Ibu Sambung

Ibu Sambung
Season 2 - Takdir


__ADS_3

Brian mendatangi Elsa dengan perasaan yang sangat marah. Tanpa permisi, Brian langsung masuk ke dalam rumah nya


"Elsa!" teriak Brian. Elsa pun menemui Brian dan menatap sinis mantan suami nya tersebut.


"Ada apa? aku tidak punya waktu!"


"Puas kami hah? puas!"


"Gak usah drama, aku tidak banyak waktu untuk manusia tidak berguna seperti mu." ucap Elsa dengan sombong nya, ia melihat jam yang ada di tangannya.


"Waktu mu tidak banyak, hanya 10 menit. Bicaralah!"


"Dasar wanita tidak punya hati, kau tidak pantas di sebut sebagai manusia!"


"Sudah lah! jika hanya perkataan yang tidak penting. Sebaik nya kau keluar dari rumah ku!" Elsa pun membalikkan tubuh nya dan berjalan berlikak likuk ke menaiki anak tangga.


"Untuk kesekian kali nya, kau pembunuh! kau membunuh keluarga mu sendiri. Apa tidak puas perbuatan mu di masa lalu? Lee meninggal karena diri mu, dan sekarang kau membuat cucu ku tidak selamat!" Elsa pun menghentikan langkah kaki nya, ia sedikit kaget. Lalu, wanita angkuh itu membalikkan badan, berjalan menurunin anak tangga dan mendekati Brian, mantan suami nya.


"Jangan berbicara sembarangan kau!"

__ADS_1


"Aku berbicara dengan fakta! mau berapa orang lagi yang harus kau korbankan demi keegoisan mu?"


"Aku tidak mengerti apa maksud mu, bicara lah yang jelas!"


"Caca keguguran!"


"Dan itu semua karena mu!" Elsa pun membuang muka nya.


"Itu semua bukan karena ku, mungkin sudah takdir nya begitu," jawab nya dengan santai.


"Jika saja, dia tidak kurang ajar mungkin ia takkan mendapat kan peristiwa yang menyedihkan seperti ini." Brian pun menggeleng, percuma saja berbicara pada Elsa yang mempunyai hati batu seperti itu.


"Dan kau tidak merasa bersalah sedikit pun, di mana hati nurani mu?"


"Tapi jika kau hanya terus menggunakan akal mu, dan tidak menggunakan hati mu. Hidup mu tidak akan tenang, yang ada hanya ada kebencian. Tidak ada kedamaian di hati mu Elsa!"


"Waktu mu sudah selesai, aku fikir kau tak perlu di tunjukkan di mana pintu keluar nya." Elsa pun berjalan masuk ke dalam kamar dengan langkah penuh kesombongan.


Ia masuk ke dalam kamar

__ADS_1


"Dasar bodoh! Cinta akan menghancurkan kalian semua!" ucap nya. Ia mengingat bagaimana masalalu nya yang begitu kelam, Elsa di besarkan tanpa kasih sayang, ia hanya di bekali dengan harta berlimpah sedari kecil. Bahkan, ia pernah mendapat kan pelecehan seksual sewaktu remaja oleh paman nya sendiri. Semenjak kedua orang tua Elsa meninggal dunia, Harta orang tua nya di rampas dengan paksa oleh Paman dan Bibi nya. Bahkan, Elsa harus menjadi pemuas nafsu paman nya yang mafia. Itulah yang membuat Elsa tumbuh menjadi manusia yang kejam dan tak punya hati. Dia menerus kan perusahaan ayah nya sendiri yang sudah bangkrut akibat ulah paman nya. Perusahaan itu berhasil di kelola dengan sukses oleh tangannya sendiri. Ia menjadi wanita yang sangat sombong, penuh dengan dendam dan juga kebencian. Dunia ini terlalu kejam bagi mereka yang lemah. Mengingat paman nya, membuat emosi Elsa semakin memuncak. Ia menghancurkan kan semua barang yang ada di meja rias nya. Ia mengepal kan kedua tangannya, mengingat paman nya yang berengsek itu membuat dirinya semakin membara kemarahan dan kebenciannya.


******


Syifa menyuapi Caca dengan penuh sabar, Syifa berdoa di dalam hati nya agar sang mama bisa pulih seperti dulu. Syifa merindukan mama nya, keceriaan Caca. Caca melamun, hati nya masih sangat terpuruk. Namun, kehadiran Syifa mampu mengobati duka di hatinya.


"Ca"


Caca pun menoleh pada Shinta yang memegang pundak nya, Syifa menggeser kan tubuh nya agar Shinta bisa duduk di samping Caca. Kini, Caca tak mampu menyembunyikan rasa sakit nya. Caca langsung memeluk Shinta dengan erat dan menangis sejadi-jadi nya.


"Aku gagal jadi seorang ibu"


"Aku enggak bisa jaga anakku, Ta" Shinta pun ikut menangis di pelukkan Caca. Ia merasakan betapa terluka nya Caca kehilangan janin yang selama ini Caca tunggu-tunggu.


"Ini salah aku, Ta. Andai aku dengerin Arvan dan tidak emosi yang berlebihan, pasti anakku masih ada di perut sekarang" Caca meluapkan segala kesedihannya di pelukkan Shinta.


"Aku gak berguna banget ya,"


"Ca, sabar ya. Aku paham apa yang kamu rasain, kamu enggak gagal Ca. Ini semua udah takdir, jangan salahi diri kamu begitu!"

__ADS_1


"Tapi aku penyebab nya, Ta. Aku yang menyebabkan anakku meninggal,"


"Enggak Ca! kamu gak salah, bukan kamu penyebab ini semua. Ini memang sudah takdir Tuhan,"


__ADS_2