dia itu tidak akan menjawab!"
Alana tahu bagaimana sikap dingin saudara kembarnya itu. Yang ada akan membuat orang lain merasa sakit
"Aku baik!"
Alana membelalakkan kedua matanya dengan sempurna, apakah dirinya tidak salah dengar? Seorang Alan menjawab pertanyaan dari seorang gadis?
Kini Alana tahu jika Alan pasti memiliki perasaan dengan wanita itu. Jika tidak, tidak mungkin kakaknya mau menjawab pertanyaan dari orang lain. Ia tahu betul bagaimana sikap Alan
Cekrek!
Pintu terbuka, Shinta dan Revan melihat banyak teman-teman anak mereka yang berkunjung.
__ADS_1
"Hey sayang, terimakasih yang sudah mau menjenguk anak Tante,"
Shinta senang karena teman-teman anaknya memilikinya rasa perduli yang kuat.
"Alan, Alana. Ini ada sesuatu yang kami belikan untuk kalian. Semoga kalian suka," ujar Agatha lagi yang mewakili teman-temannya dengan sigap Alan langsung mengambilnya
"Terimakasih banyak Agatha, terimakasih banyak teman-teman. Kalian sangat baik!"
Mata Alan tidak berhenti memandangi wajah cantik Agatha, membuat wanita itu merasa malu
"Sama-sama Alan!"
"Alana cepat sembuh ya?"
"Cepat sembuh Alana,"
Banyak sekali yang mendoakan Alana agar ia cepat sembuh, dan mengikuti ujian akhir nanti
Mata Alana berkaca-kaca, ia merasa sangat terharu"Terimakasih banyak teman-teman! Aku menyayangi kalian,"
"Kamu juga menyayangi kamu Alana. Kami pulang dulu ya?"
Teman-teman mereka pun berpamitan pulang kepada Alana, Alan, Lily, Tommy juga dengan shinta dan Revan sebagai orang tua Alana
Setelah teman-teman Alana pulang, Shinta mendekati anaknya "Sayang, bagaimana keadaan kamu nak? Sudah membaik?"
"Sudah mama, Alana sudah lebih baik. Ada nenek dan kakek yang dengan baik menjaga Alana, begitu juga Alan. Yang selalu merawat Alana dengan baik,"
Shinta mengusap rambut kedua anaknya "Iya nak, sebagai saudara kalian harus saling menjaga satu sama lain ya. Harus saling menyayangi,"
"Iya mama,"
Jawab Alan dan Alana secara bersamaan "Mama, Alana punya gosip,"
"Gosip apa sayang?" Tanya Shinta yang merasa geli mendengar anaknya mengatakan ada gosip. Begitu juga dengan Lily dan Tommy yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah cucu mereka Alana
"Alan menyukai seorang gadis ma!"
"Hey, jangan asal bicara kamu!" Alan merasa tidak terima dengan tuduhan Alana "Benar mama, Alan menyukai Agatha. Iyakan? Jujur saja!"
Alan masih menyangkal "Tidak benar itu mama! Jangan percaya dengan Alana. Dia selalu sering berbicara asal"
"Tidak mama! Alana tidak berbicara asal! Alana mengatakan yang sebenarnya. Kalau mama enggak percaya lihat saja nanti, pasti Alan dan Agatha akan menjalin hubungan,"
"Sayang kalian kan masih kecil, enggak dan jangan dulu ya pacaran-pacaran! Anak SMP enggak ada yang pacaran!"
"Kan udah Alan bilang sama mama dan papa, jangan percaya dengan Alana. Dia selalu saja menyebarkan berita palsu! Dasar tukang gosip!" Alan juga takut dengan peringatan yang diberikan oleh papanya.
Alan tahu jika papanya tidak akan pernah suka melihat mereka menyukai lawan jenis di usia mereka yang masih sangat kecil.
"Sayang, yang papa kalian katakan itu benar. Alan dan Alana harus fokus belajar, jangan dulu memikirkan cinta-cintaan! Kakak kalian saja yang sudah besar tidak memiliki pacar,"
"Siapa bilang ma? Kakak sudah pacaran tahu! Nama pacarnya kak Arash. Haha mama ketinggalan berita ya?" Alana mengatakan itu dengan penuh semangat.
Membuat Shinta dan Revan saling pandang. Apakah benar putri sulung mereka sudah memiliki pacar?
"Arash? Siapa dia?" Revan bertanya, mengerutkan dahinya. Baru ini ia mendengar nama pria itu, karena anaknya tidak pernah membahas masalah pribadinya
"Iya mama namanya kak Arash! Mereka sudah berpacaran sangat lama. Kak Arash sangat tampan!"
