
Selesai menikmati ice cream tersebut, Shinta mengajak Syifa untuk berkeliling dan berbelanja. Syifa yang sekarang sangat tidak menyukai berpergian. Ia lebih suka menghabis kan waktu untuk membaca dan menulis, ya keinginan Syifa ingin menjadi penulis yang terkenal suatu saat. Namun, ia tak enak jika harus menolak ajakan si Mama. Syifa pun mengikuti, mereka bukan hanya Ibu dan Anak namun Shinta bisa memecahkan kecanggungan mereka layak nya seorang teman. Tertawa dan bercanda di sepanjang jalan. Shinta benar-benar menghabis kan waktu berdua dengan Puteri sulung nya. Malam hari mereka pun pulang ke rumah dengan perasaan yang bahagia.
"Kalian dari mana?" tanya Revan. Semenjak bangun tidur ia mencari isteri dan anak sulung nya.
"Kita habis makan ice cream dan berbelanja." jawab Shinta dengan menunjukkan barang bawaan mereka.
"Mengapa tidak memberitahu ku? bagaimana jika sesuatu terjadi pada kalian?" Shinta pun mendengus dan mendekati sofa. Ia duduk dan meletakkan barang bawaannya di meja.
"Kemari lah, Sayang!" ucap Shinta pada Syifa. Syifa pun mendekati dan duduk di samping Shinta.
__ADS_1
"Maaf kan kami. Tetapi tadi, kau tertidur sangat pulas. Aku tak tega jika harus mengganggu tidur mu." jawab Shinta tanpa ingin berdebat.
"Sayang, kamu pergilah ke kamar, bersih kan diri lalu tidur lah!" pinta Shinta pada Syifa dengan lembut.
"Iya, ma. Syifa izin ke kamar dulu. Ma, Pa."
"Selamat malam kesayangan mama." Shinta mengecup kening Syifa. Syifa pun bangkit dan berlalu pergi.
"Ini tidak benar. Apa ini? mengapa kau berpakaian seperti ini?"
__ADS_1
"Mengapa? bukan kah aku sering memakai nya dulu? apa yang salah?"
"Sangat salah! kau pergi bersama anak kita tanpa aku. Bagaimana jika orang menggoda kalian? apalagi dengan baju yang kau kenakan. Ini sangat salah!" Revan duduk di samping isteri nya dengan perasaan khawatir.
"Iya, Sayang. Maaf kan aku ya." cemburu Revan sangat tak beralasan, padahal Shinta biasa memakai pakaian begini. Namun, mengapa baru di permasalahi sekarang? Shinta pun memilih mengalah dan meminta maaf saja.
"Baik lah. Ayo kita masuk ke kamar." ajak Revan. Revan pun berdiri dan menggenggam jemari isteri nya.
*************
__ADS_1
Syifa masuk ke dalam kamar dan menaruh barang belanjaannya di atas kasur. Ia melihat tas berisi barang yang begitu banyak dan mengendus. Syifa tidak menyukai belanja yang berlebihan. Namun, untuk menjaga perasaan mama nya ia pun menerima semua tawaran itu. Syifa tahu bahwa itu adalah bentuk kasih sayang Shinta pada dirinya. Ibu nya ingin yang terbaik untuk diri nya. Badan nya terasa sangat lelah, ia pun membersih kan diri.
"Huft badan ku lelah sekali, lebih baik aku tidur sekarang dan meletakkan barang-barang ini dulu di lemari. Besok aku akan menyusun ini." Syifa pun mengambil tas belanjaan tersebut dan meletakkan nya di lemari pakaian. Ini bukan rumah mereka, jadi fasilitas kamar tidak selengkap di kamar nya. Namun, Syifa beruntung memiliki kakek dan nenek yang begitu menyayangi nya. Padahal Syifa bukan lah darah daging mereka. Rumah ini memang tidak sebesar rumah mereka. Namun, cinta dan kasih yang di berikan kakek nenek nya membuat rumah ini begitu nyaman di tempati oleh siapapun. Syifa tersenyum dan kembali ke kasur untuk tidur.