
Shinta menoleh ke arah Caca yang terlihat sangat sedih. "Khanza, Sayang! Kamu enggak boleh seperti itu ya nak! Mami Caca sangat merindukan kamu. Bagaimana pun, mami Caca adalah wanita yang sudah melahirkan Khanza."
"Mama, Khanza tahu jika mami adalah ibu kandung Khanza namun Khanza enggak mau pisah dari mama!"
"Sudah lah! Kita jangan memaksa Khanza. Dia butuh waktu untuk ini semua, yang terpenting saat ini kita sudah berkumpul. Jangan memaksanya, Mi, Daddy! Kasihan Khanza!" Raisa berjalan menuju adiknya, memeluk Khanza seakan memahami kesedihan Khanza. Padahal wanita itu merasa senang karena adiknya tidak mau tinggal bersama mereka
Bagus, jika Khanza tidak ingin bersama mami. Aku bisa tetap menjadi anak satu-satunya di rumah! ~batin Raisa
"Kakak Raisa ya?" Raisa mengangguk, keduanya melepaskan pelukan satu sama lain
Raisa memberikan senyuman terpaksa untuk adiknya. Alana terlihat sangat kesal, walau mami dan Daddy sudah kembali ke tanah air mengapa Khanza masih tetap bersama mereka?
"Khanza, kamu enggak boleh seperti itu! Mami Caca itu mama kandung kamu, kamu harus tinggal bersama mami Caca!"
Raisa terlihat kesal dengan Alana, padahal semua orang sudah menerima keadaan namun mengapa Alana membuat masalah?
__ADS_1
"Alana, mengapa kamu mengatakan hal kasar seperti itu? Khanza masih sangat kecil, kamu enggak boleh bicara kepada anak-anak seperti itu!" Raisa menegur Alana, namun Alana tak menggubris ucapan Khanza
"Mau sampai kapan kalian diam dan bungkam dengan kenyataan? Mau sampai kapan? Kalian enggak kasihan dengan mami Caca? Sudah lama tidak bertemu dengan anaknya, dan saat sudah kembali ke sini. Justru anaknya memilih tinggal dengan orang asing! Kalian terlalu naif!"
"Cukup Alana!" Syifa membentak adiknya untuk pertama kali "Kali ini kamu sangat keterlaluan, kamu enggak boleh bicara seperti ini! Kita baru bertemu dengan semua orang setelah sepuluh tahun. Mengapa kamu mencari masalah?"
"Masalah apa kak? Alana mengatakan yang sebenarnya! Kalian semua terlalu naif! Selalu bungkam dengan kebenaran! Khanza harus bisa memahami semuanya! "
Alana yang kesal pun berlalu pergi, menaiki anak tangga satu persatu "Semua orang terlalu naif! Aku benci mereka!" Alana mendumel, Shinta dan yang lainnya terdiam
"Intinya Khanza cuma mau sama mama Shinta!"
"Nak?"
Belum sempat Shinta memberikan penjelasan kepada Khanza. Caca langsung menghentikannya "Sudah lah, Ta! Kami baru kembali dan biarkan Khanza nyaman dengan pilihannya!"
__ADS_1
Dengan berat hati, Caca pun mengatakan itu. Walau sebenarnya Shinta tahu jika hati Caca sangat hancur, namun Caca juga tidak bisa menyalahkan Khanza atau pun Shinta.
Ini semua kesalahannya, seharusnya ia memikirkan kejadian ini semua sebelum memutuskan untuk meninggalkan Khanza sepuluh tahun yang lalu.
Ia pun harus siap dengan segala akibat dari keputusannya itu
"Mami, ayo kita pulang!" Raisa mengajak kedua orang tuanya untuk pulang. Syifa mengerutkan dahinya "Raisa, kalian baru aja sampai mengapa sudah mau pulang? Sudah sepuluh tahun kalian pergi, dan singgah hanya sepuluh menit saja?"
"Eng-enggak begitu kak. Raisa merasa sangat lelah,"
"Sabar dong Raisa! Kakak masih rindu dengan mami dan daddy. Kamu kan sudah puas bersama mereka, jangan egois dong!"
Syifa terlihat kesal dengan adiknya, Raisa terdiam dan tak berkutik dengan ucapan kakaknya.
"Mami, Raisa sangat lelah!" Raisa mengadu kepada maminya namun Arvan mengatakan jika mereka akan tetap di rumah Shinta. "Kita akan kembali nanti, kamu bisa menumpang di kamar kakak mu, Raisa!"
__ADS_1