
Sepanjang jalan Revan dan Shinta tak henti hentinya menangis dan berdoa agar tak ada terjadi apa apa kepada Syifa. Revan terus menangis didalam pelukan anaknya.
"Bangunlah sayang, papa ada disini" menciumi setiap inch wajah anaknya.
"Pak apa kau tak bisa lebih cepat sedikit!" Teriak Revan kepada supir karena melihat darah yang terus saja mengalir dari kepala dan hidung anaknya.
"Bertahan lah nak, papa Mohon jangan tinggalkan papa" Memeluk tubuh anaknya dengan erat.
Tak waktu lama Taxi berhenti di sebuah rumah sakit di kota A. Tak banyak waktu lama Revan keluar dari Taxi, berlari sambil mengangkat tubuh anaknya dengan cepat.
"Dokter....Dokter tolong anakku butuh perawatan"
__ADS_1
"Hey dimana kalian apa kalian tidak liat seorang anak kecil sedang mempertaruhkan nyawanya" ucapnya lagi dengan kalut. Tak butuh waktu lama perawat datang membawa Syifa ke dalam ruangan ICU untuk segera ditindak lanjuti. Begitu banyak darah yang keluar dari kepala dan hitung Syifa .
"Mohon maaf Pak, sebaiknya anda menunggu diluar" Kata seorang perawat tersebut. dan menutup pintu ruangan ICU. Shinta menghampiri Revan karena larinya yang sangat kencang Shinta sampai ketinggalan di belakangan.
"Ba...baggaimmmanaahhh keada....aaan Sy...fa" Bertanya sambil ngos ngosan akibat lelah mengejar Revan yang berlari sangat cepat. Air mata Shinta terus saja meleleh. Revan tak menjawab pertanyaan Shinta, dia hanya menatap sinis wanita yang dihadapannya.
"Ma...maafkan aku hiksss...se..semua ini salah ku" Ucap Shinta sambil menangis.
"Kau tak ada kepentingan lagi disini bukan? kau bisa pergi sekarang" Ucap Revan dengan nada dinginnya tanpa melihat wajah Shinta.
"Aku bilang kau pergi ya pergi sekarang!!!" Berteriak kepada Shinta, orang orang yang ada di sekitar mereka melihat semuanya. Revan ingin menarik tubuh Shinta dan membawanya pergi jauh dari putri nya namun terhenti disaat dokter keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Kalian orang tuanya Syifa?" Tanya dokter
"Iya saya mama nya" Dengan cepat Shinta menjawab
"Bukan! saya papanya" membantah omongan Shinta yang mengaku sebagai ibu dari anaknya.
"Baikla, kondisi anak kalian sangat kritis, karena benturan yang sangat kuat terjadi pembekuan darah di kepala anak kalian, dan pasien sangat banyak mengeluarkan darah, dia harus di operasi dan membutuhkan 4 kantong darah AB- dan kebetulan stok di rumah sakit sedang kosong" Penjelasan dari dokter.
"Bagaimana ini Ya Tuhan, aku tak mampu mendonorkan darah untuk anakku walau golongan darah kami sama" Ucapnya sambil menangis. Revan mempunyai penyakit gagal ginjal dan hal tersebut yang menyebabkan dia tak bisa mendonorkan darah untuk anaknya. Karena fisik seseorang yang lemah tidak bisa mendonorkan darahnya untuk siapapun.
"Golongan darahku AB- dok, ambil saja darahku" ucap Shinta tanpa pikir panjang. Revan sejenak memandang Shinta dan memeluk tubuh Shinta.
__ADS_1
"Terimakasih, kau mau menyelamatkan Puteri ku. Terimakasih" Ucapnya sambil menangis dipelukkan wanita yang tadi sempat dia usir.
"Baiklah, ayo saya akan mengecek darahmu apakah bisa atau tidak" Ajak dokter tersebut, Shinta melepaskan pelukannya dari Revan dan segera mengikuti dokter tersebut. Setelah melakukan pemeriksaan Darah akhirnya Shinta bisa mendonorkan darah nya untuk gadis manis tersebut. Dokter meminta Revan menandatangi surat untuk operasi yang akan di lakukan untuk Syifa. Revan dengan cepat menandatangani surat itu dan dokter segera pergi untuk mempersiapkan keperluan untuk operasi yang akan berlangsung untuk beberapa jam kedepan.