Astaga, mengapa Alana memberitahu mama dan papa? Dasar pengacau tidak bisa menjaga rahasia! ~batin Alan
Tommy bangkit, mendekati anak dan menantunya "Kalian bagaimana sih. Anak kalian sudah dewasa dan memiliki pacar namun kalian sebagai orang tua tidak tahu? Ngapain saja kalian selama ini? Sibuk dengan anak orang lain? Sampai lupa dengan anak sendiri? Kamu lagi Revan! Kamu papanya, bisa-bisanya kamu lalai menjaga anak mu!"
"Pa sudah lah! Kenapa papa memperpanjang masalah ini? Syifa juga udah besar, wajar dong cucu kita jika memiliki kekasih hatinya,"
"Ma, kita enggak tahu siapa pria itu. Bagaimana layar belakangnya bagaimana jika dia menyakiti cucu kita? Sedangkan kita tidak tahu siapa pemuda itu,"
"Alana tahu kakek! Alana juga tahu di mana rumah kak Arash!"
Alan melotot kepada Alana, namun saudara kembarnya itu terus saja mengoceh "Sayang, kamu tahu dari mana?"
"Tahu dong papa! Karena kakak dulu sering mengajak Alana dan Alan bertemu dengan kak Arash. Soalnya kak Syifa enggak berani kalau ketemuan hanya berdua, nanti takut ada setan',"
"Sudah Alana, mengapa kamu tidak bisa diam? Terus saja berisik. Lebih baik kamu tidur sana!"
__ADS_1
Alan meminta adiknya untuk tidur saja, semakin banyak Alana berbicara maka semakin banyak rahasia yang akan terbongkar.
"Dasar mulut tidak bisa menjaga rahasia!" Alan berbisik ke kuping Alana, ia mengingatkan Alana agar tidak banyak bicara. Nanti kakak mereka akan marah
"Alana sayang kamu yakin dengan yang kamu katakan?"
"Iya mama! Kalau mama enggak percaya nanti mama tanya saja sama kakak, lagipula kak Arash itu baik dan juga tampan. Mereka juga ingin menikah secepatnya,"
"Menikah? Tidak! Tidak bisa! Syifa masih sangat muda jika menikah Sekarang. Mengapa Syifa tidak pernah mengatakan apapun?"
Revan panik, begitu juga dengan Shinta namun Lily menenangkan anak dan menantunya "hey, kenapa kalian panik? Jika Syifa ingin segera menikah ia pasti akan mengatakannya kepada kalian sebagai orang tuanya. Syifa tidak akan menikah diam-diam. Biarkan saja, Syifa juga sudah dewasa ia tahu mana yang benar dan mana yang tidak,"
"Iya ma, Shinta percaya dengan anak Shinta. Namun Shinta enggak percaya dengan pemuda itu!"
"Iya ma, kita enggak tahu latar belakang pemuda itu bagaimana. Apakah dia baik atau tidak untuk Syifa,"
"Sudah lah, juga akan bertanya langsung kepada Syifa setelah ia kembali mengurus Daddy-nya yang sedang sakit!"
Lily dan Tommy kaget "Mereka sudah kembali?"
Revan dan Shinta mengangguk "Iya, namun Arvan kembali drop kata Syifa itu karena Raisa yang selalu saja membuat keributan," Shinta dan Revan pun menceritakan semua keburukan Raisa yang selama ini ia lakukan. Termasuk dengan sengaja menjauhkan kedua orang tuanya dari Syifa dan Khanza
"Sudah pasti, buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Sifat Raisa pasti menular dengan sifat neneknya!"
"Papa, jangan bicara seperti itu pa! Enggak baik! Mungkin saja Raisa masih proses adaptasi kembali ke sini,"
"Ma, Raisa itu saat kecil tinggal di panti asuhan mengapa sekarang sikapnya seperti anak yang tidak pernah hidup susah dan mandiri?"
Tommy mengatakan itu dengan pedas "Di panti juga selalu berbagi. Bahkan dia tidak memiliki ke dua orang tua, mengapa sekarang ia egois dan ingin hanya sendiri saja di rumah itu? Enggak bisa begitu seharusnya Raisa bisa mengerti dan berbagi kasih sayang. Lihat lah cucu kita Alan dan Alana, mereka enggak pernah tinggal di panti asuhan namun mereka rela kasih sayang orang tuanya di bagi untuk Khanza. Begitu juga dengan Syifa!""
"Pa sudah lah! Kenapa papa marah? Ini rumah sakit, papa harus bisa menjaga sikap! Lagipula, untuk apa papa marah? Anaknya juga tidak ada?" Lily mencoba menenangkan suaminya, Tommy akhirnya pun bungkam.
Shinta dan Revan hanya bisa mendengarkan kemarahan papa mereka
Memang apa yang dikatakan oleh Tommy itu benar, seharusnya Raisa bisa lebih dewasa memahami ini semua. Namun anak itu tetap keras kepala
"Anak itu tidak menyayangi kedua orang tuanya, dia hanya menyayangi dirinya sendiri. Buktinya, ia tega melihat Daddy-nya yang kembali drop hanya karena keegoisannya itu! Padahal Raisa tahu bagaimana kondisi Daddy-nya selama sepuluh tahun belakangan ini! Kasian Arvan dan Caca harus memiliki anak tidak tahu diri seperti Raisa!"
"Astaga papa, kenapa papa bicara seperti itu? Papa enggak boleh bicara seperti itu, daripada mengurusi kehidupan orang lain lebih baik papa mengurus cucu-cucunya papa aja!" Lily meminta suaminya untuk berhenti, walau orangnya tidak ada namun Lily tidak bisa mendengarkan hal buruk tentang orang lain
"Kakek kenapa kakek marah?" Alana bertanya kepada kakeknya, Alana juga meminta kakeknya untuk tenang. Baru lah Tommy bisa tenang karena pemerintah cucunya.
Alana meminta Tommy untuk mendekat, lalu Alana memeluk kakeknya dengan penuh cinta "Kakek ku sayang, jangan marah-marah lagi. Kan ada Alana, Alan dan kak Syifa yang tidak seperti itu. Khanza juga baik, dia tidak seperti itu dan Alana yakin jika kakak Syifa dan Khanza bisa menjaga Daddy dan mami Caca. Mereka bisa membuat mereka merasa tenang dan mereka juga bisa menghandle kak Raisa yang menyebalkan itu,"
Tommy membalas pelukan cucunya "Iya sayang, cucu kesayangan kakek. Dan kakek berharap jika cucu kesayangan kakek ini bisa cepat sembuh ya? Agar kita bisa segera kembali ke rumah, kita berkumpul bersama,"
"Pa tadi Revan sudah bicara dengan dokter, dan dokter sudah memperbolehkan Alana pulang. Namun,"
Ucapan Revan terhenti "Kenapa Van?"
Tommy bertanya kepada anaknya dengan serius, Shinta yang mengingat ucapan dokter pun menangis "Mama, Alana kenapa?"
"Alana tidak apa-apa nak. Namun karena obat itu, Alana harus konsultasi kepada psikiater agar Alana tidak kecanduan lagi dengan obat. Kita akan ke sana setelah dari rumah sakit,"
"Ma, pa. Alana enggak gila," Alana meneteskan air matanya mengatakan itu. Alan yang sedih langsung memeluk saudara kembarnya "Iya Alana, Alana waras kok. Alana jangan menangis,"
Shinta tidak tega melihat anaknya "Sayang, ini hanya agar alana tidak kecanduan obat itu lagi sayang! Tidak ada yang mengatakan anak mama gila kamu mau ya?"
Alana menggelengkan kepalanya, ia tidak mau jika harus konsultasi ke psikolog atau psikiater. Baginya dirinya tidak kenapa-kenapa, ia juga bisa menahan dirinya agar tidak mengkonsumsi obat-obatan lagi
"Alana sayang, tolong mengerti lah nak. Ini semua untuk kebaikan kamu"
"Enggak ma! Apa mama mau Alana seperti Tante Jennika? Bukannya sembuh, malah ingin mengakhiri hidup?"
"Jangan katakan itu sayang, sebab mama dan papa tidak ingin kamu seperti Tante Jennika makanya kami ingin yang terbaik untuk kamu,"
Hancur hati Shinta dan Revan. Mendengar ucapan Alana, namun demi masa depan Alana, Alana harus segera di obati. Dan yang bisa menyembuhkan segala trauma dan rasa sakit Alana hanyalah seorang psikiater.
"Mau ya nak?"
"Enggak ma! Alana enggak mau!"
Alan semakin mengeratkan pelukannya kepada Alana, mengusap rambut Alana dengan lembut untuk menenangkan saudara kembarnya itu "Alana tenang! Kamu jangan histeris seperti ini, Alan enggak mau kamu nanti sakit lagi,"
Alana mendongakkan wajahnya ke atas menatap Alan "Alana tapi enggak mau Alan, Alana enggak mau nantinya orang-orang mengatakan Alana tidak waras,"
__ADS_1
"Tidak Alana! Tidak akan ada yang mengatakan hal seperti itu kepada kamu, jika ada? Alan akan memukul dan memberikannya pelajaran. Alana jangan takut, ada mama, ada papa, ada kakek, ada nenek, ada kak Syifa dan ada Alan yang akan terus menjaga Alana. Kami akan terus ada di samping Alana. Alana enggak sendirian, kami akan selalu di samping Alana. Yang mama katakan itu benar, bukan hanya Alana. Namun Alan juga, Alan akan konsultasi ke psikiater. Lagipula, siapa yang bilang konsultasi ke psikiater karena tidak waras? Alan juga mau konsultasi agar Alan merasa tenang. Dan tidak mudah marah lagi,"